Masjid Pangeran Kuningan, 495 tahun Menyaksikan Perjalanan Jakarta

Selasa 16 Agustus 2022, jadwal meeting di Otista dan Condet selesai lebih cepat, saya jadi punya sisa waktu lebih dari cukup, sebelum jam janjian dengan supplier bunga di Rawa Belong. Saat itu sudah mendekati waktu maghrib, killing time-nya sekalian cari masjid saja lah.

Lalu saya teringat Masjid Al Mubarok, a.k.a Masjid Pangeran Kuningan. Satu dari tiga masjid tua di Jakarta versi buku Akulturasi Arsitektur Masjid-masjid Tua di Jakarta (Ashadi, UMJ Press 2018) yang usianya hampir mencapai 500 tahun, saksi perjalanan bagaimana masjid tidak sekedar menjadi tempat ibadah tapi juga menjadi basis perjuangan komunitas muslim melawan penjajahan.

Makam Pangeran Kuningan di Telkom Hub Building

Makam Pangeran Kuningan pernah saya kunjungi, ceritanya ada di sini.

Tangkapan layar gmaps

Jaraknya kalau dilihat dari peta, hanya sekitar dua ratus meteran saja, tapi karena sudah beda area gedung, harus keluar dulu dan geser ke gedung sebelah.

Untuk bisa berkunjung ke masjid ini, kamu harus masuk dulu ke komplek Museum Satria Mandala, posisinya berada di sisi paling depan halaman museum, kalau dari luar, terlihat di sisi kiri bangunan utama, kelihatan kok dari Jalan Gatot Subroto.

Di dalam, saya muter nyari angle yang memungkinkan saya memotret masjid tanpa harus terlihat bangunan tinggi di sekitarnya, dan ngga nemu! Karena posisinya yang bener-bener dipepet Capital Place dan Four Seasons , ngga apa-apa juga sih, malah jadi unik.

Makam pengikut dan keturunan Pangeran Kuningan

Persis di samping masjid ada sepetak komplek makam para pengikut dan keturunan dari Pangeran Kuningan yang berperan mengurus dan memakmurkan masjid. Menariknya, keturunan yang masih hidup di jaman sekarang masih meneruskan tradisi meskipun sudah sejak tahun 1990an tak lagi tinggal di sekitar masjid.

Seorang pengurus yang saya temui hari itu memperkenalkan saya dengan beberapa orang yang sekarang berdomisili di Lenteng Agung, Jagakarsa, Depok, yang meski harus menempuh jarak cukup jauh, tetap hadir ke masjid karena keterikatan batin yang kuat. Mereka bahkan menghendaki untuk dimakamkan di makam masjid, kelak saat berpulang.

Sayangnya, jejak tuanya masjid ini hanya terasa di makam. Bangunan aslinya sudah ngga ada, wajar saja, karena masjid aslinya hanya dibangun dari kayu, yang tentunya sulit bertahan sejak tahun 1527.

Masjid ini dulu didirikan setelah rombongan Pangeran Kuningan selesai menunaikan tugas mendukung pasukan Demak dan Cirebon dibawah komando Fatahillah, merebut Sunda Kelapa dari Pajajaran. Alih-alih kembali ke Kuningan, mereka memutuskan menuju ke pedalaman selatan Jayakarta menyusuri aliran Kali Krukut, menetap di sana, untuk ikut menjaga Jayakarta dari potensi bahaya dari selatan. Selanjutnya wilayah ini yang kita kenal sebagai Kuningan, hingga sekarang.

Kok sekarang bisa di dalam komplek Satria Mandala? Saya juga belum nemu penjelasannya. Yang saya tahu, Museum Satria Mandala ini dulunya Wisma Yaso, kediaman Soekarno dan Ratna Sari Dewi, bisa jadi dulu waktu beliau memiliki lahan seluas lebih dari lima hektar ini sudah berikut masjidnya. Jadi saat Wisma Yaso diambil alih pemerintah, masjidnya ikut sekalian.

By the way, siapa sih orang Jakarta yang ngga pernah melintas di Gatot Subroto? Kapan-kapan mampir sholat di sini deh, masjidnya adem dan bersih, bonusnya lumayan dapat view bagus, apalagi menjelang senja. Kalau mau ke masjidnya saja, kamu ngga perlu membayar tiket apa pun kecuali parkir.

Teman-teman yang ngga sholat, boleh mampir juga kok, kalau ada waktu senggang, sekalian berkunjung ke museum, makan di resto Jepang atau ngopi di taman dengan view spektakuler. Kapan-kapan saya mau cobain ke sini di waktu Subuh. Bisa ngga ya? 😁

Leave a Comment