Seseorang yang Hilang di Tengah Keramaian: Membaca Kasus Penyekapan Bandung

Kasus penyekapan di Bandung menyisakan pertanyaan yang lebih besar daripada sekadar bagaimana pelaku bisa melakukan kekerasan selama bertahun-tahun.

Bagaimana seseorang bisa perlahan menghilang dari keluarga, teman, dan masyarakat tanpa benar-benar terlihat?

Artikel ini mengulas tanda-tanda yang kerap terabaikan, peran keluarga dan komunitas sebagai ruang deteksi dini, serta mengapa kepedulian sederhana bisa menjadi pembeda antara seseorang yang bertahan sendirian dan seseorang yang akhirnya menemukan kembali dirinya yang hilang.

Vihara Tri Ratna: Penjaga Jejak Sentiong yang Terhapus dari Ingatan

Di tengah padatnya kawasan Lautze, Vihara Tri Ratna berdiri sebagai lebih dari sekadar rumah ibadah tua. Ia menyimpan sebuah prasasti memorial pemakaman dan menjaga ingatan tentang sentiong besar yang pernah membentang di kawasan ini. Ketika makam-makam telah hilang ditelan pembangunan kota, vihara dan prasastinya tetap menjadi penjaga ingatan kolektif bahwa Jakarta pernah memiliki lanskap pemakaman Tionghoa yang kini nyaris terlupakan.

Masjid Lautze: Ketika Sebuah Ruko Menjadi Jembatan Antara Islam dan Identitas Tionghoa

Masjid Lautze tak sekedar menjadi tempat ibadah dan konversi keyakinan. Ia juga menjadi penanda bagaimana dua budaya bertaut, membentuk satu budaya baru yang ikut memperkaya keragaman budaya Jakarta sebagai melting pot, tempat bertemunya berbagai macam orang dari berbagai macam latar budaya

Nasi Goreng Merah dan Rasa Pulang ke Surabaya

Untuk sebagian orang, ingatan Surabaya mungkin tentang panas kotanya atau keras logat bicara warganya.

Tapi bagi yang pernah tumbuh atau singgah di sana, kuliner Surabaya adalah satu hal yang menetap di ingatan. Salah satunya nasi goreng merah dengan saus tomat khas Surabaya dan aroma smoky bawang putih, yang sulit ditemukan di kota lain.

Dari Trisakti: Sebuah Lubang Peluru yang Tak Hanya Menganga di Jendela, Tapi di Hati Bangsa

Kunjungan ke Museum Tragedi 12 Mei 1998 di Kampus Trisakti menghadirkan kembali ingatan tentang peluru, mahasiswa yang gugur, dan reformasi yang belum sepenuhnya tuntas.

Dari lubang bekas peluru di kaca kampus hingga Aksi Kamisan yang masih berlangsung hari ini, ada pertanyaan tentang keadilan yang belum selesai dijawab negara.