Same Same Bakery: Datang Untuk Roti, Pulang Bawa Story

Rutinitas harian, kalau selalu dituruti rupanya tidak akan pernah memberi jeda. Harus saya sendiri yang berusaha menyelipkan satu hari untuk bertemu kawan. Tanpa agenda, tanpa alasan perayaan, cuma bertemu lalu membahas hidup masing-masing, saling mengambil manfaat dari cerita hidup meski belum tentu kami jalankan, dan ini yang paling sering dilakukan akhir-akhir ini, mengomentari kebijakan pemerintah seolah besok pagi kami akan dilantik menjadi staf ahli menteri. 

Untuk pertemuan kali ini, pilihan kami jatuh ke Kota Tua, salah satu spot favorit saya di Jakarta. Satu hal yang saya sukai dari menjelajahi kawasan ini selain tentu saja bangunan-bangunan tuanya, tapi juga kejutan-kejutan kecil yang muncul di antaranya. Ada gedung yang dulunya kantor dagang, kini menjadi galeri. Ada gudang tua yang berubah menjadi ruang kreatif. Belakangan, muncul toko roti modern yang memilih menempati salah satu bangunan di kawasan ini: Same Same Bakery, di Gedung Kerta Niaga.

Adaptive Reuse yang Patut Diapresiasi

Di balik deretan bangunan tua yang masih berdiri kokoh, tersimpan jejak perkembangan Batavia sebagai salah satu kota dagang terpenting di Asia. Namun seiring perpindahan pusat perdagangan Jakarta ke arah selatan, banyak bangunan di Kota Tua kehilangan fungsi aslinya. Sebagian kosong terbengkalai, Gedung Kerta Niaga termasuk salah satu yang beruntung, menemukan kehidupan baru, menjadi rumah bagi Same Same Bakery dan Acaraki, melalui konsep adaptive reuse, yaitu memanfaatkan kembali bangunan lama untuk fungsi yang berbeda tanpa menghilangkan nilai historisnya.

Memasuki bangunannya, kita akan langsung disambut wangi roti. Berbeda dengan kebanyakan bakery yang biasanya menggunakan etalase kaca panjang dan memungkinkan pengunjung memilih roti dari dekat, di sini roti-roti disusun di atas meja display yang berada di belakang area kasir. Pengunjung hanya dapat memilih lewat display di daftar menu, tanpa dapat mendekatinya secara langsung. Saya menduga konsep ini dipilih untuk menjaga kebersihan, terlebih area display tersebut menyatu dengan ruang produksi di lantai satu. 

Melihat deretan roti yang baru selesai dipanggang, dilatarbelakangi aktivitas produksi di belakangnya, saya senyum lebar, membayangkan andai saya memasuki gedung ini di tahun 1912, yang akan saya jumpai tentu saja aktivitas pegawai kantor Koloniale Zee en Brand Assurantie Maatschappij, sebuah perusahaan asuransi yang melayani risiko pelayaran dan kebakaran.

Perjalanan Sejarah Gedung Kerta Niaga

Gedung Kerta Niaga berdiri di tepi Kali Besar, kawasan yang pada awal abad ke-20 menjadi kawasan prestisius, jantung perdagangan Batavia. Bangunan ini merupakan karya biro arsitektur Ed. Cuypers & Hulswit, firma ternama yang juga merancang sejumlah bangunan penting di Hindia Belanda. Lokasinya yang berada di dekat Pelabuhan Sunda Kelapa bukanlah kebetulan. Pada masa itu, Kali Besar dipenuhi kapal dagang, gudang, dan kantor perusahaan ekspor-impor, sehingga perusahaan asuransi maritim memilih berkantor sedekat mungkin dengan pusat aktivitas ekonomi tersebut.

Setelah Indonesia merdeka dan pemerintah melakukan nasionalisasi terhadap berbagai perusahaan milik Belanda, fungsi gedung ini pun berubah. Sekitar tahun 1960an, bangunan tersebut menjadi kantor Perusahaan Negara (PN) Kerta Niaga, sebuah BUMN yang bergerak di bidang perdagangan. Nama Kerta Niaga kemudian melekat pada gedung ini hingga sekarang. 

Lebih dari satu abad, takdir Gedung Kerta Niaga rupanya tak jauh dari urusan perdagangan, kalau dulu mengurusi asuransi dan perdagangan komoditas, sekarang ada perdagangan roti! 

Bagaimana Rotinya? 

Dari sisi pilihan menu, Same Same Bakery juga cukup memanjakan pengunjung. Ada sekitar 20 jenis yang tercantum di daftar menu dan sepertinya masih ada beberapa varian lain yang belum masuk ke dalam daftar. Pilihannya pun berimbang antara roti manis dan gurih, sehingga baik pencinta isian cokelat dan buah maupun penggemar roti dengan isian daging, keju, atau savory lainnya sama-sama punya banyak opsi. Nama-nama rotinya pun dibuat kreatif dan menggugah selera. Jujur saja, baru membacanya sudah cukup membuat saya sibuk membayangkan rasanya.

Namun, ada satu hal yang menurut saya menjadi nilai tambah terbesar dari bakery ini: semua roti dibanderol dengan harga yang sama. Konsep sederhana ini ternyata sangat membantu. Memilih roti saja sudah cukup membuat bingung karena semuanya terlihat menarik. Untungnya, kita tidak perlu menambah satu pertimbangan lagi dengan membandingkan harga setiap jenis roti. Tinggal pilih sesuai selera, tanpa harus bolak-balik melihat harga. Selain aneka roti, tersedia pula beberapa pilihan minuman. Memang tidak terlalu banyak, tetapi sudah lebih dari cukup untuk menemani menikmati roti sambil bersantai.

Dari sekian banyak pilihan, saya akhirnya memilih dua jenis roti yang mewakili dua kubu: satu gurih dan satu manis. Untuk yang gurih, pilihan saya jatuh pada Baked Karaage Sandwich, roti lembut bertabur wijen yang diisi potongan ayam karaage, kol ungu yang renyah, dan olesan mayones yang creamy. Sementara untuk pencuci mulut, saya memilih Pandoro Vanilla, roti bergaya Italia dengan tekstur yang lembut dan ringan, disajikan dengan taburan gula halus serta isian krim vanila yang tidak berlebihan.

Ternyata keputusan itu tidak saya sesali. Keduanya benar-benar masuk dengan selera saya. Baked Karaage Sandwich terasa mengenyangkan tanpa membuat enek, sedangkan Pandoro Vanilla menawarkan rasa manis yang pas untuk menutup sesi ngemil. Sebagai pendamping, saya memilih menu yang paling aman, segelas iced latte. Tidak ada rasa yang mengejutkan, tetapi racikan kopinya seimbang dan cukup nikmat untuk menemani dua roti yang justru menjadi bintang utamanya. Air putih dingin disediakan gratis untuk yang masih haus atau ingin menetralkan lidah.

Menikmati Roti dengan Cara yang Berbeda

Menikmati roti di gerai yang modern mungkin sudah menjadi pengalaman yang cukup umum saat ini. Namun, duduk menikmati roti di dalam sebuah bangunan yang telah berdiri lebih dari satu abad menghadirkan sensasi estetik yang berbeda, sulit ditemukan di toko roti lain. Di Same Same Bakery, dalam satu kesempatan, saya bisa menikmati sepotong roti dan hasil karya biro arsitektur Cuypers & Hulswit, salah satu firma arsitek terkemuka di Hindia Belanda pada awal abad ke-20. Karya-karya mereka banyak menghiasi Batavia dan dikenal sebagai bagian dari arsitektur Eropa yang beradaptasi dengan iklim tropis Hindia Belanda.

Alih-alih membangun interior baru yang menutupi seluruh karakter lama, pengelola justru mempertahankan banyak elemen asli bangunan. Kolom penopang ruang berlangit-langit tinggi menciptakan kemegahan sekaligus anggun, deretan jendela besar membiarkan cahaya alami masuk dengan leluasa, dinding bata dibiarkan terekspos. Sungguh, yang dinikmati di sini bukan hanya roti dan kopi, melainkan juga sebuah karya arsitektur yang berhasil bertahan melintasi zaman dan kini menemukan kehidupan baru.

Ketika Bangunan Bersejarah Kembali Bernapas

Keberadaan Same Same Bakery bukan sekadar menambah pilihan tempat bersantai di Kota Tua, tetapi juga menjadi contoh bagaimana sejarah bangunan cagar budaya tidak selalu harus dipelajari melalui panel informasi museum. Bangunan bersejarah tidak harus menjadi monumen yang membeku. Dengan pengelolaan yang tepat, ia dapat kembali menjadi bagian dari kehidupan kota, menghubungkan masa lalu dengan generasi hari ini. Model seperti ini telah banyak diterapkan di berbagai kota bersejarah dunia. Bangunan lama tetap dilestarikan, tetapi diberi fungsi baru sehingga biaya perawatannya dapat ditopang oleh aktivitas ekonomi.

Saya berharap Same Same Bakery bisa berumur panjang. Bukan hanya karena rotinya enak dan rasanya masih banyak varian roti yang belum sempat saya cicipi pada kunjungan kemarin. Tapi juga supaya kita semua bisa lebih lama menikmati hasil karya arsitektur ini tetap terjaga dan terawat rapi. Kalau memungkinkan, datanglah pada hari kerja karena suasananya cenderung lebih nyaman dan tidak terlalu padat.

Urusan transportasi pun tidak perlu khawatir, kawasan Kota Tua kini mudah dijangkau dengan berbagai pilihan angkutan umum yang nyaman, sehingga lebih baik meninggalkan kendaraan pribadi daripada harus menghabiskan waktu mencari tempat parkir. Serius, setelah memasuki kawasan Kota Tua, yang paling menyenangkan adalah berjalan kaki menikmati suasana sampai akhirnya datang untuk roti, pulang bawa story. 

📍Same Same Bakery
Instagram: samesamebakery
Gedung Kerta Niaga
Jl. Pintu Besar Utara No.11B
Kawasan Kota Tua
Jakarta Barat

Leave a Comment