Smiljan Pelopor: Coffee Shop Baru di Menteng dengan Konsep Rumah dan Perpustakaan

Belakangan ini sulit membuka media sosial tanpa menemukan satu coffeeshop ini berseliweran.

Biasanya, saya sangat menghindari datang ke tempat yang sedang ramai-ramainya dikunjungi atau diperbincangkan, tapi Kamis siang kemarin, karena ada kegiatan yang mengharuskan saya lewat, masa iya ngga melipir, akhirnya saya memutuskan mampir ke Smiljan Pelopor.

Ternyata… saya mendapat pengalaman yang baru pertama kali saya alami di coffee shop mana pun di Jakarta. Saya harus lepas sepatu!

Ini untuk masuk ke area dalam ruangan saja ya, dan alasannya sederhana. Smiljan Pelopor punya area perpustakaan, di mana sebagian area duduknya menggunakan konsep lesehan, wajar lah kalau pengunjung diminta menjaga melepas alas kaki demi kebersihan ruang bersama. Tersedia sandal untuk dipakai di dalam ruangan juga kok, aman.

Konsep itu terasa selaras dengan bangunan yang ditempati Smiljan Pelopor. Sebuah rumah tua yang dari karakter arsitekturnya, diduga berasal dari masa awal perkembangan kawasan Menteng pada dekade 1920an ketika kawasan tersebut dikembangkan sebagai permukiman elite pada masa kolonial.

Banyak karakter rumah lama yang masih dipertahankan sehingga suasananya lebih terasa seperti bertamu ke rumah daripada datang ke sebuah coffee shop. Perpustakaan ini langsung membuat saya jatuh cinta, waiting list yang cukup panjang karena seluruh meja penuh, seketika tak jadi masalah.

Meski tak terlalu besar, Smiljan Pelopor punya ruang baca yang paling terasa terasa nyaman dan mengundang orang untuk berlama-lama. Dan koleksi bukunya pun ngga kaleng-kaleng, bukan sekadar pengisi rak. Saya menemukan berbagai buku sejarah, seni, budaya, politik, yang rasanya dipilih dengan cukup serius. Bahkan, perpustakaan ini bisa menjadi alasan tersendiri untuk datang ke Smiljan Pelopor.

Saya sangat suka dengan cara Smiljan Pelopor mengedukasi pengunjung yang mungkin belum terbiasa dengan kebiasaan di perpustakaan. Saya maklum, dalam kondisi lagi viral-viralnya, pengunjung pasti sangat heterogen. Pengunjung yang berniat membaca pasti tidak nyaman dengan pengunjung yang berisik dan ribet geser sana sini berfoto, tapi menegur langsung juga bukan pilihan bijaksana.

Saking betahnya, sampai hampir satu jam menunggu meja kosong di perpustakaannya, akhirnya saya putuskan untuk take away segelas kopi saja, karena harus meninggalkan lokasi untuk mengejar agenda berikutnya.

Jadilah ini pengalaman pertama saya (lagi), datang ke sebuah kedai kopi tanpa berhasil memesan apa pun untuk dinikmati di lokasi. Bukan karena kopinya habis. Bukan pula karena dapurnya tutup. Melainkan karena tempatnya benar-benar penuh.

Sedikit kecewa. Tapi salah saya juga, berkunjung tanpa dengan strategi waktu yang tepat. Namun justru ini menjadi alasan untuk kembali lagi di lain waktu. Masih ada secangkir kopi yang belum sempat saya cicipi sambil duduk tenang, masih banyak buku yang rasanya perlu saya jelajahi lebih lama.

Tips Berkunjung

Saya menyarankan untuk tidak membawa kendaraan pribadi, terutama mobil. Bahkan untuk motor pun pilihan parkir sangat terbatas. Kalau harus berkunjung dengan kendaraan pribadi, bisa parkir di area RS Bunda Jakarta, kemudian berjalan kaki sekitar 200 meter.

Tapi opsi paling praktis, naik transportasi umum tentu saja. Relatif mudah dijangkau dengan commuter line atau Trans Jakarta kok. Dan kalau ingin benar-benar menikmati suasananya, pilihlah waktu di luar jam-jam ramai. Atau tunggu nanti saat masa-masa viral sudah mulai reda. Dengan begitu, kesempatan menikmati perpustakaan, suasana rumah tua, sekaligus secangkir kopi tentu akan jauh lebih menyenangkan.

📍Smiljan Pelopor
Jl. Prof. Moh. Yamin No.11, Menteng,
Jakarta Pusat

Jam operasional: 07.00 - 22.00

Leave a Comment