Ali Sadikin dan Seni Budaya: Warisan Terbesar untuk Jakarta

Taman Ismail Marzuki telah menjadi bagian penting dari kehidupan Jakarta. Di sanalah warga menonton pertunjukan teater, menikmati pameran seni, menghadiri diskusi, berkumpul dengan berbagai komunitas kreatif atau sekadar menghabiskan sore di kawasan Cikini.

Namun, tidak banyak yang mengetahui bahwa pusat kesenian ini lahir dari keberanian seorang gubernur yang memiliki pandangan berbeda tentang pembangunan. Gubernur itu adalah Ali Sadikin.

Karya alumni IKJ dalam rangkaian acara 100 Tahun Ali Sadikin

Melalui Pameran “Pasca Gita (Jaya): Maecenas dan Kemandirian Seni”, yang diselenggarakan untuk memperingati 100 tahun kelahirannya, publik diajak melihat kembali salah satu warisan terbesar Bang Ali, sebuah cara berpikir: bahwa kebudayaan adalah bagian penting dari pembangunan kota.

Seorang Gubernur yang Berani Investasi pada Kebudayaan

Saat Ali Sadikin memimpin Jakarta pada tahun 1966-1977, pembangunan fisik memang menjadi kebutuhan mendesak. Jalan, sekolah, rumah sakit, dan berbagai fasilitas umum harus dibangun.

Namun, Bang Ali melihat bahwa sebuah kota tidak cukup hanya berdiri di atas beton. Ia percaya bahwa kota juga membutuhkan ruang bagi imajinasi, kreativitas, dan kebebasan berekspresi.

Saat itu, banyak seniman Jakarta kehilangan ruang berkarya setelah dinamika politik 1965. Karena itulah, ketika banyak orang mungkin hanya memikirkan pembangunan infrastruktur, Ali Sadikin justru mendorong lahirnya pusat kesenian yang kelak menjadi ikon Jakarta.

Dari Sebuah Gagasan Menjadi Pusat Seni Budaya

Ali Sadikin mengundang sejumlah tokoh seni dan budaya, seperti Mochtar Lubis, Asrul Sani, Usmar Ismail, D. Djajakusuma, Rudy Pirngadie, Gajus Siagian, dan Zulharman Said untuk merumuskan konsep sebuah pusat kesenian bagi Jakarta. Naskah awal konsep tersebut kemudian menjadi dasar pembentukan TIM.

Di sinilah letak kepemimpinan Ali Sadikin. Ia tidak merasa harus menjadi orang yang paling memahami dunia seni. Ia mempercayakan penyusunan konsep kepada para seniman, sementara dirinya mengambil peran sebagai eksekutor: menyediakan lahan bekas Kebun Binatang Cikini, mengalokasikan anggaran, menetapkan kebijakan, dan memastikan gagasan itu benar-benar terwujud.

Tanpa keberanian mengambil keputusan, konsep itu mungkin hanya akan menjadi dokumen. Tanpa para seniman, TIM akan jadi proyek pemerintah. TIM lahir karena keduanya bertemu: visi seorang pemimpin dan gagasan komunitas seni.

Mengapa Pameran Ini Menggunakan Istilah Maecenas?

Kurator pameran menyebut Ali Sadikin sebagai seorang maecenas. Istilah ini berasal dari Romawi Kuno, yang berarti seseorang yang menggunakan kekuasaan, pengaruh, atau sumber daya untuk mendukung berkembangnya seni dan kebudayaan.

Ia menggunakan kewenangannya sebagai gubernur untuk menciptakan ruang bagi seni berkembang, bukan sekadar membangun gedung, tetapi juga melahirkan institusi seperti Dewan Kesenian Jakarta yang hingga kini masih berperan dalam kehidupan seni Indonesia.

Warisan Terbesar Ali Sadikin

Banyak pemimpin meninggalkan bangunan. Ali Sadikin meninggalkan ekosistem. Andai Jakarta tak pernah memiliki pemimpin seperti Ali Sadikin, boleh jadi Jakarta tetap menjadi kota metropolitan. Gedung pencakar langit tetap berdiri. Jalan raya tetap bertambah. Transportasi tetap berkembang.

Namun bisa saja Jakarta tumbuh sebagai kota yang hanya kaya infrastruktur, tetapi miskin ruang budaya. Tanpa dukungan terhadap komunitas seni, tanpa keberanian memberi ruang bagi para seniman untuk berekspresi, Jakarta mungkin hanya menjadi kota yang sibuk bekerja, tetapi kehilangan tempat untuk merawat gagasan, kreativitas, dan identitasnya yang utuh.

Ia menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya bertugas membangun jalan dan jembatan, tetapi juga membangun ruang tempat masyarakat berpikir, berkarya, dan berdialog. Warisan seperti ini sungguh tak ternilai harganya.

Haruskah Seni Bergantung Pada Pemimpin

Menariknya, pameran tidak hanya mengajak kita menghargai jasa seorang pemimpin, tapi juga mengajukan pertanyaan yang sangat relevan untuk masa kini.

Apakah maecenas akan selalu melekat pada figur, atau justru harus dilekatkan pada sistem?Haruskah tumbuh berkembangnya ruang seni bergantung pada the next Ali Sadikin, atau negara seharusnya membangun sistem yang memastikan seni dan kebudayaan tetap hidup, siapa pun yang sedang memimpin?

Pengantar dari kurator pameran

Leave a Comment