Vihara Tri Ratna: Penjaga Jejak Sentiong yang Terhapus dari Ingatan

Kalau ditanya di mana lokasi sentiong atau pemakaman Tionghoa besar di Jakarta pada masa lalu, besar kemungkinan banyak orang akan menjawab Kramat Sentiong. Kawasan itu bahkan masih bertahan hingga hari ini, terabadikan menjadi nama jalan dan stasiun kereta. Jejaknya masih mudah dikenali, ingatan bahwa wilayah tersebut pernah memiliki hubungan erat dengan tradisi pemakaman masyarakat Tionghoa di Batavia belum pudar.

Namun sejarah ternyata menyimpan kisah-kisah tentang perjalanan Jakarta yang tak banyak diceritakan.

Di tengah kepadatan Jakarta Pusat, tepatnya di Jalan Lautze No. 64, berdiri rumah ibadah yang dari luar tampak sederhana. Namun usia dan sejarahnya menjadikannya salah satu bangunan keagamaan Tionghoa tertua yang masih bertahan di Jakarta: Vihara Tri Ratna.

Peta kawasan Lautze tahun 1912

Dahulunya, di daerah vihara ini, membentang dari Gunung Sahari hingga Dwiwarna, terdapat pemakaman Tionghoa alias sentiong. Pada prasasti yang berdiri di halaman depan vihara disebutkan bahwa lahan mula-mula dibuka pada tahun 1761 sebagai area pemakaman bagi komunitas Tionghoa Batavia.

Prasasti ini juga memuat teks panjang beraksara Tionghoa yang ternyata adalah puluhan bahkan ratusan nama dalam susunan kolom vertikal. Bentuknya mengingatkan pada prasasti-prasasti komunitas Tionghoa abad ke-18 yang lazim digunakan untuk mencatat sejarah pendirian suatu tempat, pengumpulan dana, serta nama para saudagar etnis Tionghoa yang pada masa itu ikut terlibat.

Di atas sebagian lahan tersebut kemudian dibangun sebuah kelenteng pada tahun 1789, yang dikenal sebagai Thie Chang Yuan dan dibaktikan kepada Ksitigarbha Bodhisattva, yang dalam tradisi Tionghoa disebut Ti Cang Wang Pusa.

Banyak yang menyebutnya sebagai Dewa Raja Neraka, namun sesungguhnya dalam tradisi Buddhis Mahayana, Ksitigarbha dikenal sebagai bodhisattva yang berikrar menolong makhluk-makhluk yang masih terjebak dalam penderitaan serta membimbing arwah yang telah meninggal.

Vihara ini tidak hanya dikhususkan bagi penganut Buddha saja karena selain patung Buddha, terdapat juga patung dewa-dewa yang biasa dipuja masyarakat Tionghoa.

Terdapat juga sebuah ruangan khusus untuk mengirim doa pada arwah bagi para penganut Konghucu yang disebut sebagai tempat persemayaman arwah.

Kisah latar belakang tersebut membuat keberadaan vihara ini terasa berbeda dibanding banyak rumah ibadah Tionghoa lainnya di Jakarta. Jika sebagian besar kelenteng tumbuh di pusat perdagangan atau permukiman, Vihara Tri Ratna justru lahir dari lingkungan yang erat kaitannya dengan kematian, penghormatan leluhur, dan ritual bagi mereka yang telah berpulang.

Keberadaan vihara dan prasastinya, saat ini menjadi penting. Tanpa keberadaan keduanya, sulit sekali membayangkan kondisi kawasan Lautze saat ini dibandingkan dengan hampir tiga ratus tahun lalu. Vihara dan prasasti ini dapat dianggap sebagai salah satu bukti fisik yang menghubungkan kawasan Lautze, Sawah Besar, yang sekarang dipenuhi pertokoan, rumah tinggal, gudang, dan lalu lintas yang nyaris tak pernah sepi, dengan sentiong tua yang pernah membentang luas di sana.

Seiring pertumbuhan Batavia menjadi Jakarta modern, pemakaman tersebut perlahan menghilang. Permukiman mulai bermunculan sejak abad ke-19. Pada abad ke-20, kebutuhan ruang kota semakin besar. Jalan-jalan dibangun, kawasan perdagangan berkembang, dan lahan pemakaman satu per satu berubah fungsi. Menjelang akhir 1970-an, sebagian besar jejak fisik pemakaman tersebut telah lenyap.

Di situlah nilai sejarah terbesar Vihara Tri Ratna berada. Ia bukan sekadar bangunan ibadah berusia lebih dari dua abad. Ia adalah penjaga ingatan kolektif atas keberadaan sentiong tua yang pernah menghampar di Sawah Besar.

📍 Vihara Tri Ratna
Jl. Lautze Dalam No.64,
Kartini, Sawah Besar,
Jakarta Pusat






Leave a Comment