Satu Hari di Rengasdengklok, Pengubah Arah Kisah Kemerdekaan Indonesia

Membaca lagi kisah peristiwa penculikan Soekarno Hatta ke Rengasdengklok, saya jadi senyum-senyum sendiri.

Bisa membayangkan gemesnya para kelompok muda pejuang kemerdekaan menghadapi kelompok tua yang dirasa terlalu lambat ambil tindakan memanfaatkan momen kocar-kacirnya Jepang pasca bom atom Hiroshima Nagasaki untuk segera memproklamirkan kemerdekaan.

Tapi juga bisa mengerti kehati-hatian kelompok tua yang ngga mau salah ambil langkah lalu mengorbankan jalan panjang perjuangan mereka meraih kemerdekaan.

Dan cerita itu berputar lagi di benak saya, saat mengemudi dari Jakarta. Rengasdengklok memang tidak terlalu jauh, tapi juga ngga dekat. Dan untuk lebih menghayati suasana saat itu, saya memilih jalur tanpa tol mulai dari Bekasi Timur.

Jalur menuju Rengasdengklok

Menyusuri jalur pantura dari Bulak Kapal, terus ke timur menuju Tambun, Cibitung, Cikarang, hingga Karawang, lalu berbelok ke utara menuju Rengasdengklok.

Kondisi jalan hampir sepanjang perjalanan

Jarak sekitar 65 kilometer-an dengan kondisi jalan yang sembilan puluh persen mulus, saya tempuh dalam sekitar dua jam perjalanan santai. Jadi mikir, dulu jalannya kaya apa ya? Pasti ngga macet, tapi pasti juga ngga mulus. Berapa lama waktu tempuh dari Jakarta di pagi buta.

Lokasi Rumah Sejarah Rengasdengklok di Dusun Bojong

Perjalanan ini akhirnya berakhir saat saya berbelok masuk ke jalan kecil di Dusun Bojong, tempat rumah ini berada. Kalau hampir delapan puluh tahun setelah merdeka saja masih sesepi ini, seperti apa suasana masa itu ya?

Posisi rumah ini juga sudah bukan persis di lokasi aslinya yang lebih dekat dengan sungai. Sengaja dipindahkan karena kuatir abrasi sungai lama-lama akan membuat posisinya berada di bibir sungai dan berpotensi longsor atau hanyut. Namun bentuk aslinya tetap dipertahankan, termasuk ubin lantainya. Barang-barang yang ada di lokasi semua replika, karena yang asli kabarnya sudah disimpan di museum.

Saya parkir di halaman samping rumah, suasana hari itu sangat cerah (baca: panas). Sebuah pohon di halaman lumayan bikin teduh. Ajaibnya, begitu melangkah masuk ke dalam rumah, panas di luar seperti tertahan, yang terasa hanya adem, bikin betah.

Rumah ini milik Djiau Kie Siong, warga asli Dusun Bojong yang merupakan seorang petani, pedagang bambu dan penambang pasir di Citarum. Hingga hari ini kondisinya masih dirawat baik oleh cucunya. Beliau menyambut hangat semua pengunjung yang datang, dengan semangat menceritakan kisah 16 Agustus 1945, juga bagaimana beliau bertahan tanpa banyak dukungan Pemerintah, mengandalkan kotak sumbangan yang sifatnya sukarela. Saya kok selalu terharu ya kalau bertemu atau mendengar kisah-kisah tanpa pamrih dari anak bangsa.

Mengapa Rengasdengklok dan mereka ngapain aja selama diasingkan bisa dibaca di sini. Intinya sih, ngga ada! Hingga Achmad Soebardjo datang menjemput, beliau meyakinkan Soekarno Hatta untuk segera kembali ke Jakarta, dan mempersiapkan kemerdekaan setelah menginformasikan kondisi terakhir.

Meski nampaknya tak terjadi apa-apa di Rengasdengklok, namun cerita tentang kemerdekaan kita bisa jadi akan berbeda bila kelompok muda tak pernah melakukan ini semua. Perjalanan napak tilas ini membuat saya belajar lagi, bahwa kemerdekaan kita benar-benar hasil dari perjuangan.

Kamar ini jadi saksi, betapa berat rasanya jadi Soekarno, dalam keadaan sakit malaria, beliau harus menempuh perjalanan pulang pergi Jakarta Rengasdengklok Jakarta, lalu malamnya masih begadang di rumah Laksamada Maeda untuk menyusun naskah Proklamasi.

Di kamar satu lagi, saya membayangkan betapa berat rasanya jadi Hatta, yang hingga usia empat puluhan, saat Soekarno sudah dua kali menikah dan punya satu anak, ia masih membujang karena tak mau membagi waktu dengan perjuangannya untuk Indonesia.

Kami sudah pernah berkunjung ke sini? Sempatkan deh…

Leave a Comment