Sore itu Tipar terasa biasa. Suasananya tak jauh beda dengan suasana beberapa tahun lalu, saat ruas jalan ini masih akrab karena rutinitas antar jemput anak yang sekolah di SMA Negeri 99 Jakarta, tak jauh dari lokasi.
Yang membuatnya berbeda, ketika di satu ruas jalan, warna merah menyala menangkap pandangan. Deretan lampion tergantung di salah satu sisi jalan, beberapa puluh meter hingga akhirnya sampai ke gerbang, dan terlihat atap melengkung bertingkat, ornamen keemasan menghias tepian.
Namun justru di situlah letak ceritanya.

Masjid Tjia Khang Hoo berdiri di sebuah gang di Jalan Tipar, Pekayon, Pasar Rebo, Jakarta Timur. Gangnya sekarang dinamai Jalan H. Soleh, sesuai dengan nama pemilik lahan. Ini adalah kisah sebuah rumah yang berubah arah takdir. Dahulu, lahan ini adalah kediaman keluarga, yang bertransformasi menjadi ruang ibadah.
Pembangunannya dilakukan pada Oktober 2022. Gagasannya lahir dari keluarga Tjia sendiri, terutama Budianto Tjia bersama putranya, Muhammad Wildan Hakiki yang kini menjadi Ketua Dewan Kemakmuran Masjid.
Mereka ingin mengenang sosok kakek mereka, Tjia Khang Hoo, seorang keturunan Tionghoa yang telah lama menetap di Pekayon dan dikenal berinteraksi erat dengan warga setempat, khususnya komunitas Betawi. Ia kemudian memeluk Islam, berganti nama menjadi Abdul Soleh, dan bahkan menjalankan ibadah haji di Tanah Suci. Nama Tjia Khang Hoo, kini terpatri sebagai identitas masjid.
Bukan proyek besar tentu saja, melainkan ikhtiar keluarga yang tumbuh dari ingatan dan rasa hormat. Masjid ini bukan dibangun untuk memamerkan kemegahan, tetapi untuk merawat warisan.



Arsitekturnya sengaja mempertahankan napas Tionghoa. Warna merah yang berani, aksen kuning emas, bentuk atap berundak yang mengingatkan pada pagoda klasik.
Dinding dan pintu-pintu semua bernafaskan kultur Tionghoa, warna merah, kuning dan emas tampak mendominasi. Menyajikan penampilan yang menarik.




Kalau tak memperhatikan betul papan namanya, pasti banyak yang terkecoh. Karena sekilas, bangunan itu lebih mirip kelenteng daripada masjid.
Namun ketika melangkah masuk, suasana berubah, shaf dengan karpet tebal, empuk dan wangi tersusun rapi. Mihrab dominan emas berkesan mewah menghadap kiblat. Area jamaah laki-laki dan perempuan diberi sekat yang tak terlalu mengasingkan. Semua nyaman.



Dua dunia yang sering dianggap berbeda ternyata bisa berbagi satu ruang tanpa saling meniadakan. Masjid ini seperti kalimat yang ditulis dengan dua aksara sekaligus.
Sarana pendukung seperti tempat wudhu, toilet, penyimpanan sepatu dan area parkir sangat memadai. Bersih dan nyaman.

Hari ini, masjid ini aktif digunakan untuk salat lima waktu dan berbagai kegiatan keagamaan. Tak hanya digunakan oleh warga sekitar, keberadaannya di daerah yang bukan kawasan Pecinan menjadi menarik siapa pun yang mengetahui keberadaannya untuk datang berkunjung, baik untuk ibadah atau sekedar melihat keunikannya. Perhatikan saja panduannya ya.

Karena saya berkunjung tak lama setelah perayaan Imlek, lampion masih ramai menghiasi area sekitar masjid. Bukan sebagai ritual agama, melainkan simbol budaya yang dirawat dengan santun. Di tengah kota yang mudah gaduh oleh perbedaan, pemandangan ini terasa sangat menenangkan. Sebuah pengingat bahwa identitas tidak selalu harus dipilih salah satu, ia bisa dirangkul sekaligus.
Semoga keberadaan Masjid Tjia Khang Hoo menjadi simpul sosial. Ia bukan hanya tempat beribadah, tetapi juga titik temu. Tempat pertemuan dan dialog dua budaya terjadi, untuk saling mengenal, saling memahami dan saling menghargai.
Ketika saya berdiri di halamannya, cahaya matahari sore menyentuh atap merah itu dengan lembut. Tidak terasa kontras, tidak terasa bertabrakan. Justru sebaliknya, semuanya tampak menyatu seperti komposisi yang sudah lama direncanakan.
Mungkin memang begitu seharusnya keberagaman bekerja. Tidak perlu selalu diperdebatkan. Cukup diberi ruang, dirawat, dan dibiarkan tumbuh menjadi jembatan.
Dan di Pekayon, jembatan itu berdiri dalam wujud sebuah masjid berwarna merah.
📍Masjid Tjia Khang Hoo
Jl. H Soleh No.20, RT.2/RW.7,
Tipar, Pekayon, Jakarta Timur