Ada kawasan di Jakarta Barat, di tengah kepadatan Kecamatan Tambora ada sebuah simpul permukiman lama: Krendang, Nama Krendang dipercaya berasal dari pohon kerendang atau karenda yang dahulu tumbuh di wilayah rawa tersebut.

Para pemukim Betawi menjadi kelompok awal yang membuka lahan. Rawa-rawa perlahan ditimbun, dialihfungsikan menjadi tempat tinggal dan sawah. Perkembangan terbesar Krendang datang bersama arus pendatang sejak sekitar 1960an, sebagian besar adalah komunitas Tionghoa dari Pontianak dan Singkawang, Kalimantan Barat. Selebihnya dari Jawa & Banten.
Krendang tumbuh menjadi bukan sekadar titik di peta, ia menjadi bagian dari lanskap Jakarta, gang-gang sempitnya di masa lalu dijejali suara mesin jahit dari usaha konveksi rumahan. Hari ini, Krendang menjelma menjadi kantong kuliner yang padat, berlapis cerita, dan ramai sejak pagi hingga malam.
Jembatan Rasa ke Pontianak dan Singkawang
Komunitas Tionghoa Pontianak dan Singkawang memiliki sejarah panjang dalam perdagangan dan budaya. Pontianak tumbuh sebagai kota pelabuhan strategis, sementara Singkawang dikenal dengan tradisi Tionghoa yang sangat kental. Jejak itu terasa nyata di Krendang.




Banyak pelaku usaha kuliner di Krendang memiliki akar dari dua kota tersebut. Resep dibawa dalam koper ingatan, lalu dibongkar menjadi deretan lapak makanan khas Kalimantan Barat, dengan penyajian yang tetap setia pada cara lama yang diwariskan generasi sebelumnya.

Salah satunya ini, sekilas nampak seperti kwetiau pada umumnya. Yang satu ini bernama kincipan, kuliner khas Pontianak/Singkawang, Kalimantan Barat, berupa kwetiau goreng yang khas dengan isian telur, toge, dan yang membuatnya berbeda, daun katuk.

Kalau yang ini, Rujak Buek. Secara umum, yang dijadikan rujak tentu saja ada buah, namun yang istimewa di sini, singkong goreng merekah disajikan dengan siraman bumbu rujak asam manis rasa khas Kalimantan.
Krendang, dalam konteks ini, seperti menjadi perpanjangan lidah Pontianak dan Singkawang di Jakarta. Ia adalah ruang temu antara kampung halaman dan kota tempat tinggal.
Ruang Hening di Tengah Riuh
Menelusuri kuliner Krendang berarti berjalan kaki menyusuri ruas jalan, berhenti dan mencicipi beberapa kuliner legendaris, sambil membaca ruang.

Di sela perjalanan kuliner, ada baiknya melangkah ke Wihara Nana Dassana. Arsitekturnya tampak lebih sederhana dibanding tempat serupa di kawasan Pecinan lain di Jakarta. Bangunannya berwarna merah dan kuning, dengan ornamen naga di atapnya. Pintu kayu merah dan hiasan lampion memberi suasana khidmat sekaligus hangat.
Wihara ini menjadi salah satu pusat spiritual komunitas setempat. Kehadirannya menegaskan bahwa Krendang bukan sekadar ruang ekonomi, tetapi juga ruang identitas dan keyakinan.
Supermarket Rasa
Ada pula toko bernuansa Tionghoa yang menjual perlengkapan perlengkapan ritual budaya Tionghoa dan supermarket khusus makanan khas Kalimantan.




Botol-botol kecap lokal Kalimantan dengan label warna mencolok tersusun seperti parade rasa. Ini memperlihatkan bagaimana dapur rumah tangga komunitas Tionghoa tetap terhubung dengan akar budaya mereka.
Penggunaan bahan asli lokal Kalimantan, yang menjaga keaslian dan konsistensi rasa lintas generasi. Dari situ kita bisa melihat tur jalan kaki di Krendang pada akhirnya menjadi perjalanan dua dimensi: rasa dan identitas.
Tentang Kehalalan: Teliti dan Kritis
Namun ada satu hal yang tidak boleh diabaikan, terutama bagi wisatawan muslim. Banyak kuliner di Krendang berakar dari tradisi Tionghoa non halal, terutama yang menggunakan atau diolah dalam dapur yang sama dengan bahan non halal.
Beberapa tempat mungkin mencantumkan klaim halal secara lisan atau tulisan sederhana. Tetapi penting untuk dicatat bahwa tidak semua klaim tersebut disertai sertifikasi resmi dari lembaga berwenang seperti MUI. Dalam konteks wisata kuliner, ini menjadi hal yang krusial.
Pengunjung perlu proaktif bertanya mengenai bahan baku, proses pengolahan, serta memastikan ada sertifikat halal jika memang dibutuhkan. Jangan ragu untuk meminta kejelasan dan tak hanya mengandalkan asumsi atau tulisan kecil di spanduk. Transparansi adalah hak konsumen, dan kehati hatian adalah bentuk tanggung jawab.


Salah satu yang bersertifikat halal adalah Kedai Suhu, Suhu Tahu by Wendy. Dan dua makanan ini adalah favorit banyak pengunjung, Choipan dan Che Hun Tiau + Bongko.

Menutup Langkah dengan Pengalaman
Jelajah Krendang adalah pengalaman yang kaya. Ia menawarkan perkenalan dengan cita rasa kuliner, jejak migrasi dan potret komunitas yang menjaga identitas mereka dengan setia. Datanglah dengan rasa ingin tahu. Cicipi dengan kesadaran dan jika keyakinan menjadi kompas utama, pastikan setiap langkah dan suapan telah melalui pertimbangan yang matang.
Di Krendang, cerita tidak hanya dikisahkan. Ia disajikan.