Melanjutkan perjalanan #sayadandepresi dari catatan sebelumnya.
Serangan depresi pertama datang di 2012, emosi saya hampir sepenuhnya berupa sedih. Setelah membaik, saya sempat menyimpulkan, wajar saja kalau waktu itu saya jatuh ke depresi. Ada tekanan mental kuat dari sebuah urusan yang menggantung. Namun begitu masalahnya selesai, gejalanya ikut mereda. Lama sekali tidak muncul lagi, sampai serangan kedua datang pada September tahun 2023 lalu.
Kali ini spektrumnya berbeda. Bukan hanya sedih, tapi juga marah. Terutama ke diri sendiri. Saya menegur diri dengan keras, merasa mental saya seharusnya sudah lebih tangguh. Sejak awal pandemi, berbagai tantangan sudah saya lewati. Bahkan saat episode kedua ini muncul, yang tersisa hanyalah sisa-sisa masalah dengan tingkat kerumitan jauh lebih rendah dibanding sebelumnya.
Kemarahan muncul dari rasa kecewa. Saya belajar tentang mental dan perilaku di bangku kuliah, tapi tetap saja tumbang. Rasanya seperti tahu teori berenang tapi tetap tersedak air, bahkan beberapa kali seperti akan tenggelam. Dalam salah satu sesi terapi, psikolog saya membantu saya memproses kemarahan ini dengan pertanyaan sederhana. Suami yang rutin melatih fisik sebagai instruktur bela diri, pernah cedera tidak? Orang yang rajin olahraga pernah jatuh sakit? Dokter bisa sakit juga? Pertanyaan retoris, tapi cukup membuat saya tersenyum dan berhenti memusuhi diri sendiri.
Itu bagian dari cognitive behavioral therapy. Saya dibantu mengenali distorsi cara berpikir, lalu diajak menggunakan logika untuk melihat situasi dari sudut yang lebih adil. Ilmunya pernah saya pelajari juga. Tapi menjadi manusia berarti sesekali terpeleset dan butuh orang lain menyalakan lampu di kepala kita lagi. Setelah fase distorsi kognitif terurai, saya mulai menerima bahwa kali ini saya memang harus kembali berhadapan dengan depresi. Langkah berikutnya adalah mencari pemicu.
Secara umum, penyebab depresi bisa berlapis. Antara lain faktor genetik, gangguan keseimbangan hormon dan kimia otak, stres berat karena peristiwa hidup, trauma masa lalu, penyakit kronis atau efek samping obat, pola kepribadian tertentu, serta ketergantungan zat adiktif.
Saya menjalani pemeriksaan fisik dan laboratorium, ditambah evaluasi psikologis. Dari sana saya didiagnosis mengalami major depressive disorder, gangguan depresi mayor episodik dengan gejala yang intens.
Episode intens itu berlangsung sekitar dua minggu, pertengahan sampai akhir September 2023. Dokter meminta saya istirahat total. Tidak bekerja, menghindari aktivitas berpikir berat, dan berada dalam pendampingan (baca: pengawasan) keluarga. Intervensinya fokus pada obat antidepresan.
Setelah fase paling berat terlewati, kondisi membaik. Saat kontrol sebulan kemudian dan evaluasi ulang, diagnosis saya berkembang menjadi yang sering disebut double depression. Istilah ini bukan label medis resmi, melainkan gambaran adanya depresi mayor yang intens bersamaan dengan depresi persisten tingkat rendah yang gejalanya lebih halus tapi berlangsung panjang.
Durasi depresi persisten berbeda pada tiap orang. Pada saya, setahun setelah episode itu, saya masih membawa obat ke mana-mana. Tidak setiap hari gejala muncul, dan tidak selalu kuat, tapi ada masa-masa saya perlu bantuan obat agar bisa berfungsi normal. Tentu obat bukan satu-satunya jalan. Saya menjalani psikoterapi untuk menelusuri faktor mana yang paling relevan. Faktor genetik sedikit kami kesampingkan, karena saya tidak punya sumber informasi yang cukup tentang catatan kesehatan mental keluarga.
Hasil laboratorium tidak menunjukkan gangguan hormon yang signifikan, sehingga aspek kimia otak ditangani lewat pengobatan. Yang menonjol justru stres berat dan trauma masa lalu. Awalnya saya mengira sumber stres terbesar adalah tekanan finansial akibat pandemi. Namun dari proses terapi, ada faktor besar lain yang belum bisa saya ceritakan sekarang. Yang penting, sudah teridentifikasi dan sedang diupayakan langkah solutifnya.
Trauma masa lalu juga diduga berperan kuat. Saya disarankan menjalani rangkaian psikoterapi khusus untuk itu ketika sudah siap. Siap secara mental, karena membuka kembali pengalaman lama berarti berhadapan lagi dengan luka yang pernah ada. Juga siap secara finansial, karena prosesnya yang lumayan panjang.
Sebagai gambaran, seluruh rangkaian pengobatan dan terapi ini saya jalani mandiri tanpa BPJS. Biaya konsultasi psikolog atau psikiater berkisar 300 sampai 350 ribu rupiah per sesi, minimal sebulan sekali. Obat sekitar 500 sampai 600 ribu rupiah per bulan. Saya menjalani terapi di RSJ Islam Klender, Jakarta Timur. Alternatif dengan kisaran biaya serupa ada di RSKD Duren Sawit.
Dalam sistem BPJS, beberapa layanan terkait depresi sebenarnya bisa diakses, terutama konsultasi psikiater dengan prosedur rujukan. Psikoterapi untuk depresi juga bisa, meski untuk penanganan trauma tertentu belum tentu tercover.
Hari ini bertepatan dengan World Mental Health Day. Saya membagikan perjalanan yang belum selesai ini sebagai pengingat bahwa gangguan mental adalah kondisi kesehatan. Seperti penyakit fisik lain, orang yang mengalaminya tetap bisa berfungsi, berkarya, dan hidup bermakna dengan bantuan yang tepat.
Saat ini, dibantu psikolog, saya fokus menyelesaikan sumber stres utama terlebih dahulu. Untuk trauma, saya sedang menyiapkan diri pelan-pelan. Doakan lancar. Saya juga mendoakan semoga kamu tidak perlu melalui hal serupa. Namun bila ada tanda-tanda yang mengganggu, mencari pertolongan profesional lebih awal bisa membuat perjalanannya jauh lebih ringan.
Tambahan: (Desember 2024)
Selain rawat jalan di RSJ Islam Klender, saya akhirnya berkesempatan mendiskusikan perkembangan kondisi kesehatan mental saya dengan dr Elvine Gunawan di Bandung.
Sedikit berbeda dengan arahan psikolog dan psikiater sebelumnya yang menyarankan saya untuk hipnoterapi dalam rangka upaya menyelesaikan segala unfinished business, dalam sesi konsultasi, saya diberi alternatif untuk mengambil pilihan lain. Lain kali akan saya tuliskan lagi di catatan yang berbeda.