Beberapa hari lalu Kompas menerbitkan artikel yang bahkan baru muncul notifnya, belum baca artikelnya, saya udah nangis duluan.

Ada wilayah sunyi dalam diri manusia yang tidak terlihat dari luar. Tempat di mana logika, nasihat, bahkan keyakinan, tidak selalu terdengar jernih. Ini adalah wilayah yang mungkin sulit dibayangkan oleh orang-orang yang tak pernah berada di (meminjam kalimat di artikel Kompas tersebut) puncak masalah kesehatan mental.
Sebagai orang beriman, kita tahu betul bunuh diri adalah hal yang dilarang keras. Dalam keadaan mental yang stabil, tanpa membawa-bawa agama pun, akal sehat pasti menolak gagasan itu. Saya juga selalu merasa, saya tidak mungkin melakukannya.
Namun kenyataannya, tepat setahun lalu, Rabu 13 September 2023, saya terbangun dengan kesedihan yang tidak punya bentuk tapi menekan dari segala arah. Pikiran yang muncul bukan rencana untuk mengakhiri hidup, bukan pula tindakan, melainkan keinginan samar seandainya saya tak bangun dari tidur di hari itu, rasanya akan lebih baik. Saya meminta pak suami tidak membuka gorden. Cahaya terasa terlalu tajam. Jangankan bangkit dari tempat tidur, membuka mata saja rasanya seperti mengangkat ratusan kilogram beban.
Hampir dua jam saya terbaring dalam kondisi seperti itu. Lalu dengan sisa tenaga dan akal sehat yang entah datang dari mana, (belakangan saya meyakini itu murni pertolongan Allah SWT) saya memaksa diri bangun, bersiap-siap dan minta diantar ke psikiater. Saya tahu ini tidak beres. Saya butuh pertolongan. Beruntung pak suami tanggap (dan mungkin setengah kebingungan), tanpa protes semua jadwal kerjanya hari itu dibatalkan. Saya sendiri sudah sama sekali tak terpikir soal pekerjaan.
Yang membuat pengalaman ini menggetarkan adalah kemunculannya yang super mendadak. Seperti petir di langit yang sebelumnya hanya mendung tipis. Malam sebelumnya, meski hidup sedang penuh tantangan, saya masih merasa mampu bertahan. Bahkan beberapa bulan sebelumnya, saya menulis catatan tentang pengalaman serangan depresi pertama dan merasa keadaan sudah jauh membaik. Sama sekali tidak menyangka pagi itu akan bangun dalam kondisi sedekat ini dengan tepi jurang.
Lalu pertanyaan yang sering muncul, termasuk melintas juga di benak saya sendiri, ke mana perginya iman?
Di sinilah saya ingin meluruskan satu hal penting. Depresi dan pikiran tentang kematian bukan semata-mata persoalan iman. Dalam kasus saya, iman berperan besar mencegah saya melakukan tindakan. Ia menjadi pagar. Tetapi faktor psikologis dan biologis tetap bekerja. Ketidakseimbangan kimia otak tidak otomatis luruh hanya karena seseorang taat beribadah. Dua hal ini berjalan di lapisan yang berbeda.
Masalahnya, masyarakat sering mencampuradukkan keduanya. Agama yang seharusnya menjadi pelindung, justru kerap dipakai sebagai alat menilai. Kalimat seperti, “Jangan begitu, kurang iman,” mungkin dimaksudkan baik. Tapi pada orang yang sedang berada di titik paling rapuh, itu terasa seperti beban tambahan.
Tanpa kalimat penghakiman itu pun, saya sudah merasa gagal. Gagal sebagai manusia, gagal sebagai orang beriman. Saya marah pada diri sendiri. Mengapa bisa selemah ini? Bayangkan jika di saat seperti itu masih harus menanggung penilaian dari luar.
Jadi apa yang paling dibutuhkan seseorang yang sedang berada di kondisi ini?
Teman. Kehadiran. Pendampingan nyata. Bantu mereka mencari pertolongan profesional. Temani secara konkret. Karena untuk hal sederhana seperti makan saja, mereka bisa tidak sanggup. Fungsi dasar sehari-hari bisa runtuh.
Dalam kasus saya, hari itu saya memerlukan obat. Dan beberapa waktu setelahnya. Untuk membantu menata ulang sisi biologis, ketidakseimbangan neurotransmitter yang membuat pikiran terasa kacau. Bersamaan dengan itu, psikiater saya mengingatkan hal lain yang tidak kalah penting. Berdamai dengan diri sendiri. Menerima bahwa ujian hidup bisa hadir dalam bentuk ini. Merapatkan ibadah. Meminta pertolongan Allah. Di sini saya merasakan pentingnya ditangani tenaga profesional yang memahami nilai yang kita pegang.
Saya bersyukur, ketika peristiwa ini terjadi, fondasi iman saya sudah lebih kokoh dibandingkan dulu. Itu membuat proses mencari jalan keluar terasa lebih terarah. Ada keyakinan bahwa ini ujian yang ada ujungnya. Bahwa pertolongan Allah nyata, meski jalannya tidak selalu instan.
Dalam ajaran Islam ada pengingat bahwa setelah kesulitan ada kemudahan, bahwa sakit bisa menjadi penggugur dosa. Bagi saya, konsep-konsep itu seperti pegangan saat terjatuh. Bukan menghapus rasa sakit seketika, tapi memberi alasan untuk tetap bertahan.
Apakah saya sudah sepenuhnya sembuh? Terapi apa saja yang saya jalani? Bagaimana awal mula depresi ini tumbuh? Itu cerita lain, mungkin lain waktu.
Terima kasih sudah membaca sampai sini. Mari saling mendoakan, semoga kita semua dijaga dalam kesehatan lahir dan batin. Aamiin.