Pasar Baru adalah kawasan yang menyimpan banyak lapisan waktu. Ia bukan sekadar deretan toko, melainkan sebuah magnet bagi siapa pun yang mencari sisa-sisa kejayaan Jakarta lama sambil memenuhi kebutuhan baru. Di antara ramai aktivitas jual beli dan jejak kisah lawas, ada satu nama yang beberapa kali saya dengar dengan nada lirih, tak begitu banyak yang membicarakannya, Toko Kopi Afung.
Kopi Afung bukanlah pemain baru. Keberadaannya di Pasar Baru sudah menjadi bagian dari sejarah sejak komplek Metro Pasar Baru dibuka. Menurut pengakuan Koh Afung, pemiliknya, toko ini sudah bertahan selama lebih dari 40 tahun.


Menjadi saksi bisu perubahan zaman, tetap setia dengan etalase sederhana tempat berjejernya toples kaleng dan mesin penggiling tua, menjadikannya sebagai toko kopi tradisional yang cukup legendaris di Kawasan Pasar Baru. Eksistensinya lah yang saat ini sering kali menjadi alasan mengapa orang-orang kembali melirik dan mendengungkannya di media sosial sebagai destinasi yang bisa dikunjungi di Jakarta Pusat.
Pilihan kopi di Kopi Ko Afung juga tidak banyak. Tidak ada katalog panjang atau penjelasan detail tentang profil rasa. Beberapa jenis kopi ditawarkan, digiling sesuai permintaan, lalu dibungkus sederhana. Fokusnya bukan pada variasi, melainkan pada rasa yang sudah dikenal dan biasa dibeli pelanggannya.
Tidak ada tempat untuk duduk, pun tidak ada secangkir kopi yang bisa dinikmati langsung di tempat. Sejak awal berdiri, Kopi Afung hanya menjual biji atau bubuk kopi. Dan seperti toko kopi jaman dulu yang serupa, ia hidup melalui kebiasaan pelanggan yang kembali ke toko, dari waktu ke waktu. Dalam tradisi di mana kopi diperlakukan sebagai kebutuhan rumah tangga. Kopi dibeli, dibawa pulang, diseduh sendiri, dan dinikmati di ruang masing-masing.
Soal harga, harga biji kopi di sini sedikit di atas beberapa toko kopi tradisional lain. Apakah ini berkaitan dengan lokasi Pasar Baru yang tidak sekadar pasar, melainkan juga destinasi wisata? Bisa jadi demikian. Lokasi Kopi Afung memberikan alasan yang cukup kuat untuk tetap dikunjungi. Membeli kopi di sini bisa menjadi awal dari perjalanan yang lebih panjang.
Pasar Baru adalah salah satu kawasan tertua di Jakarta yang masih hidup sebagai ruang keseharian. Dibuka pada awal abad ke-19 sebagai pusat niaga, kawasan ini sejak lama menjadi titik temu berbagai komunitas: Tionghoa, India, Eropa, dan pribumi. Hingga hari ini, jejak itu masih terasa, bukan sebagai cerita masa lalu, melainkan praktik hidup berdampingan yang terus berjalan.
Eksistensi komunitas Tionghoa dibuktikan oleh keberadaan Klenteng Sin Tek Bio atau yang juga dikenal dengan sebutan Vihara Dharma Jaya yang berdiri sejak tahun 1698, terselip di sebuah gang sempit di dekat Gang Kelinci. Sementara Kawasan Pintu Air dan Kuil Sikh adalah jejak eksistensi komunitas India di Pasar Baru. Kalau jeli, bisa kita temukan toko yang khusus menjual kebutuhan alat ibadah dan rempah-rempah a la India. Tak jauh, di Seberang gerbang Pasar Baru, Kompleks Santa Ursula, berdiri sejak 1859, merupakan salah satu jejak komunitas Eropa selain Katedral yang juga tak terlalu jauh.
Urusan rasa, jangan ditanya.


Bakmi Gang Kelinci, Bakmi Aboen, Cakue Ko Atek, Es Krim Tropik, Soto Padang Mangkuto, Soto Selan Semarang, Soto Daging Pak Hadi adalah kuliner yang bertahan lintas generasi. Sementara nama baru, Jungen Burger, Toko Kopi Maru dan deretan pilihan di Pos Bloc menyeruak ramai diperbincangkan.
Toko-toko legendaris juga akan membuat para pengunjung Pasar Baru berdecak kagum betapa mereka sanggup bertahan melintas zaman.



Pecinta bangunan bersejarah akan dimanjakan oleh Toko Kompak, Antara Heritage Center, Gedung Kesenian Jakarta, dan deretan bangunan tua di sekitar Pintu Air, semuanya memperlihatkan bahwa Pasar Baru adalah pertemuan yang cair dari masa lalu dan masa kini. Terakhir, masih bisa ditempuh dengan berjalan kaki, Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral berdiri berhadapan, memperkuat narasi kawasan ini sebagai ruang perjumpaan.
Begitu lah kira-kira, berawal dari sekantong kopi, berujung menjelajahi Pasar Baru dan sekitarnya yang paling nikmat dijelajahi dengan berjalan kaki. Kawasan ini tidak menawarkan sensasi viral semata, tetapi menghadiahi siapa pun yang mau melangkah pelan dengan pemahaman bahwa Jakarta dibangun dari banyak lapisan yang saling bertumpuk.