Sudah kenal kebiasaan saya blusukan dari pasar ke pasar, dari gang sempit ke deretan ruko tua?
Biasanya untuk mencari satu di antara hal ini: kopi bubuk jadul, teh bubuk dan kecap manis lokal. Dan sebagai peminum kopi rumahan tiap hari, yang paling sering saya cari tentu saja kopi. Hampir di tiap kota, selalu ada satu nama yang hidup diam-diam, tak banyak papan, tak ramai promosi, tapi setia menggiling kopi untuk pelanggan yang awalnya itu-itu saja.
Blusukan kali ini saya berkunjung ke Toko Kopi Bemo Rawamangun yang sudah lama masuk radar, bukan karena viral, bukan karena estetika media sosial, tapi karena sering disebut oleh penikmat kopi lama Jakarta, “Kalau ke Rawamangun, cari Kopi Bemo.”
Namun begitu lah, karena satu dan lain hal, meski sudah masuk daftar, namun selama ini hanya sempat masuk dalam catatan niat, belum juga dikunjungi, hingga suatu hari, sebuah dengungan di media sosial berbunyi agak keras dari biasanya, Kopi Bemo sekarang buka kedai. Oke, berangkat!
Rawamangun sendiri memiliki lapisan sejarah yang membuatnya relevan bagi keberadaan toko-toko lama seperti Kopi Bemo. Kawasan ini mulai tumbuh sebagai permukiman pada periode 1950-an hingga awal 1960-an, saat Jakarta Timur dikembangkan untuk menampung perluasan penduduk ibu kota pascakemerdekaan. Dikenal sebagai kawasan hunian kelas menengah dengan tata kota relatif rapi, Rawamangun diperkuat oleh kehadiran RS Persahabatan yang berdiri pada tahun 1963, kemudian Terminal Rawamangun yang dibangun pada akhir 1980-an. Sejak itu kawasan ini sah sebagai wilayah penyangga Jakarta, tumbuh sebagai ruang hidup yang lengkap, tempat pasar, hunian, dan fasilitas publik saling bertaut.

Di konteks inilah nama Kopi Bemo bermula. Pasar Rawamangun ini berada persis di seberang Terminal Rawamangun yang dahulu adalah pangkalan bemo yang ramai. Dan seperti toko kopi bubuk jadul lain yang sesederhana itu dalam memilih nama, sejak itulah nama Kopi Bemo lahir dan melekat. Waktu berjalan, kota berubah, bemo perlahan tergeser, namun merk telanjur melekat kuat.
Setibanya di Pasar Rawamangun, perbedaan fungsi Kopi Bemo langsung terasa lewat pembagian ruangnya. Kedai kopi berada di lantai bawah, langsung terlihat dari area parkir, seperti sapaan pertama bagi siapa pun yang datang. Dari luar, tampilannya lebih mengikuti bahasa kopi masa kini.


Menu yang menawarkan seduh manual hingga minuman berbasis espresso menjadi penanda jelas bahwa Kedai Bemo berusaha berdialog dengan pelanggan lintas generasi.


Menariknya, semua disajikan dengan harga yang terjangkau, Kedai Bemo seolah ingin menegaskan bahwa kopi tidak selalu harus terkesan eksklusif.

Toko Kopi Bemo di lantai atas tampak sedikit menonjol dibanding kios-kios lain di sekitarnya. Di tengah los sayur dan makanan yang fungsional dan apa adanya, tampilan tokonya terasa lebih modern, rapi, tanpa kehilangan kesederhanaan.

Pilihan kopinya beragam, memberi ruang bagi selera yang berbeda, dan bisa dibeli dengan minimal pembelian satu ons, ukuran yang terasa tepat bagi pelanggan yang mau coba-coba berbagai jenis kopi yang tersedia. Yang menyenangkan, konsep yang lebih masa kini tidak serta merta menyingkirkan masa lalu. Selain kemasan yang sudah terlihat kekinian, Kopi Bemo tetap mempertahankan kemasan lama berupa plastik bening dan kertas kopi, seolah sengaja merawat nuansa nostalgia.


Bersamaan dengan bemo yang tergeser dari kesibukan transportasi Jakarta, dunia kopi pun ikut bergeser, dari kopi tubruk ke kopi sachet, dari warung ke kedai modern. Di tengah pergeseran itu, Kopi Bemo juga menghadapi tantangan berkurangnya jumlah pelanggan. Jumlah gilingan kopi yang dulu bisa mencapai angka di atas seratus kilogram per hari kini menyusut menjadi puluhan kilogram. Namun di balik angka yang mengecil itu, Kopi Bemo bertahan.



Toko Kopi Bemo adalah contoh bagaimana bertahan tidak selalu berarti menolak perubahan. Kadang, bertahan justru berarti membuka pintu sedikit lebih lebar, tanpa kehilangan jati diri. Toko kopi bubuknya setia pada akar, melayani pelanggan lama yang datang membeli dengan jenis dan jumlah yang sudah mereka hafal. Sementara kedainya hadir membuka pintu bukan sekadar mengikuti tren, tapi mengupayakan cara agar cerita lama bisa didengar oleh pelanggan baru seperti saya, yang tertarik karena kini bisa duduk dan minum di tempat.
Keduanya saling melengkapi, tidak saling meniadakan. Belanja dulu kopi giling di lantai atas untuk stok kopi harian di rumah, lalu turun mampir ke kedai menikmati secangkir kopi dengan harga bersahabat. Kopi Bemo berhasil menghadirkan transisi yang menarik dari kebutuhan rumah tangga ke gaya hidup, memberikan pengalaman utuh bagi pelanggan yang datang.