Gara-gara baca berita soal 70% lebih air minum di Indonesia tercemar tin** (ngga tega nulisnya π), saya jadi ingat bangunan ini.
Sebuah bangunan yang kalau dilihat angka tahunnya, tahun ini berusia tepat 141 tahun ya? Lokasinya ada di Jalan Matraman Raya, saat ini tepatnya ada di dalam pagar sebuah kantor provider telekomunikasi. Lalu, apa hubungan bangunan ini dengan berita yang saya sebutkan di awal?
Jadi begini, duluuuu banget, warga Batavia menggantungkan kebutuhan akan air bersih pada sungai. Ciliwung menjadi sungai yang sangat diandalkan waktu itu. Air sungai ditampung, disaring dan diendapkan dulu sebelum layak pakai. Namun seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk, kualitas air sungai Ciliwung semakin menurun.
Dengan semakin banyaknya penyakit yang timbul akibat mengonsumsi air sungai, pemerintah kolonial mulai berpikir mencari alternatif sumber air bersih. Beralihlah pada sumur artesis, alias sumur bor. Bukan sumur bor a la rumah tangga ya, kedalaman sumur-sumur ini berkisar antara 100-395 meter.
Sumur artesis pertama dibangun pada tahun 1843, lokasinya di Prince Frederick Citadel, sekarang sudah jadi Masjid Istiqlal. Setelah sumur ini, puluhan sumur sejenis dibangun. Dalam artikel yang saya baca, hingga tahun 1920, terdapat sekitar 50 sumur di Batavia.


Sekarang ke mana gerangan lima puluh sumur itu? Jawabnya: hampir tidak ada, musnah. Karena di sekitar awal abad 20, lagi-lagi hal yang sama terulang, air tanah dirasa sudah tidak cukup berkualitas. Airnya mulai berasa dan berbau, suhunya juga kadang mencapai 39Β°C. Lalu setelah melalui sidang Gementee pada 21 Oktober 1918, tepat di hari blog ini ditulis, artesis ditinggalkan, diputuskan untuk membangun sarana waterleiding untuk mengalirkan air bersih dari sumber air di Ciomas Bogor menuju Batavia, yang hari-hari ini kita kenal dengan sebutan ledeng.
Beruntung, masih ada sisa satu buah jejak sumur artesis di Jakarta. Bangunan yang kita bahas di awal tadi.




Saya ngga habis pikir, ngapain ya mereka dulu kok seniat itu, bikin sumur aja dengan bangunan yang ornamen-ornamennya secantik ini. Harusnya ini jadi cagar budaya sih ya, kemarin saya ngga sempat tanya dan ngga sempat lihat papan penandanya. Intip-intip di daftar bangunan cagar budaya di Jakarta, juga belum tercantum. Mungkin saya yang kirang update, yang punya info boleh komen ya ππ».
Saat ini bangunannya digunakan sebagai studio, ketika saya diperkenankan mengintip ke dalam, sudah mirip ruangan biasa, sumurnya masih ada atau tidak, pak satpamnya juga ngga paham.
Boleh dikunjungi?
Alhamdulillah kemarin saya boleh, saya berkunjung hari Minggu, agak sepi karena hari libur. Tentu saja minta ijin dulu sama pak satpam ππ.
Jl. Matraman Raya, Kebon Manggis, Jakarta Timur.