Beberapa kali sharing perjalanan pulih saya dari depresi, beberapa orang bertanya, konkretnya apa yang saya lakukan untuk sanggup (berjuang) bertahan satu hari lagi?
Kalau bisa digambarkan, hidup saya saat meluncur ke fase depresi, situasinya seperti foto ini. Gelap, hening, dingin, tapi syukur alhamdulillah, Allah masih taruh keyakinan dalam hati, ujungnya terang kok.
Dan itu, yang membuat depresi saya tidak pernah bermuatan ingin mengakhiri hidup, lebih ke bagaimana bisa ‘memaksa’ diri bangun pagi dan beraktivitas, dalam kondisi yang kalau diibaratkan kendaraan, bensinnya ada, tapi accu-nya soak. Nyawanya ada, harapan hidupnya nyaris hilang.
Kembali lagi ke konkretnya gimana saya bisa bertahan?
Sambil mengingat-ingat teori yang dulu dipelajari di bangku kuliah, dalam Psikologi, kondisi seperti ini sering dikaitkan dengan konsep hope theory dari Charles R. Snyder, bahwa harapan bukan hanya tentang percaya ada hasil yang baik, tetapi juga tentang kemampuan melihat jalan menuju ke sana. Harapan lah yang membuat pikiran kita tetap bisa menemukan arah, meski jalan terasa sempit dan gelap.
Dalam teorinya Snyder ini, harapan tidak didefinisikan sebagai emosi yang cepat berlalu, tetapi sebagai proses kognitif yang berorientasi pada tujuan, yang bersandar pada tiga komponen inti:
- Tujuan yang jelas. Definisikan tujuan yang spesifik dan dapat dicapai. Contoh dalam kasus saya, salah satunya: sembuh dan pulih. Tujuan ini dalam perjalanannya tentu akan berubah-ubah. Setelah satu tercapai maka akan ada tujuan berikutnya, dan berikutnya, dan berikutnya lagi.
- Pola pikir berbasis jalur. Pecah tujuan besar menjadi langkah-langkah yang lebih kecil dan mudah dikelola. Tujuan sembuh tadi, saya pecah, mau lewat jalur apa saja. Saya pilih jalur medis, dibantu psikiater dan psikolog, caranya: minum obat, konseling. Dan spiritual, dibantu guru ngaji, konseling agar ikhtiar saya tidak melanggar syariat. Btw, konseling dengan guru ngaji ini juga bisa digolongkan ke terapi kognitif.
- Motivasi. Cahaya terang di ujung lorong tadi, itu yang saya jadikan pegangan. Ia seolah-olah menjanjikan, perjalanan sulit ini tidak akan sia-sia. Saya hanya perlu terus berjalan mendekatinya, meski pelan, meski ragu. Selain anak, suami, pekerjaan dan usaha saya saya jadikan tumpuan harapan, ada satu lirik lagunya Ungu yang jadi anthem, “dan demi nafas yang telah Kau hembuskan dalam kehidupanku, ku berjanji, ku akan menjadi yang terbaik”.
Dalam prakteknya tentu saja tidak semudah yang saya tuliskan ini. Ada masa-masa, di mana jangankan, beraktivitas produktif, sekedar keluar dari selimut, buka korden dan mandi saja saya nyaris tidak sanggup.
Tapi dalam ketidaksanggupan itu saya latih terus menerus dialog internal. “Pulih Bubu, hidupmu belum selesai!”. Bisa yuk, bangun, duduk dulu, ngga apa-apa lambat, tapi mandi ya. Ngga apa-apa lama, tapi habis mandi coba kerjain satu project ya. Ngga apa-apa sedih, nangis aja, Allah bolehin nangis kok, sambil istighfar tapi ya.
Saya latih terus pikiran positif, mengingat kembali keberhasilan di masa lalu untuk meningkatkan kepercayaan diri. Dulu kamu pernah ada di titik yang jauh lebih susah dari ini, tapi bisa kamu lewati. Saya visualisasikan kembali dalam benak saya, saya hadirkan kembali rasa bahagia itu, untuk memperkuat keyakinan, all is well, this too shall pass.
Dan kalau satu tujuan ini selesai atau tercapai. Saya ingatkan lagi diri saya satu tuntunan dalam Al Quran.
فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ| وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَب
"Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain), dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap." - QS Al Insyirah 7-8