Makam Sultan Alaiddin Muhammad Daudsyah: Jejak Sunyi Sultan Terakhir Aceh yang Terlupakan

Masih dari rangkaian jelajah Rawamangun dengan berjalan kaki. Selepas kunjungan ke Pura Aditya Jaya, langkah kaki membawa saya ke sebuah lokasi yang kondisinya jauh dari yang saya bayangkan sebelumnya: Makam Sultan Alaiddin Muhammad Daud Syah, sultan terakhir Aceh Darussalam, yang beristirahat jauh dari tanah kelahirannya di sebuah pemakaman umum, tepatnya di TPU Utan Kayu (Kemiri) Rawamangun, Jakarta Timur.

Awalnya, saya membayangkan akan menemukan makam yang kondisinya seperti makam Cut Nya Dhien yang pernah saya kunjungi di Sumedang. Namun sulit dipercaya bahwa seorang sultan, pemimpin kerajaan besar yang pernah berjaya selama berabad-abad, beristirahat di tempat yang begitu sederhana, terselip di antara makam warga biasa. Ironinya lagi, banyak warga Jakarta, bahkan mereka yang berdarah Aceh sekalipun, tidak mengetahui keberadaan makam ini. Seakan-akan sejarah sengaja menutup halaman terakhir dari kisah panjang Kesultanan Aceh.

Sultan yang Namanya Tak Setenar Para Pejuang

Nama Sultan Daud Syah memang tidak sepopuler tokoh-tokoh Aceh yang kisahnya menghiasi buku sejarah. Kita lebih sering mendengar tentang keberanian Cut Nyak Dhien, heroisme Teuku Umar yang gugur di medan perang, atau yang jauh rentang waktunya sekali pun, Laksamana Malahayati. Sementara itu, sosok sultan terakhir ini perlahan tenggelam dalam bayang-bayang nama pejuang lain.

Padahal, ia naik menjadi sultan dalam situasi genting. Tahun 1874, ketika usianya baru tujuh tahun, Aceh sedang berada di tengah perang panjang melawan kolonial Belanda. Ia menjadi simbol yang menjaga harapan rakyat Aceh meski realitas di sekelilingnya penuh keterbatasan. Sebuah takdir besar yang dipikul seorang anak kecil hingga ia dewasa.

Sejarah memang tidak selalu memihak. Pada tahun 1903, ketika situasi sudah tak memungkinkan lagi, Sultan Daud Syah menyerahkan diri setelah keselamatan jiwa keluarganya terancam. Kemudian, saat Cut Nya Dhien diasingkan di tanah Sunda, sang sultan dibawa ke Kutaraja.

Namun meski dalam tawanan, perjuangannya tidak berhenti. Secara administratif, Belanda menduduki ibu kota Kesultanan Aceh (Kutaraja/Banda Aceh), membubarkan struktur resmi kesultanan, dan membentuk pemerintahan kolonial, namun Sultan Daud Syah tak pernah bersedia menyerahkan kedaulatan Aceh pada Belanda. Hal ini menjadi penyulut semangat rakyat Aceh untuk terus melawan, hingga akhirnya Belanda memutuskan membuang Sultan Daud Syah ke Batavia, sebuah cara untuk memutus seluruh pengaruhnya dari Aceh.

Jakarta: Tanah Pengasingan yang Menjadi Tempat Peristirahatan

Sultan Daud Syah menghabiskan lebih dari tiga dekade hidupnya di Batavia. Dalam catatan kolonial, ia ditempatkan dalam status “tahanan politik” dengan pengawasan ketat,
dibatasi mobilitasnya, mutlak tidak diperkenankan kembali ke Aceh. Kabar baiknya, ia ditempatkan di sebuah rumah tinggal yang layak di kawasan Meester Cornelis (sekarang Jatinegara), tidak disel atau barak, bahkan mendapat tunjangan yang cukup untuk sebuah kehidupan yang sederhana.

Dalam kesehariannya di Batavia, sultan dikenal sebagai pribadi pendiam, berwibawa,
religius dan dihormati baik oleh komunitas Aceh maupun kaum muslim setempat. Ia masih berinteraksi dengan diaspora Aceh di Batavia, terutama saat kegiatan keagamaan seperti salat Jumat. Juga sesekali diwawancarai pejabat kolonial untuk kajian politik Aceh. Hingga akhirnya wafat pada tahun 1939 dan dimakamkan di Utan Kayu, Rawamangun.

Pada satu titik, saya bertanya-tanya, bagaimana mungkin makam seorang sultan sanpai begitu tak dikenal? Terlalu jauhkah Aceh dari ingatan sampai cerita seorang pemimpinnya sempat hilang sedemikian lama?

Ada beberapa alasannya. Dokumentasi sejarah mengenai Sultan Daud Syah yang terpublikasi minim. Makamnya dulu nyaris tak tampak berbeda dari makam-makam lainnya. Tanpa  gelar kebangsawanan yang ditonjolkan, tanpa kompleks pemakaman khusus yang menunjukkan statusnya. Bahkan sekadar papan informasi pun tak ada.

Banyak warga Jakarta yang bahkan tidak tahu ada tokoh sejarah sebesar ini di pemakaman dekat rumah mereka. Para keturunan Aceh yang tinggal di ibu kota pun banyak yang tak menyadari hubungan leluhur mereka dengan tanah kecil di Rawamangun ini.

Kabar Baik dari Rawamangun

Hingga akhirnya sebuah kabar baik datang. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melakukan pemugaran terhadap makam Sultan Alaiddin Muhammad Daud Syah beserta makam keluarga yang berada di sekelilingnya.

Hasilnya masih juga jauh dari bayangan saya. Namun pemugaran ini tidak hanya upaya untuk memperbaiki fisik area pemakaman, tetapi juga mengembalikan martabat seorang sultan yang telah lama terpinggirkan dari ingatan publik.

Pemugaran ini membuka jalan bagi banyak orang, warga Jakarta, pelajar, keturunan Aceh, untuk mengenal kembali siapa Sultan Daud Syah. Makam yang dulu sunyi kini mulai dikunjungi. Namanya mulai disebut dalam obrolan sejarah. Tulisan ini juga bagian dari upaya kecil saya agar Sultan Daud Syah semakin mendapatkan tempat yang layak dalam narasi panjang perjuangan Aceh dan Indonesia.

Pelajaran dari Rawamangun

Saat saya melangkah keluar dari kompleks makam itu, saya menyadari satu hal, sejarah tidak selalu hidup dalam gedung-gedung museum megah. Kadang ia bersemayam di tempat sesederhana sebuah sudut di pemakaman umum.

Kisah Sultan Alaiddin Muhammad Daud Syah adalah kisah tentang bagaimana satu nama bisa hilang dari ingatan kolektif. Menunggu orang-orang datang, membacanya, merenungkannya dan menceritakannya kembali.

Mungkin memang begitu cara sejarah bekerja:
kadang sunyi, tetapi tak pernah benar-benar pergi.

Makam Sultan Alaiddin Daud Syah
📍TPU Utan Kayu (Kemiri) Rawamangun
Jalan Rawa Mangun Muka Raya, Rawamangun, Jakarta Timur

Leave a Comment