Pura Aditya Jaya: Sekeping Kedamaian Pulau Dewata di Rawamangun

Pagi itu, ketika udara Jakarta masih terasa jinak, bersama komunitas Ngopi Jakarta, saya memulai walking tour di area Rawamangun, sebuah kawasan yang lebih sering diasosiasikan dengan kampus, kuliner, dan perumahan lama. Tanpa benar-benar tahu apa yang akan saya temui, langkah-langkah kaki membawa saya ke sebuah tempat yang seringkali tak terperhatikan, tenggelam dalam ramainya Rawamangun, sebuah ruang hening yang seolah ikut menjaga denyut spiritual kota: Pura Aditya Jaya.

Saya mengenal namanya sudah cukup lama, tapi baru kali ini benar-benar mampir berkunjung, dan begitu melangkah memasuki komplek pura, bertemu dengan sekelompok orang yang akan sembahyang, mengenakan busana yang hanya mudah ditemui saat kita berada di tanah dewata, rasanya seperti berpindah dunia, dari kesibukan Rawamangun, menuju suasana Bali yang tenang.

Pura Aditya Jaya bukan sekadar bangunan indah yang berdiri di Rawamangun. Ia adalah kisah kerinduan akan rumah bagi batin umat Hindu yang merantau jauh. Pada tahun 1950-an, ketika jumlah umat Hindu di Jakarta mulai bertambah, lahir keinginan untuk membangun tempat ibadah. Pemerintah sempat berencana mengalokasikan lahan di kawasan Lapangan Banteng, berdampingan dengan Gereja Katedral yang sudah lebih dulu ada dan Masjid Istiqlal yang sedang dibangun di tahun 1960-an, namun rencana ini batal terlaksana.

Baru di tahun 1970-an, salah seorang tokoh umat Hindu yang kebetulan berdinas menangani proyek jalan Jakarta-Cirebon mengajukan permohonan penggunaan lahan bekas gudang perbekalan dan disetujui. Direktorat Jenderal Bina Marga Departemen Pekerjaan Umum, selaku penguasa lahan memberikan ijin dan menyerahkan lahan tersebut kepada Parisada Hindu Dharma untuk memanfaatkan lahan tersebut sebagai tempat persembahyangan. Perjalanan panjang dan gotong royong komunitas Hindu beserta Pemerintah membuahkan hasil, pada 12 Mei 1973, Pura Aditya Jaya resmi menjadi pura pertama di Jakarta, dan hingga hari ini masih menjadi pusat kegiatan spiritual dan budaya Hindu terbesar di ibukota.

Arsitektur pura ini mengikuti konsep Tri Mandala, tiga zona sakral dalam ajaran Hindu:

  • Jaba / Kanistama Mandala, area terluar tempat orang mempersiapkan diri. Di zona ini terdapat tempat parkir, penjual perlengkapan persembahyangan dan warung yang menyediakan beraneka macam menu khas Bali.
  • Madya Mandala, zona tengah dengan beberapa bangunan untuk kantor pengurus, penyimpanan sarana persembahyangan dan tempat kegiatan sosial. Sebelum melintasi gerbang bentar memasuki zona ini, terdapat papan panduan yang bertuliskan beberapa aturan sebelum memasuki area.
  • Utama Mandala, zona paling dalam dan paling suci, tempat berdirinya padmasana, simbol pemujaan kepada Sang Hyang Widhi.

Yang menarik, Pura Aditya Jaya tidak hanya berfungsi sebagai tempat sembahyang. Di hari-hari besar seperti Galungan, Kuningan atau Nyepi tentu saja suasana akan semakin hidup, namun di luar hari-hari besar itu, pura ini juga menjadi ruang belajar. Tempat masyarakat lintas agama berkunjung untuk saling mengenal, anak muda dan dewasa belajar gamelan atau menari, ada juga yang sekadar berkumpul setelah sembahyang. Bagi para perantau, pura ini pasti jadi rumah kedua, tempat menambatkan rindu pada kampung halaman.

Saya dan kawan-kawan yang datang dari beragam latar belakang suku dan agama disambut dengan sangat baik oleh pengurus, diberikan banyak penjelasan baik tentang pura maupun agama Hindu itu sendiri. Kami diijinkan masuk ke ke area paling suci untuk melihat lebih dekat seperti apa bangunan peribadatan dan bagaimana umat Hindu beribadah.

Semakin ke dalam suasana semakin tenang, di antara aroma dupa dan helaian bunga kamboja, saya melihat beberapa orang tengah bersiap sembahyang. Cukup lama saya berada di pelataran Utama Mandala ini, diam memperhatikan umat yang sedang bersembahyang. Memang benar, momen ibadah semua umat, apa pun agamanya, saat mereka sedang fokus mengoneksikan diri pada Sang Maha Pencipta selalu menciptakan suasana magis penuh ketenangan.

Sebagai seorang muslimah, kunjungan ke Pura Aditya Jaya memberi saya pengalaman dan kesan yang hangat. Sekali lagi, Jakarta yang begitu beragam dan kadang nampak keras mengingatkan saya bahwa harmoni bukanlah sesuatu yang utopis, ia nyata, tumbuh dari usaha untuk saling mengenal dan sikap saling menghargai. Perbedaan tidak harus menciptakan jarak, justru bisa menjadi jembatan kecil yang membuat kota ini terasa semakin manusiawi.

📍Pura Adhitya Jaya 
Jl. Daksinapati Raya No.10
Rawamangun, Jakarta Timur

Pengurus pura bisa dihubungi melalui Instagram.

Pura Aditya Jaya buka setiap hari. Siapa saja boleh mengunjungi komplek pura ini secara gratis, tanpa dipungut biaya. Bagi pengunjung yang ingin melakukan persembahyangan atau hanya sekadar ingin berwisata religi di pura ini, wajib mengenakan pakaian yang rapi dan sopan serta mematuhi peraturan yang ada.

Leave a Comment