Susia Garden: Sebuah Keteduhan di Tengah Kota

Hidup di Jakarta di mana setiap hari kita berada di antara padatnya gedung dan perumahan, ramainya jalan dengan bising deru kendaraan, panasnya cuaca dan polusi udara, menemukan tempat yang hijau dan tenang terasa seperti menemukan oasis di tengah gurun. Oasis itu adalah Susia Garden, sebuah kebun kecil, tersembunyi di tengah permukiman kawasan Kalibata, Jakarta Selatan.

Susia Garden berada di dalam sebuah kompleks perumahan elit yang sudah cukup lama, Kalibata Indah. Tidak ada papan besar yang menunjukkan arah ke kebun, tapi sama sekali tak sulit menemukannya, ikuti saja arahan googlemaps, atau bertanya pada petugas pos keamanan di gerbang.

Di sinilah keunikan Susia Garden, ia bukan taman kota yang dirancang rapi oleh pemerintah, bukan pula lokasi yang dibuat oleh pengusaha kuliner atau tempat wisata, melainkan hasil inisiatif warga memanfaatkan lahan tidur yang ternyata statusnya adalah tanah sengketa, di bantaran Kali Ciliwung, yang persis berada di belakang kebun.

Untuk menuju lokasi dengan kendaraan umum, paling mudah naik commuter line, turun di Stasiun Pasar Minggu Baru. Selebihnya, perjalanan bisa dilanjutkan dengan ojek online atau jalan kaki sekitar 550 meter kalau sanggup.

Suasana adem mulai terasa saat mendekati kebun, di bagian belakang komplek, masih banyak pohon-pohon besar yang cukup rindang menyajikan udara yang lebih segar. Suara aliran air sungai Ciliwung, menambah suasana tenang, ditambah lagi memang tak banyak kendaraan berlalu lalang di sana. Menyenangkan.

Memasuki area kebun, suasana serupa akan kita temui, lahan seluas kurang lebih 3000 meter persegi ini, sebagian besar ditanami berbagai jenis sayur dan pohon buah. Paling depan ada pohon jeruk bali yang sedang berbuah cukup banyak, di belakangnya ada kelengkeng yang belum waktunya berbuah. Semua buah di sini boleh kita petik, asik sih, tanpa ikut menanam, bisa merasakan panen buahnya.

Di area belakang, ada pohon jambu kristal dan jambu air yang bakal buahnya cukup banyak, dan sayangnya belum siap dipetik. Ya sudah lah, saya cukup senang bisa menikmati lontong sayur, menu makan siang, yang saya santap di meja yang persis berada di bawah jambu air bergelantungan, haha! šŸ˜…

Disediakan juga saung-saung dan meja-meja untuk menikmati pilihan makanan yang dijual di sana. Tidak terlalu banyak pilihan, tapi lumayan lah. Bakso nampaknya yang jadi favorit banyak pengunjung.

Di antara area makan, pekerja kebun sedang menyiram dan merapikan tanaman sayur dan buah. Ada melon dan jagung yang baru ditanam, tomat, terong yang mulai berbuah, kale lokal, semuanya subur! Favorit saya anggur hijau yang tumbuh segar bergerombol itu. Kata pak kebun, rasanya manis, meski ukurannya tak bisa sebesar versi buah impornya.

Saya kemarin sempat beli bayam brazil lokal, yang ternyata enak juga untuk melengkapi pasta aglio udang yang sering saya buat di rumah. Versi siap makan berupa keripik bayam juga bisa dibeli di kasir. Kalau mau coba tanam, kata pak kebunnya mudah sekali tumbuhnya. Iya juga sih, kalau saya perhatikan, mirip-mirip dengan tanaman krokot yang pasti hidup meski di tanam oleh yang baru mulai belajar berkebun.

Menyenangkan melihat inisiatif warga berhasil mengubah lahan terbengkalai menjadi kebun, tempat warga, bahkan pengunjung luar komplek bisa berinteraksi. Sekedar makan siang sambil menyegarkan mata, atau belajar cara menanam. Semua dimulai dari dana swadaya, sekarang sudah jadi binaan Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Perikanan Jakarta.

Dan kebun ini bukan cuma soal ketahanan pangan, melainkan ketahanan tekad warga untuk tetap merawat meski beberapa kali kebun habis terendam saat kali Ciliwung meluap. Tanaman sayur hanyut, pohon dan saung-saung rusak, tapi alih-alih menyerah, mereka menanam, dari awal lagi. Banjir tidak membuat mereka berhenti, justru memperkuat tekad untuk menjaga ruang ini agar tetap hidup.

Semoga catatan ini bisa menjadi inspirasi buat kita semua yang punya sisa lahan menganggur, di belakang rumah, di pinggir gang, bahkan di atap sekalipun, bisa juga mulai menanam. Karena pada akhirnya menanam bukan sekedar soal hasil panen, tapi tentang mengembalikan ruang bagi alam untuk hadir kembali di sekitar kita, sekecil apa pun bentuknya.

šŸ“ Susia Garden
Jl. Lengkeng Blok I No.8
Rawajati, Pancoran, Jakarta Selatan

Leave a Comment