Saat liburan seringkali identik dengan pergi ke tempat-tempat yang sedang jadi pusat perhatian. Seperti biasa, saya si penikmat kesunyian lebih memilih menelusuri sudut-sudut sepi kota Jakarta, mencari perjumpaan dengan masa lalu yang tak banyak diketahui orang. Kali ini saya susuri ulang kawasan yang introduksinya sudah saya dapat saat blusukan Ngojak #55, dan lebih fokus untuk mencari jejak Kamp Interniran Cideng.


Bermodalkan sebuah peta lama yang saya temukan di sebuah blog komunitas keluarga penyintas Tjideng Kamp, saya menemukan sebidang area di sebagian kawasan Cideng yang sebagian besar nama jalan yang diambil dari nama sungai, masih bertahan hingga sekarang.

Perjalanan saya terinspirasi rute jalan kaki di blog seorang Belanda yang saya temukan di internet. Sedikit berbeda, saya mulai dari sebuah jalan yang pada masa kolonial dikenal sebagai Laan Trivelli, salah satu ruas penting dalam jaringan pemukiman kolonial di Batavia yang membentang dari Jalan Abdul Muis, menyeberangi Kali Cideng, lanjut ke barat berakhir di Tjitaroemweg, atau Jalan Citarum sekarang. Nama “Laan Trivelli” tetap dipakai hingga pertengahan 1950-an sebelum berubah menjadi Jalan Tanah Abang II yang kita kenal sekarang.

Memasuki ruas jalan Tanah Abang II dari Jalan Cideng Barat, ada sebuah kedai kopi yang berada tepat di sudut jalan, dari blog di atas juga saya ketahui, tepat di sini dulunya adalah lokasi komandan kamp Jepang. Di area yang dulu termasuk wilayah Blok I kamp, terdapat kantor administrasi, dan sebuah tanah lapang.
Koempoelan atau apel diadakan pagi hari di tanah lapang, di bawah terik matahari, di mana semua orang di kamp harus berbaris, baik bayi, lansia, orang sehat (jika ada yang masih sehat), atau yang hampir meninggal. Semua wanita dan anak-anak berbaris dalam kelompok-kelompok untuk dihitung oleh orang Jepang, lalu dihitung lagi dan lagi, berulang-ulang!

Tetapi selalu ada sesuatu yang menyebabkan jumlah tahanan bertentangan dengan data dalam catatan administrasi kamp, sehingga koempoelan ini bisa memakan waktu berjam-jam. Terik matahari siang itu membuat saya mudah membayangkan kesengsaraannya.

Lanjut berjalan ke arah barat, menemukan sebuah rumah tua yang sekarang digunakan sebagai lokasi sortir perusahaan pengiriman barang, meski kondisinya tidak terlalu terawat baik, masih bisa menunjukkan sisa-sisa kemegahannya.
Di masa kolonial, sekitar akhir 1930an, Cideng adalah kawasan pemukiman elit, rumah-rumah besar berhalaman luas berdiri di sepanjang jalan menandakan status sosial penghuni mereka. Namun dalam sekedip mata, ketika Jepang menduduki Hindia Belanda pada 1942–1945, rumah-rumah ini berubah fungsi menjadi kamp, tempat ribuan wanita dan anak-anak Eropa ditawan dalam kondisi yang sangat tak nyaman.
Kawat berduri dipasang di pintu masuk kamp yang dibatasi oleh gedek, atau dinding anyaman bambu. Tentara penjaga melakukan pemeriksaan rutin, dan kehidupan sehari-hari interniran penuh dengan penderitaan akibat kekurangan makanan, penyakit, dan kondisi tempat tinggal yang sempit. Kamp ini berada di kawasan yang kini meliputi jalan-jalan yang saya susuri tadi, dan keberadaannya nyaris terlupakan oleh banyak orang. Foto-foto dan videonya dapat dengan mudah didapatkan di internet.
Saya terus menyusuri Jalan Tanah Abang II sampai ujung, di pertemuan dengan Jalan Citarum, bila belok ke kanan, saya akan menuju lokasi yang dulunya adalah Blok III dan IV. Saya memutuskan belok ke kiri, menemukan sebuah warung milik warga yang leluhurnya asli perkampungan di sisi barat kamp, seberang rel kereta dan kanal banjir barat.

Pak Agus sejak lahir tahun 1958, bermukim di Jalan Citarum. Istrinya, Bu Ningsih, pendatang dari Bojonegoro, sejak 1980an. Keduanya sama sekali tak pernah mendengar kisah kelam kamp interniran ini. Benar rupanya, sejarah harus terus diceritakan agar tetap menjadi memori dan ruang belajar kolektif.



Di Jalan Citarum yang dahulu adalah Blok II, saya menemukan beberapa rumah tua yang masih relatif utuh, mirip dengan rumah-rumah yang saya lihat di arsip mengenai keberadaan kamp ini. Berdiri dengan dinding-dinding yang mulai pudar, bentuk atapnya rata-rata masih sama.

Ada satu rumah yang posisinya cukup unik, terjepit dua bangunan modern bertingkat cukup tinggi. Bentuk rumahnya sepertinya masih asli dengan kondisi yang terawat baik. Pikiran saya berkelana menembus zaman, merasakan detak kehidupan berlapis, yang pernah berada di dalam rumah itu.
Rumah-rumah yang dibangun dengan niat memberi rasa aman dan kebanggaan, dengan jendela yang menghadap ke masa depan, dalam sekejap waktu berubah menjadi ruang sempit penyangga ketakutan, kelaparan, dan kehilangan martabat.
Tak terbayangkan betapa besar beban sejarah yang pernah menempel di dinding-dinding ini. Dinding yang sempat merekam tawa keluarga sebelum kemudian dipaksa menghafal bisik-bisik penuh kekhawatiran. Namun di saat yang sama, saya berharap di masa kini rumah itu menjadi sumber kedamaian bagi penghuninya sekarang.
Penelusuran di eks Kamp Cideng akhirnya mengerucut pada satu kesadaran sunyi: kenyamanan hari ini bukan jaminan keabadian, betapa rapuhnya takdir yang benar-benar tak pernah ada dalam genggaman manusia.