Kalau dihitung sejak 1964, berarti tak lama lagi Gudeg Pejompongan ini akan memasuki usia 60 tahun ya? Bukan waktu singkat untuk sebuah usaha.
Saya sendiri baru mengenalnya sekitar tahun 2003, dua dekade lalu saat baru-baru masuk ibukota. Perkenalan yang dimulai karena ada seorang kawan ngekost di area ini.
Tahun 2004 pindah ke Jogja, dan sampai saya kembali ke Jakarta tahun 2010, belum pernah lagi berkunjung ke sana. Beberapa waktu lalu, lagi-lagi karena kebetulan ada kawan yang tinggal di area ini, warung gudeg ini masuk ke salah satu tempat makan yang direkomen oleh google maps untuk makan siang.
Jujur saya sudah ngga terlalu ingat lokasinya di mana, jadi saya ikuti saja arahan navigasi. Setiba di lokasi saya masih tak mampu mengingat apa yang saya lihat dua puluh tahun yang lalu.
Warungnya sederhana. Nampak seperti rumah yang cukup tua, didominasi warna hijau. Sebuah plang penanda menyebut tahun berdirinya dipasang di bagian depan.

Begitu masuk, sebuah etalase sederhana tempat menyajikan gudeg dan uborampenya menyambut pelanggan yang datang, diikuti deretan meja kursi khas warung-warung yang cukup berusia.

Sayang, hari itu saya dipepet jam ganjil genap, terlalu berisiko untuk makan di tempat. Padahal, gudeg, sambel krecek, ayam opor dan telur pindang ini sudah ngawe-awe menggoda selera 🤣.




Kalau kamu ngga suka ayam opor dan gudeg, kombinasi buntil daun pepaya dan ayam goreng serundeng ini juga bisa kamu jadikan pilihan.


Untuk sebuah warung yang legendaris, harganya masih masuk akal. Sepadan dengan porsi dan rasanya.

Yang cukup menantang adalah dua puluh enam kilometer jarak yang harus saya tempuh dari rumah kalau mau makan di sini. Haha! 😂
Yang kebetulan melintas di wilayah Pejompongan dan sekitarnya saat perut mulai protes minta diisi, silakaaann.
📍Gudeg Pejompongan Jl. Bendungan Hilir Blok G2 No.15, Bendungan Hilir, Jakpus