Mie Saroja, Lima Puluh Tahun Bertahan di Bogor

Kalau lewat satu tempat dan lihat parkiran atau kerumunan orang gini saya pasti penasaran, ada apaan tuh? Ditutup dengan melipir, menuntaskan penasaran.

Tapi kali ini ngga begitu ceritanya, saya direkomendasi teman, pas kelaperan abis takziah di Bogor. Katanya ini mie goreng lejen, udah dari taun 70an dan yang beli pasti ngantri panjang.

Maka setelah Maghriban di Masjid Sudirman, saya dan pak bojo meluncur ke Cilendek. Warungnya sangat sederhana, hanya sebuah ruang ukuran kurang lebih 3 x 6 meter, dengan gerobak di bagian depan.

Saat tiba antriannya belum seramai ini. Tapi saya sudah harus nunggu masak 6 porsi pesanan pembeli yang sudah datang lebih dulu.

Sambil nunggu, mulai lah orang berdatangan. Bahkan saat mie goreng saya belum selesai dibuat, mereka udah close order. Jam 19.30, dua belas kilogram mie yang mereka produksi sendiri, sudah habis. Telas! 😁.

Sebenarnya ada pilihan selain mie, yaitu nasi, bihun dan kwetiau. Tapi nampaknya best seller-nya memang mie goreng. Satu dua pembeli yang tidak kebagian berupaya merayu penjual, untuk memberikan mie pesanan orang lain yang sudah akan dimasak untuk dirinya. Sebagian lainnya balik kanan, ngga jadi pesan.

Akhirnya pesanan saya tiba. Asli kaget banget, lihat ukurannya yang jumbo. Karena saya makan sama pak suami aja tuh, bisa habis berdua. Kalau ajak teman perempuan, pasti tak akan sanggup mie sebanyak itu. Serius, sebanyak itu.

Selain porsi jumbo, yang khas dari warung mie ini adalah, potongan krecek atau kerupuk kulit yang mendampingi potongan ayam dan bakso di mie goreng pada umumnya. Mie gorengnya agak nyemek, penampilannya mirip dengan mie tumis ala Aceh.

Rasanya? Semua kembali ke selera ya, tapi sebuah usaha kuliner yang sanggup bertahan hingga lima dasawarsa patut diapresiasi juga. Rasanya setipe dengan mie goreng gerobakan pada umumnya. Kecapnya banyak, jadi rasa manisnya lumayan terasa. Dan, somehow, ini mengingatkan saya pada mie goreng a la pinggir jalan di kota Batu.

Harga? 52 ribu untuk seporsi mie goreng dan kwetiau goreng yang saya bawa pulang. Cukup masuk akal mengingat porsinya yang besar.

Nah, jangan bingung kalau cek di peta ada dua lokasi ya. Memang ada dua cabang yang dikelola keluarga penerus Mie Saroja. Yang satu di Cimanggu, yang saya cobain ini di Cilendek. Kalau lagi Bogor, silakan coba!

Mie Saroja
Jl. Cilendek Gg. Makam No.89
Cilendek Barat, Bogor

Leave a Comment