Kalau bukan karena roadtrip, saya ngga akan tahu kalau ada perkebunan sawit di pulau Jawa. Beneran deh, selama ini sawit saya pikir kalau ngga di Sumatra, ya Kalimantan. Kemarin jadi takjub beneran lihat kebun sawit membentang di sepanjang jalan, sejak di wilayah Cigudeg dan Jasinga, Kabupaten Bogor, sampai dengan Kabupaten Lebak, Banten.

Dan ternyata menurut data BPS, di Jawa Barat selain Kabupaten Bogor, kebun sawit juga terdapat di Subang, Garut, Tasikmalaya, Sukabumi dan Cianjur. Sebagian ditanam dan dikelola oleh PTPN VIII, sebagiannya lagi oleh usaha perkebunan rakyat.
Kalau saya baca-baca sejarah perkeretaapian di Banten, hampir semua menyebut kelapa sebagai komoditas yang banyak diangkut dari wilayah Bogor Barat dan Banten. Lalu sejak kapan sebenarnya sawit ada di sana?
Cerita sawit di Indonesia bermula dari empat bibit yang didatangkan Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1848. Dua bibit berasal dari Bourbon (Mauritius, Afrika tengah) sedangkan dua bibit lainnya dari Hortus Botanicus, Amsterdam, Belanda. Bibit-bibit itu ditanam di Kebun Raya Bogor dan kemudian pada 1853, keempatnya berbuah. Bijinya lalu disebarkan secara gratis, meski saat itu pohon sawit hanya digunakan sebagai penghias jalan.
Baru pada tahun 1856-1870, dilakukan uji coba perkebunan sawit di Banyumas dan tidak menunjukkan hasil yang baik. Uji coba berikutnya dilakukan di Sumatera Selatan. Tidak diketemukan catatan pasti kapan akhirnya sawit mulai ditanam di Jawa Barat dan Banten, hanya diketahui pada tahun 1895 kedua wilayah ini sudah tercatat sebagai daerah penghasil sawit.
Kebun sawit di Cigudeg dan Lebak dulunya berada di dalam satu wilayah, yaitu Karesidenan Jasinga. Jasinga saat ini menjadi sebuah kecamatan paling barat di Kabupaten Bogor yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Lebak, Banten. Diduga, perkebunan sawit masa itu berada dalam kepemilikan tuan tanah terkenal dari Bogor Barat, Gerrit Willem Casimir van Motman, yang jejak sejarah berupa makam keluarga, Masoleum Van Motman di Kampung Pilar, Sibanteng, Leuwisadeng dan landhuis (rumah desa, jantung administratif dari tanah perkebunan partikelir masa HIndia Belanda) yang sekarang beralih fungsi menjadi Wisma Tamu IPB, Dramaga, Bogor.
Saya sempat menemukan juga sebuah informasi bahwa terdapat sisa rumah Kepala Personalia Perkebunan Cikadu atau Residentie Emploje Van Tjikadoe di Cisalak yang diperkirakan dibangun pada tahun 1935. Sayang sekali bangunan utamanya sudah hancur hanya tersisa besi tandon air saja meski statusnya sudah menjadi cagar budaya. Tapi belum nemu juga apakah si kepala personalia ini anak buah van Motman atau bukan, you know lah gengs, sebagai masyarakat bertutur, budaya mencatat atau mendokumentasikan peristiwa bukan hal yang banyak dilakukan. Sayang ya…

Apakah saat ini perkebunan ini masih produktif? Jawabnya: masih…
Hasil kebun berupa tandan buah segar, diserap oleh dua pabrik pengolahan CPO (crude palm oil). Pabrik Cikasungka di Cigudeg, Kabupaten Bogor, Jawa Barat dan Pabrik Kertajaya di Malingping, Kabupaten Lebak, Banten. Sayangnya, kemarin saya ngga sempat explore lebih jauh untuk cari informasi mengenai produksi sawit di kedua pabrik tersebut.
Sebagian lahan perkebunan non produktif (pohon-pohonnya sudah tua) seluas kurang lebih 500 hektar di Kabupaten Bogor beberapa waktu lalu dialihfungsikan menjadi lahan bagi hunian tetap bagi masyarakat yang rumahnya terdampak atau masuk dalam area rawan bencana.
Demikian sekelumit cerita tentang sawit di Bogor dan Banten yang dapat saya temukan. Mau juga jelajahi lebih dalam khusus soal sawit baik di kedua wilayah ini atau cari-cari cerita tentang sawit di daerah lain.

Karena, meski menurut data BPS sampai tahun 2021 tidak ada data kebun sawit di provinsi lain di Jawa, tapi kok saya nemu artikel tentang kebun sawit di Blitar, dan beberapa daerah lain. Hahaha, banyak maunya memaaaang, doakan ada rejekinya.