Mausoleum Van Motman, Jejak Tuan Tanah di Bogor Barat

Tempat ini adalah salah satu jejak sejarah yang bisa menceritakan, Bogor Barat punya peranan penting dalam perkembangan Bogor.

Ada sebuah keluarga tuan tanah yang kaya raya. Dan ini adalah makam keluarganya. Mausoleum Van Motman, lokasinya di Kampung Pilar, Sibanteng, Leuwisadeng, kurang lebih 20 km dari Dramaga.

Tercatat lima nama generasi Van Motman. Pertama, Gerrit Willem Casimir, keberhasilannya membantu Daendels untuk melawan Sultan Banten yang melawan pembangunan Jalan Raya Pos, yang membuatnya dihadiahi tanah luas. Tanah hadiah itu kemudian dikembangkannya hingga mencapai 117 ribu hektar! Meliputi wilayah Semplak, Kedungbadak, Rumpin, Cikoleang, Tarogong, Dramaga, Ciampea, Jambu, Nanggung, Bolang, Jasinga, Pondok Gedeh, Pasar Langkap, Gunung Rosa, sampai Cikandi Ilir dan Udik yang sekarang masuk dalam wilayah Banten.

Gerrit mati muda, dia juga yang pertama dimakamkan di sini. Eh tapi nama yg tertulis di depan kok inisialnya P.R? Itu adalah sngkatan dari Pieter Reinier, generasi ketiga Van Motman sekaligus yang membangun mausoleum ini.

Sudah terbayang seberapa kaya rayanya mereka dari sisa kemewahan makam ini?

Bangunan induk yang bentuknya konon merupakan replika Gereja Santo Petrus di Italia ini dulu berlapis marmer mewah yang didatangkan khusus dari Italia.

Di sisi kanan dan kiri bagian dalamnya, terdapat ruang bertingkat dua, kata Pak Ucu, sang penjaga makam, dulunya berdinding marmer dan berpenutup kaca, untuk menyimpan mummi keluarga yang disemayamkan di sini.

Semua sekarang sudah rusak parah akibat penjarahan besar-besaran saat makam ini ditinggalkan keluarga pada tahun 1950an. Bahkan muminya juga tak diketahui keberadaannya šŸ™ˆ. Bersama empat mumi yang disimpan dalam makam megah berkubah, total ada empat puluh jenazah yg dimakamkan di komplek Van Motman ini.

Sebagian ditandai dengan pilar-pilar nisan yang jadi asal muasal kenapa kampung ini disebut Kampung Pilar. Sebagian masih ada, meski sudah miring dan rusak parah, sebagian lagi roboh. Plakat² nama di dinding pilar ini juga sudah hilang semua, habis dijarah. Tapi kalau baca catatan sejarahnya, dari 40 makam, separuh lebih mati di usia muda, bahkan anak-anak. Jadi mikir, jaman itu ada apa ya? Apa ada pageblug juga? 😁

Siapa yg disemayamkan di kubah, siapa yang terakhir dimakamkan di sini, tidak jelas diketahui. Yg jelas, tuan tanah generasi kelima yg bernama sama dengam pendiri makam ini tidak wafat di Indonesia. Ia meninggalkan Indonesia setelah asetnya dinasionalisasi pasca kemerdekaan. Ssstttt, kata Pak Ucu, dan ada saya baca juga thesis mahasiswa UNM, diduga PR van Motman Jr terlibat dalam pemasokan senjata ke laskar gerakan separatis.

Di antara pilar-pilar nisan, ada tanaman lada yang nampak sudah tua. Saya jadi ingat, di Pulosari, Pandeglang ada bonggol-bonggol tua tanaman lada peninggalan masa kolonial. Jadi mikir, ini jangan-jangan juga dari jaman penjajahan 🤭.
Nah kalau makamnya aja megah begini. Rumahnya udah kebayang ya. Dulu, keluarga ini punya tiga landhuis, (rumah perlebunan), diĀ Jasinga sekarang sudah hancur, di Jambu, hilang jejaknya, dan satu lagi diĀ Dramaga, ini masih bisa kita kunjungi, sekarang jadi Wisma Tamu IPB. Lain waktu kita berkunjung ke sana.

Reposted from Instagram

Leave a Comment