“Puniko ron ingkang dipun pecel,” yang berarti “Ini adalah dedaunan yang direbus dan diperas airnya”,
Itu adalah sepenggal kisah tentang Ki Ageng Pemanahan saat pertama kali mengenal pecel sewaktu dijamu oleh Ki Ageng Karanglo dari Taji (sekitar Klaten) dengan nasi, pecel, dan ayam saat akan membuka lahan di Mentaok, cikal bakal Mataram.
Tapi ternyata, usia pecel jauh mundur lagi ke belakang. Pecel pertama kali disebutkan dalam Kakawin Ramayana, yang ditulis pada era Mataram Kuno/Mataram Hindu dibawah raja Rakai Watukura Dyah Balitung (898–930 M).
“bênêmanya taman sipi riṅ mahêm mukêt ulam iṅ rêcehan ta pêcêl-pêcêlan śuci tar pacalan cêcêp iṅ jruk asin nasi tāsi saménaka”
Artinya, “Semua jenis hidangan yang disiapkan dalam bambu panas, daging cincang yang dicampur dengan sayuran, pêcêl (salad sayuran) murni. Letakkan perasan jeruk (saat memakannya). Mintalah nasi sepuasnya”.
Prasasti Siman (943 M) dari Kediri juga menyebut jenis makanan yang terbuat dari sayuran daun yang direbus dan diolah secara khusus dengan bumbu rempah. Pecel telah seribu tahun lebih menembus lorong waktu, hidup di berbagai jaman, hingga hari ini. Kalau dari catatan di atas, diketahui pecel pertama kali berada di dalam area kekuasaan Mataram Kuno yang diperkirakan berada di Bhumi Mataram, alias Yogyakarta saat ini. Tapi kalau ditanya hari ini, daerah mana yang paling terkenal sebagai asalnya pecel, bisa jadi jawaban yang paling sering muncul adalah Madiun ya?
Madiun memang sukses membangun brand sebagai kota pecel, tapi sesungguhnya yang terkenal dengan pecel bukan cuma Madiun gengs. Daerah lain yang juga terkenal dengan sambel pecelnya adalah Blitar. Sementara Kediri sangat terkenal dengan pecel tumpangnya dan Solo dengan pecel wijen. Ada bedanya kah kira-kira?
Bumbu pecel Madiun cenderung berwarna terang, tekstur gilingan kacangnya halus, rasanya lebih dominan manis. Sebaliknya pecel Blitar cenderung berwarna gelap, tekstur gilingan kacangnya lebih kasar dan rasanya lebih pedas. Keduanya berbahan dasar kacang tanah, yang dibumbui rempah-rempah, dan yang tak boleh ketinggalan dari pecel adalah wangi kencur dan daun jeruk purut. Berbeda dengan dengan sambel pecel tumpang khas Kediri yang berbahan dasar tempe semangit, alias tempe yang dibiarkan dua hingga tiga hari terfermentasi lebih lama sehingga menimbulkan bau khas. Sementara Solo, pecel disajikan dengan sambal pecel berbahan wijen hitam yang memberikan penampilan yang unik.
Pecel juga sering disebut sebagai satu salad versi Indonesia karena dalam seporsi pecel didominasi berbagai sayuran yang direbus, yang disajikan dengan siraman sambal pecel. Tak ada pakem yang kaku mengenai pilihan sayur yang disajikan. Semua tergantung selera atau apa saja yang tersedia, mulai dari bayam, kacang panjang, tauge, kangkung, daun singkong, daun pepaya, kol, labu lalap, hingga yang agak jarang ditemukan, semacam kenikir dan kembang turi. Terkadang, penyajiannya juga dilengkapi dengan lalap timun, bluntas, kemangi dan petai cina.
Lauk pauk pendampingnya juga sangat beragam. Di Jogja, pecel sering ditemani oleh tahu dan tempe bacem, di Surabaya pecel sering disajikan dengan serundeng, telur bumbu bali dan empal segede sandal! 😂. Selebihnya, pecel bisa dijumpai disajikan dengan tempe goreng, telur ceplok, sate telur puyuh, sate ati ampela, dan sebagainya, dan tentu saja yang tak boleh dilewatkan, rempeyek kacang atau teri.
Eh, hampir semua yang saya sebutkan di atas ada daerah lain yang punya pecel sebagai makanan daerahnya? Banyak gengs, dan ngga cuma di Jawa. Pak suami cerita Minang punya Katupek Pical, di Aceh dikenal sebagai Pecal Aceh.
Kalau kamu sukanya pecel yang kaya gimana gengs? Jangan bilang pecel lele ya, itu ceritanya beda lagi, nanti ya 😁