Kalau kamu berkendara di Jalan Cikini Raya, di sisi kiri ada bangunan apartemen megah tak jauh dari Taman Ismail Marzuki. Siapa sangka terselip di sini sebuah makam tua bersejarah saksi perkembangan Islam di Jakarta. Saya ajak kamu berkunjung ke Makam Sayid Abdurrahman bin Abdullah Alhabsyi, yang lebih dikenal masyarakat sebagai Habib Cikini.

Beliau adalah salah satu ulama Betawi putra Semarang, generasi ketiga dari keluarga Al Habsyi. Kakeknya, Sayyid Muhammad bin Husein Al Habsyi hijrah dari Hadramaut ke Pontianak, menikah dengan perempuan setempat. Ayahnya Sayyid Abdullah bin Muhammad Al Habsyi, lahir di Pontianak, hijrah ke Semarang, menikah dengan seorang syarifah keturunan keluarga Assegaf, wafat tenggelam setelah kapalnya karam dalam pelayaran ke Pontianak.

Habib Cikini lahir di Semarang, hijrah ke Batavia, sempat menikah dengan Syarifah Rogayah binti Husein bin Yahya (adik dari maestro lukis Raden Saleh). Menikah kembali dengan Nyai Salmah karena tidak mendapat keturunan dari pernikahan sebelumnya, dan akhirnya memiliki tujuh orang anak, salah satunya yang kemudian menjadi salah satu ulama besar Betawi, Habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi, atau yang lebih dikenal dengan Habib Ali Kwitang, pendiri Masjid Kwitang dan pelopor majelis ta’lim di Nusantara. Cerita kunjungan saya ke Masjid Kwitang bisa di baca di sini.
Makam Habib Cikini terletak di antara dua menara apartemen Menteng Park, di sebuah lahan yang dulu dimiliki oleh Raden Saleh. Beliau dimakamkan bersama Syarifah Rogayah, istri pertamanya.


Benar-benar terselip, karena sejatinya makam ini nyaris digusur saat pembangunan apartemen di tahun 2010. Cerita dari penjaga Masjid Kwitang tentang kesulitan pengembang saat memindahkan makam terkonfirmasi dalam beberapa artikel yang saya baca. Disebutkan bahkan ada crane yang patah tak sanggup mengangkat satu blok makam yang sudah siap dipindahkan. Dari tanah makam ini bahkan kemudian muncul mata air yang hingga kini tidak pernah kering.

Masyarakat yang datang berziarah kerap mengambil air dari sumber air ini karena dipercaya bisa menjadi perantara pengobatan dan lain-lain atas ijin Allah. Bagian ini mohon jangan ajak saya berdebat ya, saya cuma menuliskan fakta, kamu sejalan atau tidak, kembali ke masing-masing saja.
Karena segala upaya pemindahan tidak berhasil, akhirnya pihak pengembang mengalah dan membiarkan makam tetap berada di lokasi asli, bahkan kemudian ikut membantu merenovasi menjadi yang bisa kita lihat sekarang. Serem juga kali ya, kalau dibiarkan sesuai aslinya hehehe.


Untuk berkunjung ke sini. Lebih mudah lewat Jalan Sekolah Seni, di pinggir sungai Ciliwung, belakang Taman Ismail Marzuki. Masuk dari Masjid Raden Saleh, nanti akan menemukan papan penandanya.


Kendaraan roda empat parkir di pinggir jalan, lalu jalan kaki masuk lorong kurang lebih 100 meter. Jangan kaget begitu sampai dalam kalau menemukan bangunan mirip masjid. Bukan ya, ini bukan masjid, ada ruangan lain yang disediakan untuk shalat, ada juga ruangan yang dikhususkan untuk keturunan atau keluarga yang datang berziarah.
Menurut informasi beberapa orang yang saya temui di lokasi, makam bisa dikunjungi 24 jam. Siapa tahu kamu ketemu pejabat dan orang-orang penting yang lebih sering berziarah di malam hari hehehe. Selamat berkunjung.
📍Istana Makam Habib Abdurrahman Al Habsyi Jl. Sekolah Seni, RT.2/RW.2, Cikini, Kec. Menteng, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 15810