Saking seringnya kelilingan ngurus pekerjaan di Jakarta yang gueeedee ini, saya akhirnya jadi sering mampir ke masjid-masjid di banyak wilayah. Ngga jarang dalam sehari saya bisa dzuhur di timur, ashar di pusat, maghrib di selatan, sekalian arah pulang. Sambil menyelam minum air, sekalian lah ya, saya hunting masjid-masjid menarik yang punya peran dalam perkembangan Islam di ibukota.
Kalau dari yang saya baca, Islam mulai masuk ibukota sejak abad XII-an, lewat para pedagang-pedagang mancanegara yang singgah ke Nusantara, tapi saat itu belum terlalu terasa perkembangannya. Sejak Fatahillah menaklukkan Sunda Kalapa, baru lah ada perkembangan yang berarti. Dan kalau dirunut dari ceritanya, kita bisa bikin tour dengan tema perkembangan Islam di Jakarta dengan berkunjung ke masjid-masjid tua 😁.
Masjid yang akan saya ceritakan kali ini juga berada dalam rangkaian linimasanya. Dan menariknya, masjid ini berada di tengah kota, sama persis dengan Masjid Guru Mughni atau Masjid Pangeran Kuningan, yang nyempil terhimpit gedung-gedung tinggi. Namanya Masjid Hidayatullah Karet Semanggi, yang sebelumnya hanya dikenal sebagai Masjid Karet, masjid tak bernama di wilayah Karet.

Diperkirakan berdiri sejak tahun 1747, di atas sebuah tanah wakaf dari seorang pengusaha batik bernama Muhammad Yusuf. Sosoknya tidak terlalu dikenal, karena setelah mewakafkan tanah, beliau pergi, hilang begitu saja. Eh kok ngga kaya jaman sekarang ya, yang prosesinya bisa panjang dan penuh liputan 🤭.
Masjid Karet berdiri di tepian kali Krukut, dulu luas lahannya mencapai 3000 m2, sekarang tinggal 1600 m2, terkikis pembangunan jalan dan pelebaran sungai. Meski tak ditemukan catatan tertulis, diyakini bangunan utama yang ada saat ini adalah bangunan asli dengan penambahan menara dan perluasan masjid di sisi-sisi luarnya. Di halaman masjid, seperti umumnya masjid-masjid tua, masih banyak terdapat makam pengurus masjid berikut pengikut dan keluarganya.

Kalau kamu berkunjung ke sini, kamu ngga akan menjumpai masjid dengan bentuk pada umumnya, yang bergaya Timur Tengah lengkap dengan kubahnya. Kamu justru akan merasa ini lebih mirip kelenteng, karena atapnya yang bersusun tiga, mirip pagoda Cina.
Dan begitu masuk, kesan Tionghoanya hilang, berganti pemandangan tiang-tiang kayu penuh ukiran, yang mungkin akan membuatmu merasa sedang berada di masjid-masjid tua di Jawa Tengah. Kesan Arab baru terasa saat kita mendongak, ada ukiran-ukiran berhuruf Arab di sana, lalu gantian jendela-jendela akan memunculkan pengaruh langgam budaya Betawi. Menarik ya, empat budaya dalam satu bangunan masjid.




Bagian favorit saya di masjid ini adalah sekitar mihrab. Lengkungan-lengkungan di dinding yang berwarna putih menimbulkan kesan anggun dan hangat, kontras dengan mimbar masjid berbahan kayu berwarna coklat gelap yang memunculkan kesan berwibawa.


Sungguh saya bersyukur masjid ini bertahan di tengah kota, keberadaannya semacam menjadi penyeimbang, pengingat untuk selalu ingat akhirat di tengah kesibukan dunia. Terlebih setelah mengetahui cerita bahwa untuk mempertahankan masjid dari pihak-pihak pengembang yang berniat menggusur masjid atas nama pembangunan ini juga melibatkan perlawanan fisik. Kebayang intimidasi macam apa yang bisa dibuat oknum-oknum di masa itu. Dan yang lebih melegakan lagi, masjid ini sudah berstatus cagar budaya. Semoga tetap lestari, terawat baik dan jamaahnya semangat memakmurkan masjid.
Kalau melintas di seputar Sudirman, Semanggi, Satrio, sempatkan mampir. Lokasinya persis di belakang Sampoerna Strategic Square, kamu bisa mengaksesnya lewat Jalan Sudirman atau Jalan Satrio. Seperti biasa, ikuti panduan gmaps saja, pasti sampai kok. Selamat berkunjung!
📍Masjid Hidayatullah Karet Semanggi
Jl. Masjid Hidayatullah No.3, RW.4, Kuningan, Karet Semanggi, Kecamatan Setiabudi, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12930