Kopi AKA, Cerita Kopi di Lintas Melawai

Karena ngopi adalah budaya yang sebenarnya sudah mengakar lama di masyarakat. Maka tak sulit mencari produk kopi di sekitar kita. Baik dulu maupun sekarang.

Kalau sekarang kita cari minuman kopi di coffeeshop dulu masyarakat ke warung kopi. Kalau sekarang kita cari kopi giling atau biji ke roastery, (di coffeeshop juga ada sih biasanya), dulu masyarakat belanja di toko kopi giling, yang kebanyakan ada di (seputar) pasar tradisional.

Beberapa pasar tradisional di Jakarta sudah saya sambangi untuk hunting kopi. Ciracas, Jatinegara, Gondangdia, ceritanya bisa dibaca di sini. Sekarang kita mlipir agak ke selatan.

Ada Toko Kopi AKA di lintas Melawai muda-mudi selalu pasang aksi, eh. Diawali dari sebuah toko P&D, (Provisien & Dranken, sebuah istilah berbahasa Belanda untuk menyebut toko ritel makanan dan minuman) di sekitar tahun 1970an di Pasar Melawai, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Pak Atung mengemas kopi yang saya pesan

Pak Atung, yang melanjutkan usaha toko kopi ini dari kakaknya menceritakan, tokonya mulai menjual kopi sejak tahun 1980an, bersamaan dengan semakin ramainya kawasan ini oleh karyawan ekspatriat asal Jepang. Bahkan yang menyarankan untuk menjual kopi juga para orang-orang Jepang itu.

Ohhh rupanya ada cerita lain dari tulisan Jepang di plang toko kopi miliknya yang awalnya saya pikir karena berada di kawasan Little Tokyo-nya Jakarta. Lalu, AKA artinya apa? Itu nama kakak Pak Atung yang pertama kali membuka toko ini, heuheuu…

Tampak depan lokasi Pasar Mandiri

Setelah kebakaran Pasar Melawai, toko kopinya pindah ke ke lokasi yang sekarang disebut Pasar Mandiri, berada di Jalan Melawai IX, di selatan gedung Blok M Square yang berdiri megah di bekas lahan pasar yang terbakar. Eks pedagang pasar sempat ditawari untuk direlokasi di dalam gedung baru, tapi cerita lama terulang dimana-mana, bea sewanya terlalu tinggi untuk lokasi pengganti yang tak sepadan.

Deretan kopi yang dijual

Seperti toko kopi giling jadul lainnya, kopi yang tersedia hanya dikelompokkan berdasarkan jenisnya saja, robusta atau arabica. Berbeda dengan roastery jaman now, yang lebih spesifik pengelompokkannya sampai ke daerah asal kopinya, atau yang kita sering dengar dengan sebutan single origin.

Saya mencoba robusta spesial seharga 90 ribu per kilogram, setelah mencoba mencium kedua aroma kopi robusta yang dijual. Sepertinya kok lebih menantang yang satu itu hahaha.

Sempat ditawari juga kopi luwak yang sampai hari ini masih suka dibeli oleh orang-orang Jepang yang belanja kopi. Pembeli orang Jepang ini sudah tak seramai dulu, beberapa ada yang masih datang, beberapa lagi pesan lewat Whatsapp untuk diantar. Dan seperti toko kopi tua lainnya, pelanggan setia toko ini juga masih ada, bahkan titik di gmaps pun yang buat pelanggan toko.

Pak Atung, adalah satu dari sekian cerita pemilik toko kopi tentang mencoba bertahan di tengah dinamika Jakarta. Setiap hari berangkat dari tempat tinggalnya di kawasan Bekasi (agak) Utara, cukup jauh untuk rutinitas orang seusianya lho. Tapi beliau hepi-hepi aja, nyaris sama dengan pemilik toko kopi jadul lain yang pernah saya kunjungi.

Jaman berubah, Jakarta berubah. Hanya mereka yang sanggup menghadapi perubahan yang akan mampu bertahan. Sesekali boleh lah kita datang dan belanja sebagai bentuk dukungan dan penghargaan.

📍Toko Kopi AKA
Jl. Melawai 9 No.24, Melawai
Jakarta Selatan
☎️ +62 812-9235-815

Leave a Comment