Prasasti Batu Tulis Bogor, Cerita Sedih yang Berulang

Bogor kalau dilihat sekilas tanpa melihat jauh ke belakang, hanya akan terasa seperti sebuah kota penyangga Jakarta. Tapi sesungguhnya kota ini menyimpan banyak cerita dari masa lampau yang menjadikannya layak untuk menjadi sebuah kota pusaka. Ini adalah peta kota pusaka Bogor berikut enam kawasan dengan Istana dan Kebun Raya sebagai pusatnya.

Peta kawasan Bogor Kota Pusaka. Sumber: kompas.id

Kawasan permukiman Eropa meliputi Jalan Sudirman dan A. Yani, yang dulu dikenal sebagai Bataviascheweg. Kawasan Karsten meliputi Sempur dan Taman Kencana. Kawasan Perluasan Barat sekarang ini menjadi Jalan Sumeru, ada RSJ pertama di Indonesia di sana. Kawasan Pecinan tentu saja the famous Jalan Suryakencana. Dan Kawasan Empang adalah kawasan komunitas Arab di Bogor.

Masing-masing kawasan dengan karakternya membentuk jati diri kota Bogor, tapi ini belum meliputi seluruh cerita masa lampau Bogor, karena ada satu yang terlewat. Mungkin tidak bermaksud dilewatkan, tapi karena saking jauhnya tertinggal di masa lalu, jejaknya tak banyak yang bisa ditemukan untuk bisa menjadi satu kawasan seperti lainnya. Yang saya maksud adalah masa Kerajaan Sunda dengan ibukotanya, Pakuan Pajajaran.

Semua pasti sepakat, cikal bakal Bogor dimulai sejak masa kerajaan ini berkuasa. Tapi semenjak kehancurannya sekitar tahun 1579an, wilayahnya kosong, sampai tibalah kolonial Belanda mulai membangun Buitenzorg sekitar tahun 1745, hingga menjadi seperti apa yang kita lihat sekarang.

Salah satu yang tersisa dari Pakuan Pajajaran adalah Prasasti Batu Tulis, yang dibuat dalam kesedihan mendalam Prabu Surawisesa, mengenang kejayaan ayahnya, Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi, saat wilayah kekuasaannya mulai lepas satu persatu, direbut kekuatan politik baru, kerajaan Islam.

Sebuah batu berukuran cukup besar, ditatah menuliskan kalimat-kalimat pujian dalam aksara Palawa berbahasa Sansekerta, yang bila diterjemahkan akan berbunyi seperti ini:

"Semoga selamat. Inilah tanda peringatan (untuk) Prabu Ratu almarhum, dinobatkan ia dengan nama Prabu Guru Dewataprana, dinobatkan (lagi) dengan nama Sri Baduga Maharaja ratu penguasa di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata. Dialah yang membuat parit (pertahanan) di Pakuan. Dia anak Rahyang Dewa Niskala yang mendiang di Gunatiga, cucu Rahyang Niskala Wastu Kancana yang mendiang di Nusa Larang. Dialah yang membuat tanda peringatan gunung-gunungan, mengeraskan (jalan) dengan batu, membuat hutan samida, membuat Sanghiyang Talaga Rena Maha Wijaya. Ya dialah (yang membuat semua itu). (ditulis) Dalam tahun Saka lima-pandawa-pangasuh-bumi.”

Di depan batu utama ini terdapat dua buah batu berukuran kecil yang masing-masing berisi cetakan tapak kaki dan bekas tumpuan lutut, yang diduga adalah milik Prabu Surawisesa.

Berikutnya adalah batu yang menyerupai lingga. Kuncen yang menemani kunjungan saya saat itu mengatakan, banyak orang percaya kalau kita bisa memeluk batu dalam posisi seperti menggendong maka keinginan kita akan terpenuhi. Saya tidak berhasil, bisa jadi karena saya juga tidak sambil membuat permohonan, yang jelas sih karena lengan saya tidak cukup panjang dan lentur. Dan ada satu batu lagi, mirip dengan sandaran kursi, saya tak sempat memotretnya.

Batu-batu ini tersimpan dalam sebuah ruangan cungkup, mungkin agar tidak mudah rusak akibat terpapar hujan dan panas. Selebihnya, di luar cungkup masih ada beberapa batu lagi.

Batu pipih besar ini konon dulunya digunakan untuk meletakkan hidangan jamuan bagi tamu. Dikelilingi beberapa batu yang fungsinya sebagai tempat duduk.

Kalau ini sekilas nampak seperti makam. Tapi sebenarnya ini adalah tonggak batu tempat mengikat kuda. Sementara tumpukan batunya adalah kesedihan kedua dari tempat ini, yaitu masa di mana pernah dilakukan penggalian atas perintah mantan Menteri Agama, setelah mendapat bisikan bahwa di lokasi ini tertimbun harta karun yang cukup besar jumlahnya. Tentu saja tak pernah ada harta karun yang ditemukan, penggalian diakhiri setelah mengundang kemarahan masyarakat dan konon datangnya angin kencang di seputar lokasi.

Batu-batu ini kondisinya menurut pak penjaga dikonservasi secara in situ, alias tidak dipindahkan dari posisi asli saat ditemukan oleh Scipio, pemimpin ekspedisi VOC ke arah pedalaman Bogor sekitar tahun 1867. Hal ini yang menimbulkan munculnya dugaan letak keraton Pakuan Pajajaran tak jauh dari lokasi prasasti. Nanti kapan-kapan saya tuliskan terpisah ya.

Secara umum, kondisinya cukup baik, tapi tetap memunculkan kesedihan ketiga, kali ini dari saya. Situs ini terlalu sederhana, tak sebanding dengan cerita kejayaan Pakuan Pajajaran di masa lampau. Andai Surawisesa hidup lagi, bisa jadi dia akan membuat prasasti yang ratapannya lebih dalam dari yang ada. Bangunannya benar-benar terbanting dengan Istana Batutulis milik keluarga Soekarno yang persis berada di seberangnya. Belum lagi saat pak penjaga menyampaikan tak banyak pengunjung yang datang, bahkan bisa-bisa sebagian warga Bogor sudah melupakan keberadaannya.

Ayo, datang. Kenalan sama sejarah. Tapi pertimbangkan ya kalau mau naik kendaraan roda empat pribadi, di sana tidak tersedia lahan parkir, jadi mepet-mepet aja di pinggir jalan gitu. Semoga Pemkot segera kasih perhatian yaaaa.

Note: ilustrasi di awal blog, sumber: Pinterest

Leave a Comment