Kembali ke Masa Lalu Melalui Lorong-lorong Laweyan (2)

Sudah baca cerita blusukan saya di lorong Laweyan part 1? Ini dia lanjutannya..

Kisah tentang tingkat kesejahteraan para saudagar batik di masa keemasan Laweyan sudah saya ceritakan sebagian di artikel sebelumnya. Saya kenalkan satu tempat lagi yang akan memberikan gambaran sampai seberapa sejahtera sih mereka dulu?

Ini dia, rumah gedong yang pada masanya disebut loji, bernama Ndalem Gondosuli. Benar-benar ngga sengaja nemu  tempat ini, waktu jalan kaki dari hotel tempat saya menginap, ke titik temu dengan pemandu yang akan menemani saya keliling Laweyan hari itu.

Ndalem Gondosuli dibangun sekitar tahun 1921, sempat dipugar, namun sebagian besarnya masih utuh dan asli. Bangunan ini sekarang dimanfaatkan sebagai showroom / workshop batik dan Saudagar Laweyan.


Saya makan di area dalam, dan karena saya berkunjung di Jumat siang, jadi lah saya pengunjung satu-satunya. Lumayan semakin bisa menghayati khayalan menjadi saudagar yang sedang istirahat makan siang sendirian di ruang makan rumah 🀣.

Sebagai orang yang ngga paham gaya arsitektur bangunan, cukup buat saya mengagumi ruangan, selasar dan detail-detail bangunan yang indah serta mewah. Seindah itu sampai saya udah ngga peduli lagi makanan dan kopi yang disajikan tak seindah (baca: enak) bangunannya. Sayang banget sih, tapi ya sudah lah. Saya tetap rekomendasikan kamu mampir ke sini, setidaknya untuk membayangkan mewahnya kehidupan saudagar batik Laweyan masa itu.

Yang menarik, cerita tentang Laweyan tak hanya tentang perdagangan. Melainkan juga pergerakan. Saudagar batik Laweyan rata-rata berasal dari kalangan Muslim yang taat. Jejaknya dapat kita lihat di salah satu rumah tua ini.

Yang nampak menjorok keluar adalah mihrab atau tempat imam. Berada di lantai atas rumah-rumah lawas milik juragan batik di Laweyan. Mereka menyiapkan musholla / langgar di dalam rumah produksi supaya karyawan tidak perlu keluar untuk mencari tempat sholat demi efisiensi waktu.

Juragan-juragan batik ini, pada suatu masa pernah berserikat, sebagai bentuk perlawanan pengusaha batik pribumi menghadapi tekanan bisnis yang berupaya didominasi kelompok Tionghoa dan dibekingi pemerintah kolonial. Nama organisasinya: Sarekat Dagang Islam (SDI), yan dirintis oleh KH. Samanhudi.

Dalam perjalanannya, SDI tak lagi menaungi para pedagang, tumbuh meluas dan berubah menjadi Syarikat Islam (SI), berdiri tahun 1912 di Surabaya. Selanjutnya, SI bermetamorfosis menjadi sebuah partai, yaitu Partai Syarikat Islam (Indonesia) yang digerakkan oleh HOS Tjokroaminoto, SM Kartosuwirjo, dan H. Agus Salim.

Jadi, jauh sebelum ada PSI partainya kang pisang, Indonesia sudah pernah punya PSI yang lain gengs 😁. Dan kiprahnya juga ngga main-main. Perserikatan ini tumbuh menjadi kekuatan besar dan ditakuti Belanda.

Dari sekedar urusan perdagangan, hingga meluas ke perkara politik dalam upaya-upaya meraih kemerdekaan. Dan atas jasa KH Samanhudi, Presiden Soekarno menghadiahkan sebuah rumah untuk keluarga ahli waris KH Samanhudi.

Saat ini kondisinya kosong, setelah sebelumnya pernah dijadikan Museum Samanhudi. Sekarang karena kabarnya ada masalah internal keluarga, koleksi museumnya dipindahkan ke kantor kelurahan, duh! πŸ₯Ή.
Semoga bisa diusahakan untuk kembali jadi museum ya, biar bisa jadi tempat kita semua belajar dari masa lalu. Mengambil hal baik untuk dilanjutkan dan menghindari mengulangi kesalahan yang sama.

Yang mau berkunjung ke dua tempat di atas, berikut informasi lokasinya:

πŸ“Saudagar Laweyan
Jl. Gondosuli No.125, Laweyan, Surakarta

πŸ“Rumah Pahlawan KH Samanhudi
Gg Liris 2, Pajang, Laweyan, Surakarta


.

Leave a Comment