Melanjutkan cerita perburuan kopi di Bogor kemarin, beres belanja di Kopi Cap Teko, masih tengah hari rupanya. Sekalian saja saya lanjut ke toko kopi jadul berikutnya yang jaraknya tak terlalu jauh.
Saya mau geser ke kawasan Empang. Cek di peta, cuma 650 meter dari Gang Pedati, saya jalan kaki saja lah. Kawasan Empang bersebelahan dengan kawasan Suryakencana, terpisah sungai Cibalok yang mudah ditandai dengan banyaknya penjual ikan di jembatan yang melintang di atasnya.
Kalau kawasan Surken adalah kawasan Pecinan, Empang adalah kawasan Arab, mirip sama Condet di Jakarta gitu deh. Nahh, apakah kopi yang saya datangi pemiliknya adalah seorang keturunan Timur Tengah? Ternyata tidaaakk, dari namanya, Kopi Bah Sipit Cap Kacamata, sudah ketebak lah. Hehehe..
Kopi Cap Kacamata ini toko kopi tertua di Bogor, pentolan empat kopi legendaris yang sudah berdiri sejak tahun 1925, dan sejak awal berdiri hingga hari ini masih berada di lokasi yang sama.
Kisah tentang sejarah toko kopi ini bisa kamu baca langsung di kedai kopi yang agak-agak berasa mini museum.

Selain display kisah sejarah dan foto-foto, kita juga bisa lihat beberapa contoh stempel yang digunakan untuk membuat kemasan. Semua terpajang rapi di lemari yang jangan-jangan usianya juga sebaya tokonya.


Kedua hal ini sangat menarik, rasanya baru Bah Sipit ini, toko kopi jadul yang punya kedai kopi dan informasi sejarahnya. Tapi, lebih menarik lagi, kenapa Bah Sipit bisa nyasar di Empang, kawasan Arab gitu lho?
Rupanya, di tahun-tahun ini, aturan wijkenstelsel alias segregasi etnis yang diberlakukan oleh pemerintah Hindia Belanda sudah mulai melonggar. Jadi lah Yoe Hong Keng, bisa memulai usaha kopinya di luar kawasan Pecinan. Yang menarik lagi, penerimaan komunitas Arab terhadap orang Tionghoa juga bagus ternyata.
Julukan Bah Sipit diberikan oleh orang-orang Arab di sekitar toko, julukan yang tidak punya tendensi apa-apa selain karena si Babah memang bermata sipit. Logika sederhananya, kalau si Babah merasa tersinggung, ngga akan dipakainya julukan ini jadi nama toko kan?
Bukti interaksi lain yang terjalin adalah, desain kacamata yang menjadi simbol pada kemasan kopi Bah Sipit dibuat oleh Muhammad bin Ahmad Balweel, seorang peranakan Arab yang tinggal di Empang, tak jauh dari pabrik sekaligus rumah dan juga toko Kopi Cap Kacamata milik Bah Sipit.
Tahun depan, usia toko kopi bubuk ini akan mencapai 100 tahun. Toko yang sekarang dikelola oleh generasi ketiga keturunan Bah Sipit berinovasi untuk mengikuti perkembangan jaman. Suasana jadul yang biasanya memang dicari pelanggan tetap dipertahankan, tapi produk-produk modern juga tersedia.

Bubuk kopi berkemasan kertas kopi berwarna coklat dan distempel ini tentu saja tetap tersedia. Tapi tersedia juga bubuk kopi dengan kemasan kekinian yang lebih praktis, ada dalam bentuk kemasan sachet siap seduh berisi kopi + gula.

Ada dalam kemasan coffee drip bag, bahkan untuk yang ngga mau repot seduh-seduh, kemasan es kopi kekinian siap minum dalam botol pun tersedia.
Saya sendiri selain membeli kopi bubuk dan kopi botolan untuk dibawa pulang, kemarin menyempatkan diri duduk sebentar di kedai memesan es kopi Vietnam.

Kedai kopinya memang sederhana, ngga secantik coffeeshop kekinian, tapi rasanya menyesap kopi di toko yang usianya bahkan lebih tua dari republik ini, beda rasanya!
Kalau ke Bogor sempatkan mampir ya..
📍Kopi Bah Sipit Cap Kacamata
Jl. Empang No.27, Empang, Bogor
Parkiran agak tricky kalau kamu naik kendaraan roda empat pribadi, saya sarankan parkir di Mall BTM atau di ruko sebelah Museum Tanah, lalu jalan kaki sedikit 😁