Stok kopi habis, biasanya saya dan pak bojo langsung meluncur ke Gondangdia, tapi kali ini mau mlipir ke toko kopi jadul yang agak jauhan.
Saya ajak kamu ke (Pasar) Jalan Pedati, di Bogor. Sebenarnya ini bukan pasar, melainkan jalan atau gang, di mana pedagang buah dan sayur menggelar lapak di sepanjang trotoar, semacam pasar tumpah di depan deretan beraneka ragam toko. Dan di antara para pedagang itu, kita bisa menemukan Toko Agus (yang menjual) Kopi Cap Teko.

Pertamanya saya agak bingung, ini merknya Agus atau Teko sih ya? Rupanya, yang benar merknya Cap Teko, tokonya bernama Toko Agus karena itu adalah nama anak-anak pendirinya. Oalah! 😁

Secara visual ngga mudah untuk bisa menemukan tokonya, karena bagian depan tertutup dua lapak pedagang buah. Untungnya, bau kopi menyeruak keluar, menuntun indera penciuman menuju sebuah lokasi di mana biji kopi sedang digiling untuk dikemas.


Seluruh kegiatan dilakukan di sebuah toko, di tempat yang sama sejak pertama kali mereka mulai buka usaha pada tahun 1960. Kata Pak Agus, generasi kedua pemilik toko yang saya temui kemarin, dulunya toko ini tidak hanya jualan kopi, tapi juga sembako dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Seiring waktu, akhirnya fokus pada kopi, yang didatangkan dari Lampung.
Pssstt, sekilas info, saya juga baru-baru aja tahu gengs, bahwa yang disebut Kopi Lampung belum tentu hasil panen petani kopi di Lampung. Di masa lalu, port Lampung adalah tempat para pengepul kopi dari berbagai daerah di selatan Sumatra berkumpul, untuk kemudian melakukan pengiriman kopi ke luar.
Kembali lagi ke topik, Kopi Cap Teko saat ini lebih banyak menjual kopi robusta, rupanya cita rasa kopi jenis ini lebih cocok dengan selera pelanggan setianya.

Kopi yang dijual ada beberapa grade, kamu yang sedikit banyak paham perkopian pasti bisa mengira-ngira ada di grade mana kopi di atas.
Produk yang dijual sebagian masih mempertahankan kemasan kertas kopi berwarna coklat dengan cetakan a la jadul, dengan berat mulai 100-1000gram. Sebagian lagi dijual dalam kemasan siap seduh, ada yg pakai sachet modern, tapi yang paling gemes kemasan sachet 9 gram yang dibungkus kertas kopi!


Kalau soal rasa, lebih baik kamu beli dan incip sendiri. Karena, kata mentor saya di urusan perkopian, enak ngga enaknya kopi itu selera, susah klasifikasinya. Beda dengan kopi bermutu baik sama tidak, lebih mudah dipaparkan karena ada standarisasi yang dipakai secara global.
Yang ini bermutu baik atau tidak? Biarlah para ahli kopi yang menjawabnya. Saya cuma mau bilang, tidak mudah mempertahankan usaha hingga mencapai 64 tahun kalau produknya tidak diterima dengan baik oleh masyarakat.
By the way, Kopi Cap Teko ini adalah salah satu dari empat kopi legendaris di Bogor. Kamu tahu tiga yang lainnya?
📍Toko Agus, Kopi Cap Teko
Jl. Pedati No.27, Gudang, Bogor
Kendaraan bisa parkir di Suryakencana, tapi saya lebih suka parkir di toko-toko setelah Museum Tanah, lalu jalan kaki lewat Lawang Saketeng