Ngamplang, Charlie Chaplin Was Here

Pasca diberlakukannya Agrarische Wet 1870 (Undang- Undang Agraria) yang memberikan kebebasan dan jaminan keamanan kepada para pengusaha (investor), mulai lah bermunculan perkebunan-perkebunan swasta berskala besar, termasuk di Garut. Salah satunya adalah Perkebunan Cisaruni, Cikajang rintisan K.F. Holle yang saya kunjungi kemarin.

Tumbuh pesatnya sektor perkebunan ini akhirnya diikuti oleh pembangunan infrastruktur, hingga akhirnya dibukalah jalur kereta api ke Garut pada tahun 1889, sehingga Garut bisa terhubung dengan Batavia dan Bandung.

Tahun 1917, seorang fotografer perempuan berdarah Belanda Thilly Weissenborn, pindah dan menetap di Garut. Dari tangan berbakatnya, keindahan Garut tersebar ke seluruh dunia lewat foto-foto hasil karyanya, baik yang terbit di banyak media cetak maupun kartu pos. Hingga akhirnya Garut menjadi tujuan wisata untuk orang-orang Eropa.

Tentu saja tren ini diikuti oleh maraknya pendirian hotel dan villa di Garut. Dalam sebuah artikel yang saya baca, di suatu masa periode akhir abad 19 hingga awal abad 20, deretan mobil memenuhi stasiun Cibatu dan Garut, untuk menjemput tamu-tamu yang bertandang ke Garut.

Salah satu hotelnya adalah Grand Ngamplang Garoet, yang awalnya sebenarnya adalah kompleks rekreasi dan pemulihan orang-orang Eropa yang mengidap penyakit paru-paru, Sanatorioem Garoet, yang dirintis dokter Denis Gerard Mulder asal Belanda, sekitar tahun 1912-1913. Udara Garut yang sejuk dan dingin membantu orang-orang Eropa yang mengalami gangguan pernapasan akibat perbedaan iklim.

Seiring waktu berjalan, keindahan Ngamplang tersebar, banyak wisatawan dunia berkunjung, salah satu yang paling terkenal adalah Charlie Chaplin.

sumber: Radar Cianjur

Konon, ia memberikan julukan Swiss van Java pada kota Garut gara-gara dia berdiri di sini, memandang kota Garut dari ketinggian, yang terbingkai oleh hijaunya hamparan rumput dan gunung-gunung yang mengelilingi Garut.

Lapangan golfnya masih berfungsi, terakhir saya berkunjung, 15 Mei 2024 lalu, penjaganya bilang minggu depan (22 Mei) akan ada turnamen yang diselenggarakan Korem 062 Tarumanegara sebagai pemilik dan pengelola lahan saat ini.

Charlie Chaplin tidurnya di mana? Haha, jangan kecewa, hotelnya sudah ngga ada, habis dibakar di masa pendudukan Jepang tahun 1942, yang tersisa hanya sebuah kolam air mancur yang masih ada hingga sekarang.

Kalau kamu berkunjung, masih ada sisa bangunan hotel yang dibangun tahun 1977, sekarang juga sudah tidak berfungsi. Kabarnya kawasan ini akan direvitalisasi, dijadikan tempat wisata olahraga yang dilengkapi penginapan. Mudah-mudahan dibangun dengan desain mendekati bentuk aslinya jaman dulu ya, aduh pasti indah sekali deh.

Saat berkunjung kemarin, karena tidak masuk ke lapangan, saya tidak dimintai bea masuk. Kalau mau piknik atau foto-foto di area lapangan gold, tarif masuknya 30 ribu per orang. Ini bukan tarif resmi sepertinya, karena bayar langsung le penjaga, tanpa tiket atau karcis masuk.

Di Instagram, kemarin sempat lihat juga, sudah ada yang menawarkan penyewaan paket properti piknik. Mudah-mudahan kelak berkunjung ke sana lagi, situasinya sudah membaik. Bisa kembali jadi destinasi wisata favorit seperti dulu.

📍Lapangan Golf Ngamplang 
Jalan Raya Garut Tasikmalaya
Ngamplang, Cilawu, Garut

Leave a Comment