Tahu Bungkeng, Seabad Lebih Menjadi Legenda Perintis Tahu Sumedang

Keliling lah ke seluruh penjuru Jakarta, niscaya kamu akan menemukan penjual tahu Sumedang. Maka tak salah kalau Sumedang termasyhur sebagai Kota Tahu. Mengalahkan identitasnya sebagai puseur budaya Sunda.

Ada yang hanya menyebut Tahu Sumedang, tapi banyak juga yang pakai nama Tahu Bungseng khas Sumedang. Sempat saya berpikir si Bungseng ini yang asli Sumedang, tapi setelah cari lebih lanjut, yang benar adalah Tahu Bungkeng, pelopor produsen tahu di Sumedang sejak tahun 1917. Tentu saja Tahu Bungkeng langsung masuk daftar wajib kunjung saat beberapa bulan lalu saya main ke Sumedang.

Mengingat bisnis Tahu Bungkeng sudah bertahan sedemikian lama, saya pikir saya akan menemukan toko oleh-oleh yang megah, serupa dengan toko oleh-oleh kue dan roti di kota Bandung begitu lah. Ternyata, tokonya sangat bersahaja, di sebuah bangunan lama yang nampaknya belum pernah diubah bentuk aslinya di Jalan 11 April, Kotakaler, Sumedang.

Ini adalah toko buah yang posisinya tak jauh dari Tahu Bungkeng, bentuknya sama persis. Masih ada beberapa sisa bangunan serupa di jalan ini yang tidak sempat terfoto.

Niat awalnya saya mau jajan saja, sambil beli beberapa kantong untuk oleh-oleh orang rumah. Biasanya, tahu disantap bareng lontong dan sambal oncom yang lezat dan pedas atau dengan bacang. Di Jakarta, beberapa penjual juga begitu kan?

Tapi beruntung, saya dan teman-teman disambut dengan sangat ramah dan diijinkan masuk melihat lokasi sekaligus mendapat sedikit penjelasan proses produksi, dari kedelai sampai jadi tahu goreng siap makan, oleh Pak Suryadi, generasi keempat keluarga Ong yang saat ini meneruskan usaha keluarga.

Di pabrik ini lah, produksi tahu berlangsung sejak 106 tahun yang lalu. Tidak pernah pindah lokasi sejak pertama kali Ong Kino, kakek buyut Pak Suryadi, imigran dari Tiongkok di sekitar tahun 1900an memproduksi tahu. Awalnya tahu yang dibuat tidak untuk dijual, hanya untuk obat rindu makanan dari tanah kelahiran dan dibagikan ke komunitas Tionghoa di Sumedang.

Ong Bungkeng kemudian meneruskan tongkat estafet produksi tahu dari Ong Kino dan menjualnya di Sumedang sejak tahun 1917. Pada masa itu, Bupati Sumedang Pangeran Aria Soeriaatmadja yang kebetulan lewat di depan toko mencicipi tahu dan mengatakan bahwa rasanya enak dan pasti laku jika dijual. Semacam endorse kalau sekarang ya kaaakk 😁.

Sejak itu lah nama Tahu Bungkeng dikenal luas, produksi dilanjutkan oleh Ong Yukim dan sekarang di tangan Ong Checiang alias Pak Suryadi dengan tetap mempertahankan nama Bungkeng.

Apakah memproduksi tahu saja? Iya, sekarang ada beberapa inovasi dengan membuat produk tahu nori hasil kreasi putra Pak Suryadi calon penerus bisnis generasi kelima. Beliau sempat bercerita, pernah mendapat order super besar tahu goreng dengan potongan kecil untuk topping makanan instan dalam kemasan dari korporasi besar. Namun menyadari kapasitas produksinya tidak seperti pabrik bermesin besar dan modern, beliau menolaknya.

Saat ini, dalam sehari biasanya terjual 1000-2000 buah tahu, dan bisa meningkat berkali lipat di akhir pekan atau hari libur. Menakjubkan ya, sebuah bisnis keluarga bisa bertahan dalam waktu yang cukup panjang dan berhasil mempertahankan rasa serta kualitasnya. Hari itu saya belajar, kapan harus mengembangkan usaha, kapan harus berani merasa cukup.

Wajib kunjung kalau kamu ke Sumedang!

📍Tahu Bungkeng Sumedang
Jl. Sebelas April No.53, Kotakaler,
Sumedang

Leave a Comment