Pasar Jangkrik, Kampung Asinan di Jakarta

Tadi iseng-iseng nanya di story, tempat jajan asinan favorit di Jakarta di mana. Selang enam jam, sampai saya menulis ini, jawaban terbanyak menyebut Asinan Betawi H. Mansyur a.k.a Asinan Kamboja. Tempat lain yang sempat disebutkan ada di Rawa Belong, Otista, Jatinegara dan Bogor. Tapi kamu pernah tahu ngga? Ada satu wilayah di Jakarta yang punya banyak banget pedagang sekaligus produsen asinan Betawi.

Saya pertama kali tahu kawasan ini saat mengantar pesanan seserahan ke rumah klien di Pisangan Baru, dalam perjalanan menuju rumahnya, saya melihat plang asinan, satu, dua, tiga, lho kok banyak? Berawal dari situ saya periksa di gmaps, dan taraaaa, memang banyak! Wah, seru nih, harus dikunjungi.

Kendala saya cuma satu, lokasinya berada di sebuah gang yang jalan utamanya tidak terlalu besar, susah cari tempat parkir. Jadilah, saya putuskan titip mobil di Gramedia Matraman lanjut naik Tije dan jalan kaki. Di mana tempatnya?

Orang pada umumnya mengenalnya sebagai Pasar Jangkrik, dan asinan yang dijual di sana otomatis juga dikenal sebagai asinan Pasar Jangkrik. Ada dua nama yang paling terkenal, Asinan Betawi 78, sempat saya kunjungi kemarin dan Asinan Bu Eha, sayang sekali karena tiba terlalu sore, kemarin sudah tutup.

Sesuai dengan namanya, Asinan Betawi 78, sudah mulai membuat dan berjualan asinan sejak tahun 1978. Asinan yang dijual ada dua jenis, asinan buah dan asinan sayur.

Asinan buah berisi potongan-potongan besar nanas, bengkuang, kedondong dan mangga muda dalam kuah asam manis pedas berwarna merah menyala dari cabai merah yang digunakan. Asinan sayur berisi irisan kol, tauge, selada air, tahu putih, (semuanya mentah, kecuali tahu dikukus), kacang tanah goreng, disiram bumbu kacang dengan rasa asam manis pedas juga, dilengkapi kerupuk merah dan kerupuk mie.

Sebungkus asinan buah dan sayur dihargai Rp 15.000. Kalau kamu lihat di daftar harga di atas, ada tabel yang menunjukkan harga sampai kelipatan 100. Memangnya ada orang jajan asinan sebanyak itu? Jangan salah gengs, ini memang tempat orang kulakan untuk dijual lagi. Pelanggannya dari seluruh Jakarta, ada juga pelanggan dari Jonggol yang rutin belanja tiap dua hari, lalu pelanggan dari Cirebon yang sekali order sampai puluhan bungkus dikirim pakai travel. Total penjualan sehari minimal mencapai 1000 bungkus, dan akan melonjak hingga dua kali lipat di bulan puasa. Ngga main-main gengs, dalam sehari sekuintal sayuran dan buah, 100 kg kacang tanah dan cabe merah, lusinan cuka dihabiskan untuk memproduksi asinan.

Warung asinan ini terletak di sebuah gang sempit selebar kurang lebih 1,5 meter, di depan gang sudah ada papan petunjuk arah. Jaman belum ada ojek online, antrian bisa mengular panjang, tapi sekarang sudah tidak terlalu. Di sini hanya melayani take away, alias beli untuk dibawa pulang, tidak melayani makan di tempat.

Rasanya gimana? Saya lebih cocok sama asinan sayurnya, mungkin karena saya kurang suka makan buah dalam potongan yang terlalu besar. Rujak aja saya milih yang serut daripada yang potong. Kalau kuahnya lumayan cocok, asam manis pedasnya pas, masih aman di lidah yang bukan penggila pedas. Kamu yang suka pedas bisa menambahkan sambal yang dibungkus terpisah. Sama asinan kondang yang saya sebutkan di awal gimana? Nah, kalau ini saya ngga mau bandingkan. Rasa makanan itu selera, kamu boleh coba dan tentukan sendiri.

By the way, selain Asinan 78 dan Asinan Eha, masih banyak penjual asinan lain di sepanjang gang, yang saya potret ini hanya dua di antaranya. Beneran banyak, sampai cocok lah kalau kampung ini kita juluki Kampung Asinan Betawi.

Nah, sudah dua kampung tematik saya kunjungi setelah kemarin berkunjung ke Kampung Ondel-ondel Senen, nanti kita cari lagi kampung-kampung bertema unik di Jakarta ya. Kamu punya usul?

Leave a Comment