Saketi adalah hal pertama yang saya ingat ketika tiba-tiba harus pergi ke Pandeglang. Udah ke arah sana, harus mampir dan lihat langsung sebagian jejak dari the legendary death railways Saketi – Bayah.
Dan begitu tiba, di jalan yang debunya berhamburan setiap kali ada kendaraan yang lewat, saya melihat sisa-sisa besi rel yang masih terlihat, sementara sebagian besar lainnya sudah hilang tertimbun aspal, bangunan toko di pasar dan rumah warga.

Dari jalan raya Saketi Labuan, sebelum sampai ke bekas stasiun, saya harus masuk ke sebuah kampung yang tersembunyi di balik pasar. Tidak ada tanda penunjuk jalan, ikuti saja arahan google maps, kalau bingung aktifkan GPS alias gunakan penduduk sekitar alias nanya! 😁.
Ikuti jalan, dan bagian belakang eks stasiun ini yang terlihat pertama kali. Di sebelah kanan jalan, deretan rumah eks pegawai stasiun jaman dulu juga masih ada. Saya ngga ambil gambarnya ya, karena terlalu private, belum ijin.

Saya bertamu ke rumah yang dulunya adalah Stasiun Saketi, penghuninya masih keluarga dari kepala stasiun Saketi saat masih beroperasi. Ada baiknya juga ini dijadikan rumah, jadinya tetap terawat. Sepengetahuan saya, stasiun-stasiun lain, termasuk di kota Pandeglang sudah lenyap.

Pada awalnya, sejak 1906, stasiun ini melayani jalur Rangkasbitung – Pandeglang – Labuan. Kemudian di masa pendudukan Jepang, sekitar 1943 dibuat percabangan jalur menuju Bayah, untuk mengangkut hasil tambang batu bara dari sana menuju Jakarta untuk bahan bakar kapal laut.
Kalau jalur ke Labuan relatif tak ada cerita kelam, beda cerita dengan pembangunan jalur menuju Bayah dan diwarnai cerita kelam romusha Jepang. Ratusan korban jiwa jatuh, baik karena medan yang sulit, juga jatuh sakit karena lelah dan kelaparan.
Jalur Bayah berhenti beroperasi tahun 1951, karena tak ada lagi komoditi yang perlu diangkut. Sementara pendapatan tidak mampu menutupi biaya operasional dan ini bikin saya nyesek. Ngapaiiin coba bikin jalur yang makan ratusan korban jiwa hanya untuk beroperasi selama delapan tahun? 😭
Sementara jalur Labuan berhenti tahun 1984 karena kalah saing dengan moda transportasi lain, mobil dan bus. Tahun-tahun itu, di Indonesia memang sedang gencar-gencarnya penggunaan dan penjualan mobil, tahu dong kenapa hehehe.. Sejak jalur ditutup, stasiun beserta lahan di sekitarnya dihuni oleh anak cucu pegawai stasiun.
Sambil ngobrol di atas sisa-sisa besi rel, warga setempat ini malah curhat, mereka senang kalau jalur ini diaktifkan kembali, tapi juga harap-harap cemas takut diusir begitu saja. Mereka awalnya mengira saya orang dari KAI, yang datang terkait dengan kabar-kabar reaktivasi jalur Rangkasbitung Labuan.


Semoga sejarah 30 pahit tidak berulang ya. Memang betul mereka tinggal di lahan yang bukan miliknya, tapi semoga ada jalan tengah yang menentramkan semua pihak.
📍Stasiun Saketi
Jl. Yayasan Irsyadul Falah, Saketi, Kec. Saketi, Kabupaten Pandeglang, Banten 42273