Jejak Sejarah Jakarta di TPU Petamburan

Menutup rangkaian cerita dari Petamburan, rupanya bukan hanya cerita tentang mausoleum megah yang tertinggal di sana. Mengingat TPU Petamburan adalah komplek makam tua yang sudah ada sejak jaman kolonial belanda, maka ada jejak-jejal sejarah lain di sana. Di sisi barat, kita akan menjumpai makam Khouw Kim An, ia adalah sepupu dari Khouw Oen Giok yang … Read moreJejak Sejarah Jakarta di TPU Petamburan

Nyok, Kenalan Sama Kampung Ondel-ondel di Jakarta

Sebelum Ondel-ondel resmi dilarang digunakan sebagai sarana ngamen, ke mana pun kita pergi ke seluruh penjuru Jakarta, rasanya mudah untuk bertemu rombongan Ondel-ondel yang diarak berombongan lengkap dengan musik pengiringnya. Belakangan, saya lebih mudah menemukannya di daerah pinggiran. Kalau pun bertemu di tengah kota, lebih sering dalam kondisi sedang diangkut untuk dikirim ke sang pemesan. … Read moreNyok, Kenalan Sama Kampung Ondel-ondel di Jakarta

Alun-alun Sumedang, Suasana Jawa di Tatar Sunda

Jalur masuk ke Sumedang dari arah Jakarta atau Bandung, sekarang ada dua, tol dan non tol. Keduanya akan bertemu di titik yang sama, simpang Tugu Mahkota Binokasih. Dari sini tinggal meluncur ke arah timur, kita akan langsung bertemu dengan pusat kota, Alun-alun Sumedang. Agak kaget juga saya, terakhir lewat, sekitar empat tahun lalu, suasananya belum … Read moreAlun-alun Sumedang, Suasana Jawa di Tatar Sunda

Mahkota Binokasih, Simbol Sumedang sebagai Penerus Hegemoni Tatar Sunda

“Ngapain ke Sumedang?”. Kulak tahu? Begitu rata-rata respon dari kawan-kawan mendengar rencana saya berkunjung ke Sumedang. 😁 Sumedang memang sungguh masyhur akan produksi tahunya. Bahkan di seluruh penjuru kota Jakarta yang jaraknya hampir 200 kilometer dengan mudah bisa kita temukan lapak Tahu Sumedang. Tapi bukan, bukan cuma perkara tahu. Sumedang menyimpan banyaaaaaaakk sekali cerita yang … Read moreMahkota Binokasih, Simbol Sumedang sebagai Penerus Hegemoni Tatar Sunda

Pecel, Kisah Menu Sederhana Ribuan Tahun Melintas Zaman

“Puniko ron ingkang dipun pecel,” yang berarti “Ini adalah dedaunan yang direbus dan diperas airnya”, Itu adalah sepenggal kisah tentang Ki Ageng Pemanahan saat pertama kali mengenal pecel sewaktu dijamu oleh Ki Ageng Karanglo dari Taji (sekitar Klaten) dengan nasi, pecel, dan ayam saat akan membuka lahan di Mentaok, cikal bakal Mataram. Tapi ternyata, usia … Read morePecel, Kisah Menu Sederhana Ribuan Tahun Melintas Zaman