Mahkota Binokasih, Simbol Sumedang sebagai Penerus Hegemoni Tatar Sunda

“Ngapain ke Sumedang?”. Kulak tahu? Begitu rata-rata respon dari kawan-kawan mendengar rencana saya berkunjung ke Sumedang. 😁

Sumedang memang sungguh masyhur akan produksi tahunya. Bahkan di seluruh penjuru kota Jakarta yang jaraknya hampir 200 kilometer dengan mudah bisa kita temukan lapak Tahu Sumedang. Tapi bukan, bukan cuma perkara tahu. Sumedang menyimpan banyaaaaaaakk sekali cerita yang menjadikannya punya peran besar dalam peradaban Sunda.

Nah, selain karena mau trial Tol Cisumdawu, saya mau menuntaskan jelajah Sumedang yang tertunda karena keterbatasan waktu, saat melintasi Sumedang dalam perjalanan telusur jalur Daendels, Sumedang Cirebon, empat tahun lalu.

Cerita tentang Sumedang saya mulai dari sebuah ruangan yang khusus menyimpan pusaka peninggalan Kerajaan Sumedang Larang, di Museum Prabu Geusan Ulun, Sumedang.

Di ruangan ini ada sebuah pusaka penting, yang membuktikan bahwa Sumedang memiliki akar sejarah kuat sebagai pewaris hegemoni politik Pajajaran sebagai penguasa wilayah Sunda, Mahkota Binokasih, berikut siger permaisuri. Mahkota berlapis emas ini merupakan simbol kebesaran bagi kerajaan Sunda Padjadjaran sebelum runtuh saat diinvasi oleh Kerajaan Banten pada tahun 1579.

Masa itu, raja Pajajaran terakhir, Prabu Raga Mulya alias Suryakancana sudah terdesak meninggalkan Pakuan (saat ini Bogor) dan berdiam di Pulasari, Pandeglang, Banten. Dan untuk menghindari runtuhnya trah Sunda sebagai penguasa wilayah, Mahkota Binokasih diserahkan pada penguasa Sumedang bisa menjadi penerus kekuasaan Pajajaran dan mewarisi wilayah kekuasaannya.

Pada 22 April 1578, empat Kandaga Lante (bangsawan/abdi raja setingkat bupati yang merupakan para patih Kerajaaan Pajajaran) bertandang ke Keraton Kutamaya Sumedang Larang untuk prosesi penyerahan pusaka. Saat itu Ratu Pucuk Umun memerintah Sumedang yang berafiliasi pada Kesultanan Cirebon karena suaminya Pangeran Kusumahdinata I (Pangeran Santri) adalah cucu Pangeran Panjunan dari Cirebon. Dan setelah menerima pusaka, Sumedang menobatkan Prabu Geusan Ulun (putra dari Ratu Pucuk Umun) sebagai raja dan menyatakan berdaulat atau melepaskan diri dari Cirebon. Hingga kini, 22 April diperingati sebagai hari jadi Kabupaten Sumedang.

Merinding saya waktu melihat mahkota ini dari dekat, kalau dihitung dari waktu penyerahannya saja, usianya sudah 445 tahun. Sementara mahkota ini dibuat pada masa pemerintahan Prabu Bunisora dari Kerajaan Galuh, tahun 1357-1371, lalu digunakan secara turun temurun pada saat suksesi raja-raja di Tatar Sunda, dimulai dari Kerajaan Galuh, Kerajaan Sunda, hingga keduanya digabungkan menjadi satu oleh Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi, menjadi Kerajaan Sunda Padjadjaran.

Mengetahui cerita perjalanannya, maka layaklah Sumedang baru-baru ini ditasbihkan sebagai puseur (pusat) budaya Sunda oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan diperkuat melalui penerbitan Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Sumedang Nomor 1 tahun 2020 tentang Sumedang Puseur Budaya Sunda (SPBS).

Cerita tentang Sumedang belum berakhir di sini gengs, saya lanjut cerita tentang menariknya Sumedang di tayangan yang akan datang.

Leave a Comment