Tidak banyak tulisan maupun liputan yang secara khusus membahas Kampung Karadenan. Nama kampung ini memang cukup dikenal, terutama bagi masyarakat di sekitar Cibinong dan Bogor, tetapi dibandingkan dengan sejumlah kampung tua lain di wilayah Bogor dan sekitarnya, informasi mengenai Karadenan relatif tidak banyak ditemukan. Justru keterbatasan itulah yang membuat saya semakin penasaran ketika pertama kali mengetahui keberadaannya.
Awalnya, Karadenan sama sekali bukan tempat yang sedang saya cari. Ketertarikan saya bermula ketika sedang mencari informasi mengenai Kampung Karanggan di Gunung Putri. Dalam proses pencarian tersebut, nama Karadenan beberapa kali muncul dan membawa saya pada cerita tentang sebuah kampung tua di Cibinong yang masih menyimpan sejarah, tradisi, serta komunitas yang cukup kuat mempertahankan identitas lokalnya.
Sejak saat itu, Karadenan masuk ke dalam daftar tempat yang ingin saya datangi. Ada rasa penasaran yang muncul justru karena informasinya tidak terlalu banyak. Rasanya seperti menemukan satu bagian kecil dari peta yang selama ini luput diperhatikan, padahal di dalamnya terdapat cerita yang cukup panjang untuk ditelusuri.
Kesempatan itu akhirnya datang ketika Komunitas Ngopi Jakarta, atau Ngojak, mengajak berkunjung ke Karadenan. Saya tidak membutuhkan waktu lama untuk mengiyakan ajakan tersebut. Saya ingin melihat langsung kampung yang sebelumnya hanya saya kenal dari serpihan informasi, sekaligus mencoba memahami bagaimana sejarahnya masih hadir dalam kehidupan masyarakat sekarang.
Dari Kawung Pandak hingga Karadenan
Karadenan saat ini merupakan salah satu kelurahan di Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor. Kawasan yang kini berkembang menjadi bagian dari wilayah perkotaan ini memiliki sejarah yang cukup panjang. Dalam sejarah lokal yang berkembang di masyarakat, wilayah tersebut dahulu dikenal sebagai Kawung Pandak, sementara Karadenan Kaum menjadi salah satu bagian yang dianggap penting dalam sejarah lokal kawasan ini.
Cerita tentang Karadenan juga tidak dapat dilepaskan dari Muara Beres dan tokoh-tokoh yang dalam ingatan masyarakat dikaitkan dengan lingkungan Kerajaan Pajajaran. Sejumlah sumber lokal menyebut Muara Beres sebagai kerajaan bawahan atau vasal Pajajaran, dengan garis keturunan yang kemudian masih dikenang oleh masyarakat Karadenan Kaum. Namun, sebagian cerita tersebut lebih banyak diwariskan melalui penuturan masyarakat dan silsilah keluarga daripada dokumentasi tertulis yang lengkap. Karena itu, kisah mengenai asal-usul Karadenan perlu ditempatkan sebagai bagian dari sejarah lokal dan ingatan kolektif masyarakat, sementara detail hubungan antartokohnya masih memerlukan pembuktian melalui sumber sejarah yang lebih kuat.
Salah satu hal yang membuat Karadenan menarik adalah keberadaan masyarakat yang masih menjaga ingatan mengenai asal-usul dan garis keturunan mereka. Di Kampung Karadenan Kaum, misalnya, masih tersimpan pengetahuan mengenai keluarga-keluarga yang menggunakan gelar Raden dan menghubungkan garis keturunannya dengan tokoh-tokoh dari masa lalu.
Penelusuran mengenai silsilah tersebut bahkan dilakukan secara serius oleh warga setempat. Dadang Supadma, salah seorang warga Karadenan Kaum, membutuhkan waktu sekitar dua tahun untuk menelusuri leluhur dan menyusun pohon silsilah keluarga yang kemudian diselesaikannya pada 2015. Penelusuran tersebut bermula dari sebuah dokumen lama yang ditemukan ketika arsip masjid dibongkar setelah pengurus sebelumnya meninggal dunia. Dokumen yang sudah tua dan rusak itu kemudian menjadi salah satu pijakan untuk menyusun silsilah yang lebih lengkap.
Pangeran Sageri dan Ingatan tentang Leluhur
Dalam silsilah yang ditelusuri masyarakat Karadenan Kaum, nama Pangeran Sageri menempati posisi penting. Menurut penuturan Dadang yang dicatat Historia, masyarakat mengetahui asal-usul gelar Raden yang mereka gunakan dari cerita mengenai Pangeran Sageri. Dalam versi silsilah tersebut, Pangeran Sageri disebut berasal dari Kerajaan Muara Beres dan menikah dengan putri Prabu Wisesa.
Namun, cerita mengenai Pangeran Sageri tidak berhenti di Karadenan. Dalam sumber-sumber lain, nama yang sama atau variasinya, seperti Sogiri atau Sugiri, dikaitkan dengan keturunan Kesultanan Banten. Karena belum terdapat satu rangkaian sumber primer yang dapat mempertemukan seluruh mata rantai silsilah tersebut secara meyakinkan, hubungan antara kedua versi ini sebaiknya tidak diperlakukan sebagai fakta sejarah yang sudah final.
Yang lebih penting untuk melihat Karadenan adalah bagaimana masyarakat sendiri berusaha menelusuri hubungan tersebut. Gelar Raden yang diwariskan keluarga tidak diterima begitu saja sebagai identitas tanpa asal-usul. Ada upaya untuk mencari siapa leluhur mereka, dari mana garis tersebut berasal, dan bagaimana hubungan antargenerasi itu tersambung. Dalam konteks seperti ini, silsilah bukan hanya daftar nama, tetapi juga cara sebuah komunitas memahami dirinya sendiri.
Masjid Al-Atiqiyah dan Jejak Islam
Salah satu jejak penting dalam sejarah Karadenan Kaum adalah Masjid Al-Atiqiyah, yang lebih dikenal masyarakat sebagai Masjid Kaum. Menurut penuturan yang dihimpun Historia, Raden Syafe’i disebut sebagai tokoh yang mendirikan masjid di Karadenan Kaum pada 1667 dan menyebarkan agama Islam dari wilayah Karadenan hingga Depok. Makam yang dipercaya sebagai makam Raden Syafe’i juga berada di belakang masjid.
Klaim mengenai usia dan sejarah masjid ini memang perlu dibaca bersama keterbatasan bukti fisiknya. Bangunan yang sekarang berdiri sudah mengalami perubahan besar. Dadang Supadma menyebut bahwa masjid tersebut pada awalnya hanya sebesar surau dan memiliki ciri bangunan berupa empat pilar di bagian tengah. Setelah pemugaran, hanya dua pilar yang tersisa, sementara bukti angka tahun pendirian yang dahulu terdapat dalam aksara Arab juga sudah tidak ada.
Bangunan Masjid Al-Atiqiyah sebenarnya menyimpan potensi sebagai salah satu jejak fisik penting untuk menelusuri sejarah Karadenan Kaum. Konon, masjid yang pada awalnya tidak lebih besar dari sebuah surau itu memiliki bentuk yang menyerupai Masjid Demak, lengkap dengan pilar utama di bagian tengah bangunan. Sayangnya, bangunan tersebut telah mengalami pemugaran berkali-kali sehingga hampir seluruh bentuk aslinya tidak lagi dapat dikenali.
Jejak yang benar-benar tersisa adalah pajangan kaligrafi bertuliskan kalimat syahadat yang ditempatkan di bagian mihrab. Selebihnya, petunjuk mengenai usia masjid justru datang dari namanya. Masjid tersebut kini dikenal sebagai Al-Atiqiyah, sebuah nama yang disematkan jauh setelah bangunan pertama kali didirikan. Kata atiqiyah merujuk pada sesuatu yang tua atau kuno, tetapi tidak banyak informasi yang dapat menjelaskan kapan nama tersebut mulai digunakan maupun apa nama masjid itu sebelumnya.
Akibatnya, ketika bangunan fisiknya telah banyak berubah, nama Al-Atiqiyah menjadi salah satu pengingat bahwa di tempat tersebut pernah berdiri sebuah masjid yang telah menjadi bagian dari perjalanan panjang masyarakat Karadenan Kaum.
Museum Keris di Lantai Dua Masjid
Jika lantai pertama Masjid Al-Atiqiyah menjadi ruang ibadah dan menyimpan jejak sejarah bangunan, lantai duanya menyimpan jenis peninggalan yang berbeda. Di sana terdapat Museum Keris Karadenan, tempat masyarakat mengumpulkan dan merawat sebagian pusaka yang sebelumnya tersimpan di rumah-rumah warga.
Keberadaan museum ini berawal dari kekhawatiran bahwa pusaka leluhur semakin lama semakin berkurang jumlahnya. Sebagian benda telah berpindah tangan atau diberikan kepada orang lain karena pemiliknya tidak mampu merawatnya. Atas gagasan R. Dadang Supadma dan persetujuan sejumlah tokoh masyarakat, agama, budaya, pemuda, serta para pemilik pusaka, Museum Keris Karadenan didirikan pada 1 November 2015.
Koleksinya pun tidak terbatas pada keris. ANTARA pada 2018 mencatat sedikitnya seratus senjata pusaka berada di museum tersebut, antara lain keris, kujang, tombak, kudi, golok, dan golok panjang atau gobang. Koleksi tersebut dipandang sebagai bagian dari warisan budaya yang perlu dirawat bersama.
Bagi masyarakat Karadenan, pusaka-pusaka tersebut bukan sekadar benda lama yang menarik untuk dilihat. Sebagian merupakan warisan keluarga yang diturunkan dari generasi ke generasi. Ketika benda-benda tersebut mulai terancam tidak terawat atau kehilangan jejak pemiliknya, mengumpulkannya di satu tempat menjadi salah satu cara untuk mempertahankan keberadaannya.
Menariknya, museum tersebut juga menjadi bagian dari upaya masyarakat menyimpan ingatan yang lebih luas daripada sekadar koleksi senjata. Historia mencatat bahwa sebagian pusaka leluhur dari rumah-rumah warga dikumpulkan untuk dirawat bersama di Museum Keris, sementara penelusuran mengenai silsilah keluarga juga menjadi bagian dari upaya masyarakat memahami asal-usul mereka.
Dengan begitu, museum ini sebenarnya menyimpan dua jenis warisan sekaligus: benda yang diwariskan oleh leluhur dan cerita mengenai leluhur yang mewariskannya.
Ketika Sejarah Tidak Lagi Berbentuk Bangunan
Di sinilah persoalan sejarah Karadenan menjadi semakin menarik. Banyak kampung tua memiliki bangunan yang dapat menjadi penanda masa lalu. Ketika bangunan tersebut masih berdiri dalam bentuk aslinya, ia relatif mudah dibaca sebagai peninggalan sejarah. Tetapi bagaimana jika bangunan sudah dipugar berkali-kali, dokumen lama terbatas, dan sebagian besar kisah hanya diwariskan secara lisan?
Karadenan memperlihatkan bahwa sejarah tidak selalu bertahan dalam bentuk yang paling mudah dikenali.
Ia dapat bertahan melalui keluarga yang masih menelusuri silsilahnya, melalui cerita mengenai leluhur yang terus dituturkan, melalui masjid yang tetap menjadi pusat kehidupan masyarakat, melalui pusaka yang dikumpulkan dan dirawat bersama, serta melalui tradisi yang masih dijalankan.
Mengunjungi Karadenan membuat saya melihat bahwa sejarah sebuah kampung tidak selalu harus dicari melalui bangunan tua, prasasti, atau benda peninggalan yang tersimpan di balik kaca museum. Ada sejarah yang justru menjadi lebih hidup karena tidak pernah benar-benar dipisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat.
Dalam pengertian itu, Karadenan terasa seperti sebuah living museum, sebuah ruang tempat sejarah tidak sekadar dipamerkan sebagai peninggalan masa lalu, tetapi terus dijalankan oleh orang-orang yang tinggal di dalamnya. Yang menjadi “koleksi” bukan hanya bangunan atau benda berusia ratusan tahun, melainkan juga pengetahuan, silsilah, pusaka, ritual, hubungan kekerabatan, dan kebiasaan yang masih dipraktikkan hingga sekarang.
Museum Keris menjadi salah satu contoh paling konkret. Ia muncul karena masyarakat merasa ada sesuatu dari masa lalu yang perlu diselamatkan. Masjid Al-Atiqiyah menjadi contoh lainnya, meskipun bangunannya sendiri telah banyak berubah. Sementara itu, silsilah keluarga menunjukkan bahwa ketika arsip formal sulit ditemukan, masyarakat masih berusaha menyusun kembali kepingan-kepingan sejarah yang mereka miliki.
Barangkali justru di situlah daya tarik Karadenan. Ketika sebagian jejak fisiknya telah berubah dan dokumentasi tertulisnya terbatas, masyarakatnya masih memiliki cara sendiri untuk membuat sejarah tetap hadir.
Sejarah tidak dibiarkan menjadi sesuatu yang hanya dikenang, tetapi terus dirawat, diceritakan, dikumpulkan, dan dipraktikkan. Karadenan tidak perlu menunggu menjadi museum untuk menyimpan sejarahnya. Kampung itu sendiri, bersama orang-orang, benda-benda, cerita, dan tradisi yang masih hidup di dalamnya, telah menjadi semacam museum yang terus bergerak.