Maulid Kampung Karadenan: Kisah Pintu Rumah yang Terbuka

Maulid yang Menghidupkan Kampung

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Kampung Karadenan memiliki rangkaian kegiatan yang lebih luas daripada sekadar pengajian atau ceramah keagamaan di dalam masjid. Pada hari itu, suasana kampung berubah menjadi lebih ramai dari biasanya. Warga berkumpul, bersama-sama menyiapkan berbagai kebutuhan rangkaian ritual yang menjadi bagian dari tradisi Maulid. Ada pembacaan salawat dan syair maulid, dilanjutkan dengan tradisi ngadon ngagunting atau gunting rambut bayi, ditutup dengan pembagian bongsang makanan.

Ngadon Ngagunting, Ketika Bayi Ambil Bagian di Perayaan

Salah satu tradisi yang masih dijalankan dalam rangkaian Maulid adalah ngadon ngagunting, yaitu prosesi menggunting rambut bayi. Gunting rambut bayi sendiri adalah tradisi yang cukup dikenal oleh masyarakat Sunda dan berbagai komunitas Muslim di Indonesia. Namun di Karadenan, prosesi tersebut ditempatkan sebagai bagian dari rangkaian Maulid secara kolektif. Tradisi ini juga membuat perayaan Maulid tidak hanya diikuti oleh orang-orang dewasa, tetapi juga anak-anak.

Ada yang unik dalam ritual ini, para ayah yang menggendong bayi dengan mengenakan kerudung sempat membuat saya bertanya-tanya, sampai kemudian diketahui bahwa hanya laki-laki yang diperkenankan masuk ke ruang utama masjid dalam prosesi tersebut. Kerudung yang dikenakan para ayah menjadi semacam cara untuk menirukan kehadiran ibu, yang tidak dapat mendampingi bayinya secara langsung di dalam ruang utama. 

Para ayah juga membawa piranti ritual berupa batok kelapa lengkap dengan airnya, lilin dan sejumlah uang yang dihias dalam sebuah nampan. Lilin adalah simbol pengharapan kelak si bayi akan selalu dalam tuntunan cahaya terang. Air kelapa digunakan untuk mengusap kepala bayi setelah rambutnya digunting, simbol kemurnian dan kebenaran, dua hal yang diharapkan kelak dapat diajarkan kepada anak dalam perjalanan hidupnya. Sementara itu, uang tidak ditempatkan persembahan, melainkan bentuk sedekah sekaligus ungkapan rasa syukur atas anugerah dan titipan berupa seorang anak. 

Rangkaian ngadon ngagunting diikuti dengan tradisi saweran. Setelah prosesi gunting rambut selesai, masyarakat melakukan ritual penaburan uang logam, beras kuning, dan permen kepada bayi dan hadirin, simbol harapan kemakmuran, rasa syurkur dan ajaran untuk berbagi rezeki, selayaknya yang biasa dijalankan dalam tradisi Sunda. 

Pintu yang Keluar Dari Rumah

Tuntas rangkaian salawat, ngadon ngagunting dan saweran, tiba lah bagian yang menjadi puncak perayaan Maulid Karadenan: makanan.

Ramai warga berdatangan membawa berbagai hidangan, menggunakan baki, tampah, atau wadah makanan pada umumnya. Terlihat juga beberapa kelompok orang mengangkut tumpukan ambeng menggunakan bilah papan yang ukurannya cukup besar. Sekilas, saya mengira papan tersebut memang sengaja dibuat sebagai alat untuk membawa makanan dalam jumlah banyak.

Namun, ada sesuatu yang terasa janggal, bentuk dan ukuran papannya terlalu familiar untuk disebut sekadar papan angkut. Setelah diamati lebih seksama, barulah saya menyadari bahwa itu adalah daun pintu rumah yang dicopot dari tempatnya.

Pemandangan ini menjadi kesan paling menarik dalami kunjungan ke Karadenan. Bukan hanya karena penggunaan daun pintu sebagai alat mengangkut ambeng merupakan tradisi yang tak pernah saya temui sebelumnya di tempat lain, tetapi karena makna yang lebih dalam di balik praktik tersebut.

Dalam kehidupan sehari-hari, pintu adalah salah satu penanda batas paling jelas antara ruang privat dan ruang publik. Di balik pintu terdapat keluarga, aktivitas rumah tangga, makanan yang dimasak untuk anggota keluarga, dan kehidupan yang sifatnya personal.

Namun pada saat Maulid, batas itu seolah dibuka secara harfiah. Pintu dilepas dari rumah, kemudian digunakan untuk membawa makanan keluar dari ruang privat menuju ruang komunal, sekaligus mengirimkan pesan, sesekali di waktu-waktu tertentu pintu rumah kita perlu dibuka untuk memastikan keterhubungan dengan komunitas, yang dalam jangka panjang akan membuka jalan rezeki dan keberkahan.  

Ambeng Simbol Gotong Royong

Makanan dalam perayaan Maulid bukan hanya persoalan konsumsi. Dalam berbagai tradisi masyarakat Jawa dan Sunda, makanan yang disiapkan untuk acara bersama memiliki kaitan erat dengan sedekah, rasa syukur, dan hubungan sosial. Demikian juga dalam perayaan Maulid di Karadenan.

Setiap keluarga dapat berkontribusi dengan cara yang berbeda, tak semuanya harus mengeluarkan biaya. Yang berkecukupan menyiapkan makanan, selebihnya ada yang menyiapkan tenaga, membantu memasak, mengangkut  ambeng, mengatur jalannya acara, dan membantu berbagai kebutuhan lain selama perayaan berlangsung. Ambeng menjadi simbol dari sistem gotong royong yang jauh lebih besar.

Ambeng yang dibawa dari rumah-rumah warga tidak berhenti sebagai hidangan untuk dinikmati bersama di masjid. Setelah dikumpulkan, makanan tersebut kemudian dibagi kembali secara merata kepada warga dan jamaah dalam bongsang, keranjang bambu yang menjadi bagian dari tradisi penyajian makanan dalam Maulid Karadenan. Dalam tradisi yang juga dikenal sebagai dondang ini, makanan dari masing-masing keluarga pada akhirnya kembali menjadi bagian dari hidangan bersama.

Tradisi yang Membuat Orang Pulang

Maulid di Karadenan juga mempunyai fungsi sosial yang melampaui kegiatan keagamaan. Perayaan ini menjadi momentum bagi masyarakat yang tinggal di luar daerah untuk kembali ke kampung halaman.

Dalam berbagai penuturan mengenai tradisi Maulid Karadenan, perayaan tersebut bahkan disebut dapat berlangsung lebih meriah daripada Lebaran. Warga yang telah merantau mudik bukan hanya untuk mengikuti acara, tetapi juga ikut membantu persiapan dan berkumpul bersama keluarga serta masyarakat kampung.

Perayaan Maulid di Karadenan pada akhirnya bukan hanya tentang memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW, pun jauh melampaui sekadar ritual keagamaan. Tradisi ini menjadi ruang pulang, cara sebuah komunitas mempertahankan hubungan sosial melalui kegiatan yang diwariskan, dilakukan bersama, dan terus diberi makna oleh generasi yang menjalaninya.

Leave a Comment