Ada masa di saat kecil yang rasanya begitu biasa saja, namun kini terasa begitu berarti.
Perkenalkan, ini adalah kakek saya dari pihak ayah, yang saya panggil Mbah Niti, adalah sosok yang tak terlalu saya kenal. Beliau berpisah dengan nenek dengan segala konfliknya, membuat beliau jarang sekali terlibat dalam acara-acara keluarga. Saya hanya mengenalnya sebagai pemilik warung jamu kecil di depan Pasar Ganong, Petemon Kuburan, Surabaya.
Saya ingat setiap saya disuruh ibu pergi ke pasar, saya selalu mampir karena lambaian tangannya, dan pulang membawa satu atau dua bungkus permen Sugus. Di akhir pekan, terkadang saya main ke warungnya lebih lama, cuma menonton beliau melayani pembeli dan sesekali membantu menangani pembayaran. Saya masih mengingat bentuk kotak kayu tempat beliau menyimpan uang dagangan. Upahnya sedikit lebih banyak permen Sugus yang bisa saya bawa pulang.
Saya tak pernah terlalu dalam mengenalnya, semakin besar, semakin sibuk, semakin jarang saya berinteraksi dengan beliau. Ditambah konflik keluarga yang di beberapa waktu agak menghangat, membuat saya merasa sepertinya lebih baik jaga jarak. Yang saya ingat beliau sangat talkative, banyak kawan, dan mudah cair dengan para pelanggan warungnya yang sering kali adalah pengunjung pasar yang tak pernah dikenalnya. Sejak saya merantau meninggalkan Surabaya, 25 tahun lalu, hingga beliau wafat beberapa tahun setelah ayah saya wafat, tak pernah lagi saya berkomunikasi, hanya satu atau dua kali saat bertemu.
Sementara itu, nenek yang akrab saya panggil Mbah Ndut, padahal namanya bagus, Siti Aisyah, punya dunia yang berbeda. Beliau punya rumah kost tak jauh dari rumah masa kecil saya, masih satu kampung, di Petemon juga. Kalau main ke sini, saya senang sekali bantu menulis kuitansi pembayaran sewa kamar, lalu memasukkan ke dalam kamar lewat celah bawah pintu. Upahnya? Jajan kue tenongan yang selalu mampir karena banyak calon pembelinya.
Saya juga tak begitu dalam mengenal kepribadiannya, ceritanya sama, semakin besar, semakin sibuk, saya jadi jarang berkunjung, beliau wafat saat saya masih kuliah. Yang terekam dalam ingatan, beliau adalah perempuan tangguh yang membesarkan ketiga anaknya sebagai single mother, hingga akhir hayatnya. Kepribadiannya tidak hangat, terkadang tampak keras, meski saya tahu tidak dengan hatinya, mungkin karena hidup sering memaksanya berada dalam survival mode. Menulis ini, rasanya seperti sedang mendeskripsikan sebagian diri saya juga.
Kini, setelah mereka berdua tiada, saya baru sering merenung, jangan-jangan kotak uang kayu di warung jamu dan lembaran kuitansi pembayaran uang kost yang saya pegang di masa kecil saya itu bisa jadi tempat penyemaian bibit wirausaha saya hari ini. Mereka berdua mungkin tidak tahu istilah “entrepreneurship”, mereka hanya mempraktikannya setiap hari dengan berusaha sebaik mungkin dengan apa yang ada.
Tempat saya belajar memulai dengan apa yang ada dan belajar bertahan dengan segala tantangan. Tanpa disadari, selain kopi hasil ‘didikan’ almarhum ayah, permen Sugus dan kue basah khas bakul tenong masih jadi favorit saya sampai detik ini.
Saya tidak ingat tanggal kakek nenek saya berpulang, saya memilih menceritakan kenangan saya bersama beliau di sepuluh tahun berpulangnya ayah saya. Terima kasih untuk semua potongan mozaik yang membentuk saya hari ini. Terima kasih untuk kekayaan yang diwariskan diam-diam bernama DAYA JUANG.
Allahummaghfir lahum warhamhum wa’aafihim wa ‘fu anhum…
"Dan orang yang sabar karena mengharap keridaan Tuhannya, melaksanakan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik),"
"(yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya, dan anak cucunya, sedangkan malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu" (QS 13:22-23)