Prasasti Tapak Gajah Kebon Kopi, Jejak Tarumanegara di Ciaruteun Bogor #1

Prasasti Tapak Gajah, satu dari tiga prasasti peninggalan kerajaan Tarumanegara yang ada di Cibungbulang, Bogor. Sesuai dengan namanya, prasasti ini berisi pahatan serupa tapak gajah yang mengapit sebuah kalimat yang tertulis dalam bahasa Sansekerta dan beraksara Pallawa.

jayaviśālasya Tāruméndrasya hastinaḥ ~ ~Airāvatāṁtasya vibhātīdampadadvayam

Di sini tampak tergambar sepasang telapak kaki yang seperti Airawata, gajah penguasa Taruma yang agung dalam kejayaan

Prasasti ini disebut juga Prasasti Kebon Kopi 1, karena ditemukan di lahan yang akan dibuka untuk perkebunan kopi di lahan milik Jonathan Rigg, tuan tanah wilayah Jasinga. Hingga hari ini, prasasti masih berada di posisi asli saat ditemukan (in situ).

Ketika kemarin berkunjung, prasasti sekarang berada dalam bangunan beratap pelindung dan pagar. Ada dua bangunan bersebelahan.

Yang kiri, tempat Prasasti Tapak Gajah, yang kanan tempat koleksi batu umpak yang juga banyak ditemukan di wilayah Ciaruteun.

Umpak merupakan unsur bangunan yang berfungsi sebagai penyangga tiang pada bangunan berkonstruksi kayu. Dan menurut juru pelihara prasasti, umpak-umpak ini konon jumlahnya pernah mencapai ratusan. Wah, benak saya langsung membayangkan betapa besar atau banyak bangunannya, kalau sampai peninggalan umpaknya mencapai ratusan.

Menariknya lagi, umpak ini bukan dari masa Tarumanegara. Dari hasil penelitian, diperkirakan berasal dari masa Pajajaran. Ciaruteun semacam jadi saksi bisu perjalanan peradaban ya.

Komplek situs Tapak Gajah ini berada di pinggir jalan persis, tepatnya Jl. Ciaruteun Ilir. Kalau kamu naik kendaraan pribadi, bisa parkir di sini, lalu sekalian melanjutkan ke Situs Batu Dakon atau Prasasti Ciaruteun yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki.

Kemarin, saya menuju lokasi dengan mengikuti arahan google maps, lewat Semplak, Rancabungur, Cagak (arah Ciampea), Ciaruteun dan alhamdulillah tiba di lokasi tanpa nyasar-nyasar. Jalanan juga mulus, tidak terlalu besar tapi aman saat berpapasan dengan kendaraan roda empat lain.

Karena pengunjung tak terlalu banyak setiap harinya, atau mungkin sedang berada di situs lain, kadang Pak Ugan, juru peliharanya, tak berada di tempat. Di sekitar lokasi ada rumah warga, kamu bisa minta tolong untuk dipanggilkan. Atau DM saya di Instagram untuk minta nomor teleponnya.

Di sisi barat situs, ada hamparan kebun singkong yang mau ngga mau bikin saya senyum kecut.

Land Buitenzorg termasuk pionir produsen kopi di Nusantara sebelum berpindah ke Preanger atau Priangan. Dan Cibungbulang pernah jadi lahan penghasil kopi kalau menurut catatan tahun 1885 ini. Ke manaaaaa perginya kebun kopi yang dulu diusahakan ya? Apa perlu kita ganti namanya jadi Prasasti Kebon Singkong? 😁😁

Btw, Jonathan Rigg sang pemilik lahan, juga punya cerita menarik. Ia tinggal di Jasinga hingga akhir hayatnya dan berhasil menyusun Kamus Bahasa Sunda – Inggris pertama. Museum Nasional Jakarta menyimpan karya asli terbitan pertama yang dirilis tahun 1862 oleh Penerbit Lange & Co, Batavia.

Eh sebentar, ini kan Prasasti Kebon Kopi 1, berarti ada Prasasti 2- nya? Dulu ada, sempat dipelajari juga, tapi belum tuntas lalu hilang sekitar tahun 1940an. Semoga yang tersisa ini terus lestari ya. Kalau dari tahun 400an aja, berarti sekarang sudah 1600an tahun usianya.

Kamu masih mau komen, “Jauh-jauh ke Bogor, cuma liat batu?” Tunggu, cerita dua prasasti selanjutnya.

📍Prasasti Tapak Gajah Kebon Kopi
Jl. Ciaruteun, Kp. Muara, Ciaruteun Ilir, Kec. Cibungbulang, Kabupaten Bogor

Leave a Comment