Pohon Petai di Ujungaspal: Jendela Sejarah Perkebunan di Masa Kolonial

Pohon petai itu tumbuh di halaman rumah tetangga, posisinya cukup jelas terlihat dari jendela kamar saya. Awalnya saya bahkan tidak tahu kalau itu pohon petai, sampai suatu hari terlihat beberapa tandan petai menggantung di antara daunnya. Dari situ muncul rasa penasaran, selama ini, petai lebih sering saya temui di daerah pedesaan atau kawasan yang masih dekat dengan hutan. Melihatnya tumbuh subur di lingkungan permukiman saya di Kawasan Ujungaspal jadi terasa menarik.

Rasa ingin tahu itu mendorong saya mencari informasi lebih lanjut. Dan ternyata, petai, atau Parkia speciosa, ternyata memang cocok tumbuh di dataran rendah, dari permukaan laut hingga sekitar 800 meter di atas permukaan laut. Tanaman ini menyukai iklim tropis dengan curah hujan cukup dan tanah yang tidak terlalu kering. Jika dilihat dari kondisi geografisnya, Jakarta dan wilayah penyangganya, termasuk Ujungaspal, masih termasuk lingkungan yang memungkinkan petai tumbuh dengan baik.

Ujungaspal, yang termasuk wilayah Pondokmelati saat ini bukanlah kawasan yang sejak awal padat seperti sekarang. Namanya merujuk pada kondisi jalan pada masanya, ketika aspal hanya sampai titik tertentu dan selebihnya masih berupa jalan tanah. Wilayah ini menjadi semacam batas antara area yang mulai tersentuh pembangunan dan kawasan yang masih didominasi kebun.

Jika ditarik lebih jauh ke masa kolonial, wilayah Pondok Gede dan sekitarnya, yang mencakup Pondok Melati, tercatat sebagai bagian dari landgoed atau perkebunan besar milik pemerintah kolonial Belanda. Pada abad ke-18, kawasan ini awalnya dimanfaatkan sebagai perkebunan sereh. Seiring waktu dan perubahan kebutuhan ekonomi kolonial, lahan tersebut kemudian berkembang menjadi perkebunan karet. Keberadaan rumah besar bergaya kolonial atau landhuis di kawasan Pondok Gede menjadi penanda penting bahwa wilayah ini pernah berfungsi sebagai pusat pengelolaan perkebunan.

Landhuis Pondok Gede

Dalam konteks tersebut, keberadaan pepohonan besar di halaman tetangga, seharusnya bukan sesuatu yang asing. Sebelum kawasan ini berkembang menjadi wilayah hunian, pohon-pohon produktif seperti petai, jengkol, atau buah-buahan lain merupakan bagian dari lanskap sehari-hari. Hingga kini, masih mudah ditemui nama gang yang menggunakan nama-nama pohon. Gang Sawo, Jengkol, Pedurenan, dan tempat tinggal saya, Gang Mangga.

Perubahan mulai terasa ketika pembangunan infrastruktur berkembang pesat. Jalan tanah digantikan aspal, kebun-kebun menyusut, dan rumah-rumah berdiri semakin rapat. Ruang bagi pohon besar pun semakin terbatas. Banyak pohon yang ditebang karena dianggap mengganggu atau tidak lagi sesuai dengan fungsi lahan. Dalam situasi seperti itu, keberadaan pohon petai yang masih tumbuh dan berbuah menjadi istimewa.

Pohon petai itu berdiri sebagai sisa dari lanskap lama, menunjukkan bahwa alam pernah menjadi bagian utama dari kehidupan di tempat ini, jauh sebelum aspal dan bangunan mendominasi. Sekaligus menjadi pengingat untuk saya, untuk menyisakan ruang untuk tanah dan pohon di sekitar rumah.

Leave a Comment