Tuntas menjelajahi area Galeri Kebangsaan kemarin, sekarang lanjut yuk, kita naik ke lantai dua Museum Kepresidenan Balai Kirti, menuju Galeri Kepresidenan.
Di area ini kita akan diajak untuk mengenal lebih dekat presiden Indonesia yang telah purna bakti. Sebuah ruangan disediakan khusus untuk masing-masing Presiden.
Yang pertama tentu saja Presiden Sukarno. Seperti biasa, yang dipamerkan biasanya selain foto dan rekaman kegiatan beliau semasa menjabat, ada juga barang-barang dan informasi pribadi tiap presiden.



Di ruang Presiden Sukarno, hal menarik yang saya temukan adalah, beliau memiliki 26 gelar honoris causa dan di antaranya ada gelar yang saya ngga pernah duga. Yaa kalau ilmu politik atau hukum, terduga lah, kiprahnya dalam urusan kenegaraan sangat nyata meski latar belakang pendidikan Sukarno adalah teknik. Tapi kalau doktor di bidang ushuluddin dan tauhid agak-agak menarik juga, apalagi mengingat beliau selalu dikait-kaitkan dengan ideologi komunis (yang disalahpahami).

Kita beranjak ke ruang berikutnya, galeri untuk Presiden Soeharto, yang koleksiny biasa saja menurut saya. Bukan karena ngga suka sama beliau ya, mungkin karena tidak ada hal baru yang saya temukan, mostly yang terpajang adalah hal-hal yang telah saya ketahui.
Nah, berbeda dengan galeri Presiden B.J. Habibie, presiden dengan masa jabatan terpendek di Indonesia.



Selain catatan tentang kontribusi beliau di bidang kedirgantaraan, ada sebuah buku catatan dengan tulisan tangan beliau, yang rupanya adalah buku harian saat menjabat sebagai menteri di tahun 80-an. Lembaran yang terbuka itu benar-benar bikin saya penasaran, halaman-halaman lain berisi catatan apa yaaaa. Aduh! 😁
Next!
Kita ke galeri Presiden Abdurrahman Wahid a.k.a Gus Dur, presiden ketiga yang dimakzulkan secara politik.

Quote yang terpampang di dinding, mendampingi foto Gus Dur membuat saya terkesiap sejenak, teringat peristiwa pemakzulan itu. Secara keimanan, Gus Dur adalah contoh nyata bagaimana kekuasaan itu bisa dititipkan dan dicabut oleh Allah dengan cara-cara yang tidak diduga. Secara politik, peristiwa ini menjadi awal mula pembelajaran saya, yang abadi di dunia politik hanyalah KEPENTINGAN. Meski tak terjun di dunia politik praktis, ini jadi bekal saya bersikap dan mengambil keputusan saat berpolitik sebagai warga negara.

Ruang Bu Mega juga tidak terlalu istimewa, selain bahwa beliau adalah satu-satunya perempuan yang berhasil sampai menjadi orang nomor satu di negeri ini. Yang tidak istimewa hanya koleksinya, seperangkat alat untuk menjamu minum teh tamu negara dan bunga favorit. Aduh, yang kaya gitu harusnya untuk level ibu negara, buat saya lho ya, buat orang lain boleh jadi beda.
Nah, terakhir, ruang Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono a.k.a Pak SBY a.k.a Pak Beye.



Ada Nokia Communicator dan iPad yang membantu beliau menjalankan peran sebagai presiden. Sepuluh tahun cukup panjang ya, untuk mengalami transisi teknologi hehehe. Tapi yang paling menarik adalah ada semacam cue card untuk pidato. Melihat koleksi ini, saya seperti mengalami aha moment, no wonder pidato atau pernyataan-pernyataan beliau di media selalu terunut rapi.
Ruang Pak Beye menjadi ruang terakhir di Galeri Kepresidenan, ruang sebelahnya saat ini masih bernama Ruang Epilog Interaktif, soon to be Ruang Presiden Joko Widodo yang akan mengakhiri masa jabatan di 20 Oktober 2024 ini.
Semoga cerita saya cukup membuatmu tertarik untuk datang dan melihat langsung ke Balai Kirti ya.