Museum Multatuli Rangkasbitung, yang Istimewa di Sisi Barat Jawa

Terik matahari di tengah cuaca cerah tengah hari Rangkasbitung tak terlalu terasa saat kami tiba di Museum Multatuli. Deretan pohon peneduh di sepanjang trotoar selain membuat adem, juga membuat museum ini tampak makin cantik.

Museum antikolonial pertama di Indonesia ini menempati bangunan cagar budaya eks rumah Wedana Rangkasbitung yang dibangun pada 1923. Berlokasi di Jl Alun-Alun Timur No.8 Rangkasbitung, sesuai nama jalannya persis di sisi timur Alun-Alun Rangkasbitung.

Gerbang masuk museum

Tak akan sulit mencari museum ini, selain panduan gmaps yang presisi, tulisan besar terletak di depan museum dan sangat mudah terbaca. Tampilan museum yang telah berusia lima tahun ini benar-benar dikonsep dengan baik, baru sampai gerbang masuknya saja saya sudah gemes. Cantik!

Pendopo sekaligus area resepsionis

Museum anti kolonial pertama ini menempati sebuah bangunan tua bekas kediaman wedana Rangkasbitung. Dan sebagaimana umumnya kediaman pemimpin wilayah, terdapat sebuah pendopo di bagian depannya. Area resepsionis museum terdapat di sini, hingga 1 Oktober kemarin pengunjung hanya perlu mengisi buku tamu, tanpa membayar, alias gratis. Tapi ada kabar, museum akan memberlakukan retribusi dalam waktu dekat untuk membantu membiayai perawatan dan pemeliharaannya.

Tepat di samping pintu masuk, ada sepotong jejak masa lalu yang ditinggalkan. Ubin atau tegel asli generasi kedua sebelum direnovasi menggunakan keramik yang sekarang digunakan. Generasi kedua? Iya, yang asli banget polos warna abu-abu, sudah ngga ada jejaknya.

Bangunan ini dasarnya sudah cantik dan terawat dengan sangat baik. Saya benar-benar sama sekali ngga ada ekspektasi museumnya akan sebagus ini.

ruang pertama

Begitu masuk, kita akan langsung disambut sebuah mozaik dan sebuah quote:

Tugas Manusia adalah Menjadi Manusia

– Multatuli

Di sini, pengunjung juga akan melihat patung perunggu Eduard Douwes Dekker, karya Dolorosa Sinaga. 

Setelah ruangan ini, ada beberapa ruangan lain yang memuat cerita yang berbeda-beda. Mulai sejarah awal mula kolonialisme, komoditi andalan masa itu, kisah tanam paksa, cerita perjuangan masyarakat Banten, karya-karya Multatuli hingga tokoh-tokoh yang pernah tinggal dan terpengaruhi oleh Rangkasbitung. Intinya, museum ini berusaha menceritakan perjalanan gerakan antikolonialisme, juga menghubungkan apa yang terjadi di Rangkasbitung dalam putaran sejarah Nusantara dan dunia.

Yang menarik lagi dari museum ini selain tampilannya adalah pemandunya. Pengunjung bukan cuma tak dibiarkan melihat-lihat sendiri, pemandunya memposisikan diri sebagai teman ngobrol, ngobrolin apa yang terjadi di bumi Nusantara masa itu dengan perspektif yang menarik.

Siapkan cara berpikir yang terbuka, karena di museum ini kita akan diajak berpikir bahwa penderitaan rakyat di masa kolonial bukan cuma disebabkan oleh penguasa kolonial, tapi juga ada andil dari para penguasa lokal.

Sebelum pulang, kita bisa lihat patung Multatuli yang sedang membaca, ukuran bukunya lebih besar dari ukuran wajar. Katanya, ini adalah simbol, bahwa ide/pemikiran bisa jadi lebih besar dari fisik orangnya. Di sampingnya, ada ‘sosok’ Adinda yang diceritakan dalam novel Max Havelaar yang mengguncang dunia.

Pulang dari sini, kalau kita benar-benar menghayati informasi-informasi yang kita terima, kita akan bisa sedikit lebih memahami, perjuangan bangsa ini tidak berhenti saat kita merdeka. Karena hingga saat ini pun kita masih berjuang.

Dari Jakarta naik apa?

Kalau naik mobil gampang lah, tinggal ikuti panduan dari gmaps. Naik KRL commuter line ke Rangkasbitung, dari stasiun jaraknya sekitar 1,4 kilometer saja. Saya kemarin jalan kaki sambil explore jalur dan motret, naik becak bisa, angkot dan ojek online juga tersedia.

Yuk, sempatkan berkunjung. Sebuah museum saya sebut berhasil, kalau setelah berkunjung ke sana, kita bisa punya pengetahuan, pemahaman, sudut pandang baru terhadap satu hal. Dan Museum Multatuli ini satu di antaranya. Ngga akan nyesel deh!

Ditulis tepat di 12 Oktober, merayakan Hari Museum Nasional.

Sebuah bangsa tidak dapat berdiri tanpa adanya sejarah perjuangan di masa lalu. Semoga semakin banyak museum yang bisa menyajikan sejarah sebagai hal yang tidak dianggap remeh dan membosankan.

Leave a Comment