Stasiun Rangkasbitung, Banten

Setelah perjalanan hampir dua jam yang menyenangkan dari Stasiun Tanah Abang, sampai juga lah saya di Stasiun Rangkasbitung. Sebuah stasiun besar yang berada di sisi barat pulau Jawa, yang dibangun oleh Staatsporwegen (SS), perusahaan kereta api jaman kolonial Belanda.

Sebelumnya SS mengembangkan jaringan kereta api di Jawa bagian barat dengan melakukan pembangunan lintas Jakarta-Duri. Lalu dilanjutkan sampai ke Anyer Kidul, dan Stasiun Rangkasbitung menjadi salah satu stasiun pemberhentiannya.

Bangunan asli stasiun

Menariknya, saya berkunjung ke stasiun yang bangunan utamanya sudah berstatus sebagai cagar budaya tepat di 123 tahun usianya, sejak diresmikan pada 1 Oktober 1899, bersamaan dengen peresmian lintas Duri – Rangkasbitung (d/h Rangkasbetoeng).

Dulu, di sini ada percabangan jalur. Satu jalur menuju Anyer, satu jalur lagi menuju Labuan, melewati Pandeglang. Sudah non aktif sejak tahun 1980an, karena dinilai tidak menguntungkan. Salah satu bekas stasiunnya, Stasiun Saketi, sudah pernah saya kunjungi beberapa waktu lalu.

Stasiun yang terletak 22 meter di atas permukaan laut ini menjadi stasiun utama di Banten, sekarang melayani KRL Commuter Line relasi Tanah Abang – Rangkasbitung dan Kereta Lokal relasi Rangkasbitung – Merak.

Di masa lalu, stasiun ini menjadi saksi kemakmuran Rangkasbitung, sibuk mengangkut hasil komoditi andalan (lada, hasil tambang, minyak kelapa, peternakan) untuk dibawa ke Batavia. Di masa kini, selain mengangkut para komuter, di akhir minggu, banyak dipadati oleh wisatawan dari Jakarta yang akan menuju Anyer, Baduy atau pantai-pantai di sisi selatan Banten atau sebaliknya pedagang yang akan kulakan di Tanahabang.

Sesaat setelah turun, saya sempatkan memotret suasana stasiun di masa kini untuk membandingkannya dengan suasana masa lalu. Masih sama ya?

Dan lintasan rel ini, seratus tahun lebih usianya, wow! Andai dia bisa bicara, berapa banyak hal yang bisa ia ceritakan?

Kabarnya, stasiun Rangkasbitung sedang dipersiapkan untuk diperbesar, saya setuju banget, dalam kondisi cukup ramai suasananya sudah cukup padat sekarang. Ruang tunggu untuk penumpang KRL kurang memadai, untungnya masa tunggu kereta cukup singkat, setiap setengah jam saja, dan karena kereta sudah tersedia, pilihan untuk langsung naik dan menunggu di gerbong kereta jauh lebih nyaman.

Secara umum, cukup menyenangkan berkunjung ke sini. Kapan-kapan saya mau balik lagi, cobain kereta yang ke Merak. Mau ikut? 😁

Leave a Comment