Masjid Al Ikhlas hadir sebagai wajah baru spiritualitas di kawasan Pantai Indah Kapuk, sebuah wilayah yang selama ini lebih dikenal lewat deretan kafe, hunian modern, dan lalu lintas urban yang nyaris tak pernah benar-benar berhenti. Berdiri di area Riverwalk Island, masjid ini seperti jeda yang disengaja. tidak untuk menyaingi hiruk-pikuk sekitar, justru menawarkan ruang tenang di tengahnya.

Diresmikan pada Januari 2026, Masjid Al Ikhlas dibangun di atas lahan kurang lebih 2.400 meter persegi dengan luas bangunan sekitar 1.200 meter persegi. Kapasitas ruang utama masjid dapat menampung sekitar 600 jamaah, dan jika area luar dimanfaatkan, jumlahnya bisa mencapai lebih dari seribu orang. Skala ini terasa pas untuk masjid kawasan. Tidak terlalu monumental, namun cukup lapang untuk shalat berjamaah, salat Jumat, dan perayaan hari besar.

Kesan nyaman langsung terasa sejak awal masuk. Salah satu detail yang sering luput diperhatikan, justru menjadi keunggulan di sini. Tempat wudhu perempuan dirancang bersih, terang, dan yang paling penting, terhubung langsung ke ruang sholat perempuan. Alur ibadah terasa lebih nyaman dan aman, tanpa perlu melewati area umum atau berdesakan. Sebuah perhatian kecil yang berdampak besar pada rasa tenang, terutama bagi jamaah perempuan.

Hal serupa juga terasa pada penataan fasilitas lain. Rak penyimpanan sepatu tersedia dengan rapi dan jumlahnya memadai, tanpa sistem penitipan. Jamaah menyimpan alas kaki sendiri, dengan rasa aman dan tanpa kerepotan tambahan. Pengalaman beribadah pun terasa lebih mandiri dan tertib, bahkan saat masjid ramai.

Ruang sholat perempuan terasa cukup luas dan nyaman, dipisahkan dengan sekat yang rapi namun tidak menutup rasa kebersamaan. Pencahayaan lembut dan sirkulasi udara yang baik membuat ruangan ini terasa sejuk, cocok untuk shalat berjamaah maupun berdiam sejenak setelahnya.

Sementara itu, ruang utama masjid menjadi daya tarik visual yang kuat. Desain arsitekturnya mengusung gaya klasik Islam, dengan kubah besar, lengkungan-lengkungan simetris, dan pilar yang memberi kesan kokoh sekaligus anggun. Jika dibandingkan dengan Masjid Istiqlal yang monumental dan megah, Masjid Al Ikhlas terasa lebih personal. Ia tidak menggetarkan lewat ukuran, melainkan lewat proporsi dan detail.

Masjid ini dibangun oleh Agung Sedayu Group sebagai bagian dari pengembangan kawasan PIK, dengan dukungan penuh pengelola area. Nama “Al Ikhlas” sendiri diberikan oleh Menteri Agama RI saat peresmian, sebagai simbol ketulusan dan harapan agar masjid ini menjadi tempat ibadah yang mempersatukan. Ke depan, pihak pengembang juga menyampaikan rencana pembangunan masjid atau pusat kegiatan Islam yang lebih besar di kawasan PIK, dengan kapasitas ribuan jamaah, sehingga Masjid Al Ikhlas dapat menjadi awal dari ekosistem keagamaan yang lebih luas.
Dari sisi akses, masjid ini cukup ramah bagi jamaah yang datang dengan kendaraan pribadi. Area parkir tersedia dan relatif luas, sehingga tidak menyulitkan saat waktu shalat ramai. Bagi pengguna transportasi umum, Masjid Al Ikhlas dapat dijangkau dengan Transjakarta rute T31. Turun di halte Simpang Empat, lalu melanjutkan perjalanan singkat menuju area Riverwalk Island.
Pada akhirnya, Masjid Al Ikhlas bukan sekadar bangunan baru di peta PIK. Ia adalah ruang singgah, tempat menurunkan ritme, dan pengingat bahwa di tengah kawasan yang bergerak cepat, selalu dibutuhkan ruang untuk berhenti, menunduk, dan kembali pada yang esensial.