Bekasi sering diidentikkan dengan kota penyangga Jakarta dengan kawasan permukiman padat, pabrik, serta jalanan yang macet dan panas. Namun Tarumajaya menawarkan kejutan, di ujung utara Kabupaten Bekasi, tepatnya di Desa Segarajaya, Kecamatan Tarumajaya, terbentang hamparan hijau mangrove yang menenangkan pandangan.
Namanya Hutan Mangrove Tarumajaya, tumbuh di pesisir Laut Jawa, dalam kondisi normal, tanpa macet tentunya, dapat dicapai setelah sekitar satu jam perjalanan dari Jakarta.

Begitu tiba di lokasi, pengunjung disambut oleh jembatan kayu, warga setempat menyebutnya sebagai “Jembatan Cinta”. Jembatan ini menghubungkan daratan perkampungan warga dengan jalur jalan setapak kayu yang membelah rimbunnya pepohonan bakau.
Berdiri di atasnya di sore hari, saya bisa merasakan angin laut bertiup lembut, membawa aroma khas muara, sambil menikmati pemandangan yang pasti tak akan saya temukan di tengah kota.


Tampak perahu bermesin kecil, membawa pengunjung menyusuri muara sungai, dengan biaya Rp 10.000 / orang saja. Kalau menghendaki jarak yang lebih jauh, dengan biaya Rp 20.000 / orang, pengunjung akan dibawa sampai agak jauh menuju ke tengah laut.

Sementara di arah sebaliknya, dari kejauhan nampak cerobong-cerobong mengepulkan asap putih, menandakan Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) Muara Tawar tengah aktif bekerja.

Sebagai salah satu pembangkit terbesar di Indonesia dengan kapasitas mencapai 2.740 megawatt, PLTGU Muara Tawar menjadi salah satu tulang punggung pasokan listrik untuk wilayah Jawa–Madura–Bali, khususnya Jabodetabek. Keberadaannya di pesisir Tarumajaya membuat kawasan ini menjadi ruang pertemuan unik dan kontras antara industri energi dan pelestarian ekosistem alam.
Seorang warga yang juga berprofesi sebagai juru parkir menceritakan, kawasan ini semakin ramai dikunjungi orang-orang yang ingin melihat mangrove dari dekat, atau sekedar menikmati pemandangan laut dengan biaya yang relatif terjangkau.
Namun bagi warga Segarajaya, laut bukan sekadar pemandangan, melainkan sumber penghidupan. Sebagian besar pria di kampung ini bekerja sebagai nelayan tradisional, melaut dengan perahu kayu kecil di pagi buta dan pulang sore hari membawa hasil tangkapan berupa ikan, kepiting, dan kerang hijau. Hasil tangkapan langsung dijual di TPI Tarumajaya, sebagian lagi diolah langsung oleh para istri.

Di sepanjang jalur masuk ke area wisata, tampak beberapa warung kecil berjejer sederhana. Di sanalah para istri nelayan menjajakan hasil olahan laut, rata-rata menjual rempeyek udang, selebihnya ada satu dua penjaja ikan bakar.
Sementara hutan mangrove bukan sekadar tempat wisata. Ia adalah penjaga garis pantai, pelindung rumah-rumah dari abrasi, dan sumber kehidupan bagi warga pesisir pada khususnya dan masyarakat luas pada umumnya.

Akar bakau kuat menahan lumpur dan ombak, sementara rimbunnya menjadi rumah bagi kepiting, ikan kecil, dan burung air. Luas hutan mangrove di Bekasi yang terus menurun akibat alih fungsi lahan menjadi tambak dan industri, mendorong upaya rehabilitasi yang dilakukan lewat kerja sama antara pemerintah, lembaga sosial, swasta dan masyarakat lokal. Ribuan bibit bakau ditanam kembali setiap tahun, menumbuhkan harapan kecil untuk masa depan pesisir yang lestari.



Meski cukup menjanjikan, kondisi kawasan mangrove Tarumajaya masih sangat jauh dari kata sempurna. Sebagian jembatan kayu lapuk dan ambrol, papan petunjuk dan fasilitas dasar seperti toilet umum atau tempat duduk masih sangat seadanya. Kebersihan juga masih menjadi pekerjaan rumah yang cukup besar, selain sarana transportasi umum menuju lokasi.

Hutan Mangrove Tarumajaya adalah ruang harapan. Bagi para nelayan, ia menjadi harapan ekonomi. Bagi masyarakat ia menjadi harapan ruang tenang di balik hiruk pikuk kota besar, sekaligus menjadi benteng pelindung kelestarian alam. Sudah selayaknya pemerintah daerah turun tangan lebih serius melakukan pembenahan.
📍Jembatan Cinta Taruma Jaya
Kampung Segarajaya, Kec. Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat