Dari Trisakti: Sebuah Lubang Peluru yang Tak Hanya Menganga di Jendela, Tapi di Hati Bangsa

Bendera yang terkibar setengah tiang di halaman, menyambut saya dan rombongan kegiatan Napak Reformasi bersama Komnas Perempuan. Kami mengunjungi Kampus Trisakti, Grogol, Jakarta Barat, yang menjadi salah satu titik penting dalam rangkaian Tragedi Mei 1998. Di dalam kampus, jejak tragedi diabadikan melalui monumen dan Museum Tragedi 12 Mei 1998.

Museum yang berada di Gedung Dr. Sjarif Thajeb ini sederhana, koleksinya tak terlalu banyak.

Foto-foto dokumentasi aksi, foto empat mahasiswa yang gugur, sebidang papan yang dulu dijadikan tandu darurat untuk menggotong korban, dan yang paling menggetarkan hati saya, sebuah lubang bekas peluru di kaca jendela kampus yang sengaja dibiarkan mempertahankan bukti aslinya.

Kaca kampus itu ditembus oleh peluru yang ditembakkan dari senapan yang dibeli dengani uang rakyat, oleh aparat yang juga diupah dengan uang rakyat. Saya potret dengan angle yang kira-kira segaris dengan arah datangnya peluru yang diduga dilepaskan dari jalan layang di depan kampus Trisakti yang berjarak sekitar 200-300 meter.

Peluru itu tak hanya menembus kaca, empat mahasiswa: Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, dan Hendriawan Sie, roboh oleh terjangan timah panas di titik-titik yang saat ini juga sudah diberi penanda. Di setiap 12 Mei, pada titik-titik ini diletakkan karangan bunga sebagai bentuk penghormatan.

Masih lekat dalam ingatan, di mana peluru-peluru itu tak ‘hanya’ menembus raga mahasiswa dan kaca jendela kampus Trisakti, tapi juga menembus hati dan perasaan rakyat di banyak wilayah, terutama mahasiswa. Tragedi Trisakti menjadi salah satu pemantik terbesar Reformasi 1998. Kemarahan menyebar ke berbagai kota. Kampus-kampus yang sebelumnya bergerak sendiri mulai menyatu dalam gelombang demonstrasi nasional. Jakarta dipenuhi mahasiswa yang datang membawa spanduk, pengeras suara, dan tuntutan yang sama: reformasi dan mundurnya Suharto. Sembilan hari setelah tragedi itu, rezim Orde Baru akhirnya runtuh.

Namun itu belum akhirnya, perjuangan setelahnya ternyata jauh lebih panjang dibanding menjatuhkan penguasa. Hingga hari ini, berbagai aksi masih dilakukan untuk menuntut penyelesaian Tragedi Trisakti, Semanggi, dan pelanggaran HAM berat lain belum menemukan titik terang. Salah satu yang paling konsisten adalah Aksi Kamisan, di mana payung-payung hitam berdiri hampir setiap pekan di depan Istana Negara sebagai pengingat bahwa ada luka sejarah yang belum selesai dijawab negara. Lubang di kaca yang sengaja dipelihara seharusnya menjadi pengingat bagi generasi yang mengalami kejadian 98, sekaligus petunjuk bagi generasi setelahnya, bahwa demokrasi Indonesia pernah dibayar dengan darah mahasiswa.

Dulu, darah saya mendidih mendengar jatuhnya korban jiwa dalam tragedi ini. Tetapi memasuki museum ini, darah saya kembali mendidih untuk kedua kalinya. Sebab waktu yang telah berjalan begitu jauh, membawa sebagian nama yang dulu diduga berada dalam lingkar tanggung jawab kini justru duduk sebagai penyelenggara negara. Memang tidak ada putusan pengadilan yang secara resmi menyatakan pihak-pihak yang bersalah. Namun di sisi lain, tidak pernah pula ada penjelasan yang benar-benar terang yang membuat publik bisa merasa bahwa semuanya sudah selesai.

Negara dan kita semua masih berhutang pada mereka yang gugur memperjuangkan perubahan. Bagaimana kita membayarnya?

Pada saat memilih pemimpin, gunakan semua sumber daya, untuk mencari tahu rekam jejak calon sampai sedetail mungkin. Jangan terlalu mudah tergiring branding saat kampanye, ingat mereka bayar mahal konsultan branding, untuk memoles personanya.

Dan sebuah langkah kecil, menyuarakannya terus menerus menjadi penting untuk merawat ingatan dan upaya pengaburan sejarah. Jangan berhenti melawan penyangkalan dan bicara kebenaran!

📍Museum Tragedi 12 Mei 1998 Universitas Trisakti 
Universitas Trisakti
Jl. Letjen S. Parman No. 1, Grogol, Jakarta Barat

Leave a Comment