Memilih Wanita Berkarakter Kuat Jadi Pendamping, Sudah Siapkah Dirimu?

Pernah ngga kamu mengenal laki-laki yang lebih sering tertarik pada perempuan mandiri? Perempuan yang punya pendidikan dan pekerjaan bagus, lugas berpendapat, tegas mengambil keputusan, tidak gampang panik ketika menghadapi masalah, dan bahkan mungkin cukup keras kepala untuk mempertahankan apa yang menurutnya benar.

Laki-laki seperti ini biasanya memang terlihat mengagumi perempuan kuat. Ia senang punya pasangan yang bisa diajak berpikir, berdiskusi, bahkan dengan yakin memilih berjalan berdampingan sebagai pasangan hidup. Sampai tiba pada sebuah plot twist yang membuat semua yang melihat mengernyitkan kening.

Ketika berselingkuh, perempuan yang dipilihnya justru yang 180 derajat berbeda. Manja, clingy, banyak menuntut kehadiran dan perhatian dan selalu mencari reassurance. Kontradiksi ini membuat kita bertanya-tanya, kalau memang dari awal ia tertarik pada perempuan yang manja, mengapa harus berurusan sama perempuan kuat dan mandiri?

Penjelasannya bisa sangat beragam, dengan berbagai kemungkinan, tidak sesederhana “ternyata dia lebih suka/cocoknya perempuan manja”. Berangkat dari pengalaman pribadi yang pernah menemukan salah kasus seperti di atas, saya coba jabarkan salah satu kemungkinannya.

Mencari Akar Persoalan

Pada saat perselingkuhan terjadi, meski tidak selalu, besar kemungkinan dimulai dengan adanya konflik-konflik dalam pernikahan, yang apabila ditelusuri, akar permasalahannya bisa jadi tidak seluruhnya berada di saat hubungan sedang dijalani. Sebagian pola tentang laki-laki, perempuan, kekuasaan, kedekatan, dan ketergantungan sudah terbentuk jauh sebelumnya, terutama melalui keluarga tempat seseorang tumbuh.

Dalam contoh kasus yang saya amati ini, seorang laki-laki tumbuh dengan ayah yang kaku dan keras, tidak cukup kompeten menjalankan fungsi sebagai ayah dan punya riwayat infidelity (ketidaksetiaan). Di sisi lain, ibunya adalah perempuan pekerja, berpendidikan cukup, mandiri secara ekonomi, tetapi karena norma gender generasinya tetap banyak diam dan berada pada posisi mengalah pada suami.

Anak yang tumbuh dalam konfigurasi semacam ini bisa menerima dua pesan yang berjalan bersamaan. Ia melihat bahwa perempuan ternyata mampu, produktif, dan mandiri dalam kehidupan nyata. Namun pada saat yang sama, ia juga melihat bahwa laki-laki meski tak kompeten, tetap menempati posisi yang lebih tinggi dalam hubungan perkawinan.

Pesan ini tidak perlu disampaikan secara eksplisit, anak belajar dari pola yang ia lihat berulang kali. Cara ayah memperlakukan ibu, cara ibu merespons ayah, siapa yang mengambil keputusan, siapa yang mengalah, dan siapa yang memiliki otoritas semuanya dapat menjadi bagian dari “kurikulum” relasional yang diam-diam dibawa hingga dewasa.

Hasilnya, bukan sesuatu yang mustahil apabila seorang laki-laki benar-benar mengagumi perempuan mandiri, tetapi sekaligus membawa keyakinan yang lebih dalam bahwa seorang laki-laki seharusnya tetap memiliki posisi dominan dalam hubungan. Menyukai perempuan kuat tidak selalu berarti siap menjadi partner yang setara.

Pada tahap awal hubungan, perempuan mandiri dapat terasa sangat menarik. Ia punya kehidupannya sendiri, tidak terlalu menuntut, mampu mengambil keputusan, dan menawarkan hubungan yang terasa seperti partnership antara dua orang dewasa. Kemandirian tersebut bahkan bisa menjadi bagian dari alasan mengapa laki-laki itu memilihnya.

Persoalannya mungkin baru muncul ketika hubungan memasuki tahap yang lebih serius. Hubungan jangka panjang bukan lagi sekadar soal menemukan seseorang yang menarik. Ia menuntut kemampuan untuk berbagi keputusan, mengelola konflik, menunjukkan kerentanan, meminta bantuan, menerima kritik, dan bernegosiasi dengan seseorang yang mungkin sama kompetennya, atau bahkan lebih kompeten, dalam bidang tertentu.

Bagi laki-laki yang sejak kecil mengasosiasikan maskulinitas dengan otoritas, pengalaman tersebut dapat menjadi sesuatu yang tidak selalu nyaman. Bukan karena pasangannya melakukan kesalahan, melainkan karena keberadaan perempuan yang sama kuatnya memaksanya mendefinisikan kembali posisi dirinya sebagai laki-laki.

Jika selama ini maskulinitas terasa dekat dengan gagasan “saya yang memimpin” atau “saya yang paling dibutuhkan”, bagaimana rasanya ketika pasangan mampu menyelesaikan banyak hal tanpa bantuan kita? Pertanyaan semacam itu mungkin tidak pernah muncul ke permukaan dalam bentuk yang jelas, tetapi dapat memengaruhi dinamika hubungan.

Faktor Eksternal yang Datang Kemudian

Muncul sosok perempuan yang clingy dapat memberikan pengalaman psikologis yang berbeda.

Ketika seseorang berkata, “Saya butuh kamu,” ia bukan hanya menyampaikan kebutuhan emosional. Dalam konteks tertentu, kalimat itu juga memberikan konfirmasi bahwa kehadiran kita penting. Bagi seseorang yang harga dirinya cukup bergantung pada penerimaan dan respons pasangan, pengalaman tersebut bisa menjadi sangat rewarding.

Penelitian mengenai relationship-contingent self-esteem menunjukkan bahwa pada sebagian orang, rasa berharga diri sangat sensitif terhadap apa yang terjadi dalam hubungan romantis. Dengan kata lain, merasa diterima atau ditolak oleh pasangan dapat ikut memengaruhi bagaimana seseorang menilai dirinya sendiri.

Penelitian lain yang mengamati pasangan selama beberapa minggu juga menunjukkan bahwa individu dengan self-esteem yang lebih rendah dapat lebih sensitif terhadap pengalaman merasa diterima atau ditolak oleh pasangan. Dalam konteks seperti ini, perempuan yang sangat bergantung dapat menawarkan sesuatu yang tidak selalu diberikan oleh pasangan mandiri: kepastian bahwa dirinya dibutuhkan.

Ia dapat merasa lebih kuat, lebih kompeten, lebih penting, bahkan lebih jelas mengenai perannya dalam hubungan tersebut. Posisi sebagai pelindung atau penyelamat juga menjadi lebih mudah dimainkan ketika pihak lain secara aktif menunjukkan ketergantungan.

Lapisan yang Makin Kompleks

Attachment theory memberikan lapisan penjelasan lain. Cara seseorang belajar mengenai kedekatan, keamanan emosional, ketergantungan, dan jarak sejak awal kehidupan dapat memengaruhi bagaimana ia menjalani hubungan romantis di kemudian hari.

Meta-analysis terhadap 17 studi dengan total 13.666 partisipan menemukan adanya hubungan antara attachment anxiety maupun attachment avoidance dengan infidelity (ketidaksetiaan).

Temuan tersebut tentu saja tidak berarti bahwa seseorang dengan attachment insecurity pasti akan berselingkuh. Perselingkuhan merupakan perilaku kompleks yang juga dipengaruhi komitmen, kepuasan hubungan, nilai pribadi, kesempatan, dan berbagai faktor lainnya.

Yang menarik adalah kemungkinan adanya konflik antara dua kebutuhan: ingin dekat dengan pasangan, tetapi sekaligus ingin mempertahankan rasa aman melalui kontrol, jarak, atau posisi yang lebih dibutuhkan.

Dalam kondisi tertentu, perselingkuhan kemudian dapat menjadi semacam “sistem dua kanal”. Hubungan utama menyediakan partnership, stabilitas, dan pasangan yang dikagumi, sementara hubungan di luar menyediakan validasi, rasa dibutuhkan atau pengalaman menjadi pihak yang lebih dominan.

Tentu saja, ini bukan pembenaran terhadap perselingkuhan. Ini hanya mencoba menjelaskan mengapa pilihan pasangan dalam affair kadang justru terlihat sangat berbeda dari pasangan utama.

Pelajaran Apa Yang Bisa Dipetik?

Sekadar menyimpulkan bahwa laki-laki dengan latar belakang seperti uraian di atas “ternyata lebih cocok dengan perempuan lemah” tentu saja bisa misleading.

Bisa jadi ia memang menyukai perempuan kuat, tetapi belum tentu memiliki kapasitas emosional untuk merasa aman di dalam hubungan yang sepenuhnya setara.

Perempuan mandiri sebenarnya tidak identik dengan perempuan yang tidak membutuhkan pasangan. Ada perbedaan besar antara seseorang yang tidak mau bergantung kepada siapa pun dan seseorang yang mampu berdiri sendiri tetapi tetap memilih untuk berbagi hidup dengan orang lain.

Self-determination theory bahkan menempatkan autonomy dan relatedness sebagai kebutuhan psikologis yang dapat berjalan bersama. Kemandirian tidak harus menghilangkan kedekatan, sebagaimana kebutuhan akan pasangan tidak harus berarti kehilangan otonomi.

Maka, perempuan yang paling sehat secara relasional bukanlah perempuan yang dibuat kecil agar laki-laki merasa besar. Ia justru bisa menjadi perempuan yang kuat, mandiri, kompeten, tetapi tetap mampu mengatakan, “Saya bisa mengurus ini sendiri, tetapi kali ini saya ingin kamu ada di samping saya.”

Dan seorang pria yang sehat secara relasional, cukup aman dengan dirinya sendiri, hingga kalimat ini tidak akan mengancam maskulinitas. Justru di situlah interdependensi yang sehat terbentuk.Karena pada akhirnya, ada perbedaan psikologis yang sangat besar antara dibutuhkan dan dipilih.

Bagi sebagian laki-laki, pekerjaan psikologis yang paling sulit dalam sebuah relasi adalah belajar bahwa menjadi laki-laki tidak harus berarti menjadi orang yang paling kuat, paling tahu, atau paling dibutuhkan di dalam ruangan. Kedewasaan dalam hubungan bisa dibangun melalui kemampuan merasa berharga ketika perempuan sebenarnya mampu hidup tanpa kita, tetap memutuskan untuk berjalan bersama kita.

Di sisi lain, kedewasaan perempuan dalam relasi bukan berarti harus mengecilkan diri agar laki-laki merasa kuat, terus-menerus mengalah agar hubungan tetap utuh, atau membuat dirinya selalu dibutuhkan.

Secara psikologis, kontribusi yang tidak kalah penting justru adalah kemampuan untuk tetap memiliki otonomi sekaligus membangun interdependence: mampu mengatakan apa yang dibutuhkan tanpa menuntut pasangan membaca pikirannya, memberikan ruang tanpa menciptakan jarak emosional, serta menerima dukungan tanpa kehilangan rasa mampu atas dirinya sendiri.

Dalam perspektif Islam, prinsip ini bahkan menemukan bahasa yang sangat indah dalam konsep sakinah, mawaddah, dan rahmah: pernikahan bukan tempat dua orang saling meniadakan diri, melainkan tempat dua manusia menemukan ketenteraman, menumbuhkan kasih, dan saling memperlakukan dengan rahmat. Al-Qur’an juga menyebut bahwa perempuan memiliki hak yang seimbang dengan kewajibannya dalam ma’ruf, yang mengingatkan bahwa membangun rumah tangga adalah tanggung jawab relasional, bukan beban psikologis salah satu pihak saja.

Kedua pihak sebaiknya mengerjakan PR masing-masing, lalu bertemu pada titik yang sama, bentuk relasi yang lebih dewasa: dua orang yang mampu berdiri sendiri, tetapi memilih bersama untuk saling menopang.

Sumber literatur

  1. River, L. M., O’Reilly Treter, M., Rhoades, G. K., & Narayan, A. J. (2022). Parent–Child Relationship Quality in the Family of Origin and Later Romantic Relationship Functioning: A Systematic Review. Family Process, 61(1), 259–277.
  2. Knee, C. R., et al. (2008). Relationship-contingent self-esteem and the ups and downs of romantic relationships. Journal of Personality and Social Psychology, 95(3), 608–627.
  3. Murray, S. L., Griffin, D. W., Rose, P., & Bellavia, G. (2006). For better or worse? Self-esteem and the contingencies of acceptance in marriage. Personality and Social Psychology Bulletin, 32(7), 866–880.
  4. Ghiasi, N., et al. (2024). The interplay of attachment styles and marital infidelity: A systematic review and meta-analysis. Heliyon, 10(1), e23261.
  5. Bowlby, J. (1969/1982). Attachment and Loss: Vol. 1. Attachment. Basic Books.
  6. Ryan, R. M., & Deci, E. L. (2017). Self-Determination Theory: Basic Psychological Needs in Motivation, Development, and Wellness. Guilford Press.
  7. Arican-Dinc & Gable (2023), Responsiveness in romantic partners’ interactions. Pubmed. 
  8. Cutrona & Russell (2017), Autonomy promotion, responsiveness, and emotion regulation promote effective social support in times of stress. Pubmed. 
  9. Knee et al. (2013), Self-Determination Theory and Romantic Relationship Processes. Pubmed. 
  10. Al-Qur’an, QS. Ar-Rum 30:21.
  11. Al-Qur’an, QS. Al-Baqarah 2:228.

Leave a Comment