Minggu pagi di Jalan Lautze terasa berbeda dari gambaran Jakarta biasanya. Deretan ruko yang berderet di sisi jalan tertutup rapat, suasana tenang, kendaraan melintas sesekali, dan nampak satu dua kerumunan di spot kuliner yang menyediakan menu sarapan pagi. Tak banyak pejalan kaki, berbeda dengan saya yang memang berjalan santai menelusuri kawasan ini, langkah mereka lebih cepat, karena meski matahari belum lama naik, tetapi panasnya sudah mulai terasa menyengat kulit.

Di tengah suasana yang tenang itulah sebuah bangunan menyita perhatian. Di salah satu sisi jalan berdiri Masjid Lautze, tampilannya lebih menyerupai ruko-ruko di kanan kirinya, warnanya lebih menyerupai kelenteng daripada masjid. Tidak ada kubah maupun ornamen lain yang jamak ditemui di tempat ibadah umat Islam. Namun di balik tampilannya yang berbeda, bangunan itu telah menjadi saksi perjalanan ribuan orang dalam menemukan ruang perjumpaan antara identitas Tionghoa dan Islam.

Nama masjid diambil nama sebuah ruas jalan di mana masjid ini berdiri. Yang namanya sendiri menyimpan lapisan jejak sejarah perubahan jaman. Jauh sebelum masjid ini berdiri, jalan Lautze dikenal dengan nama Chinese Kerkweg pada masa kolonial Belanda, secara harfiah dapat diterjemahkan sebagai “Jalan Gereja Tionghoa” atau “Jalan Klenteng Tionghoa”. Penamaan ini sepertinya mengacu pada banyaknya kelenteng sekaligus menunjukkan bahwa kawasan ini sejak lama merupakan bagian dari lingkungan komunitas Tionghoa di Batavia.


Berdasarkan arsip surat kabar Java-bode edisi 17 Oktober 1950, nama itu kemudian diubah menjadi Jalan Lautze sebagai bagian dari program penggantian nama jalan pascakemerdekaan. Siapa dan apa hebatnya Lautze serta bagaimana mekanisme penentuan perubahan nama jalan tersebut tidak diketahui secara jelas catatannya.
Masjid Lautze bermula dari sebuah ruko sederhana yang disewa oleh Yayasan Haji Abdul Karim Oei pada tahun 1991. Yayasan ini didirikan untuk melanjutkan gagasan Abdul Karim Oei atau Oei Tjeng Hien, tokoh Muslim Tionghoa yang sejak mualaf di tahun 1930an dikenal aktif membangun jembatan antara komunitas Tionghoa dan masyarakat Muslim Indonesia.

Pemilihan lokasi di kawasan Pecinan bukanlah kebetulan, ketika Yayasan Haji Abdul Karim Oei memilih mendirikan masjid di Jalan Lautze pada tahun 1991, mereka sebenarnya sedang menempatkan sebuah pusat dakwah Islam Tionghoa di lokasi yang selama berabad-abad telah menjadi bagian dari kehidupan komunitas Tionghoa Jakarta.
Pengurus yayasan ingin menghadirkan ruang yang terasa akrab. Setelah diperluas, pada tahun 1994 bangunan ruko ini diresmikan menjadi sebuah masjid oleh B.J. Habibie yang saat itu dalam kapasitas sebagai Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI).
Tampilan bangunan yang mengadopsi unsur-unsur Tionghoa yang kuat juga bukan sekedar alasan estetika, melainkan sebuah pernyataan bahwa seorang Tionghoa dapat memeluk Islam tanpa harus melepaskan akar kebudayaannya.
Itulah yang kemudian membuat Masjid Lautze dikenal luas. Selama lebih dari tiga dekade, masjid ini menjadi tempat konsultasi, pembinaan, hingga pendampingan bagi para mualaf, khususnya dari kalangan Tionghoa. Berbagai sumber mencatat bahwa lebih dari dua ribu orang telah mengucapkan syahadat melalui pembinaan yang dilakukan di masjid ini.
Di tengah Jakarta yang terus berubah, Masjid Lautze tak sekedar menjadi tempat ibadah dan konversi keyakinan. Ia juga menjadi penanda bagaimana dua budaya bertaut, membentuk satu budaya baru yang ikut memperkaya keragaman budaya Jakarta sebagai melting pot, tempat bertemunya berbagai macam orang dari berbagai macam latar budaya.
📍Masjid Lautze
Jl. Lautze No.87-89
Karang Anyar, Sawah Besar
Jakarta Pusat